Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
dua puluh empat


__ADS_3

Ayudia tidak langsung menemui Benedict di ruangan Rama, karena begitu ia keluar dan hendak menuju tangga, tiba-tiba salah satu rekannya meminta bantuannya.


Hingga hampir satu jam lamanya, Ayudia tak kunjung menemui Benedict, hal itu membuat lelaki itu semakin uring-uringan.


"Kenapa sih Lo? Dari tadi mondar-mandir Mulu," tanya Rama heran.


"Ram, coba Lo suruh Ayu kesini, sebelum kesabaran gue abis dan cafe bakal gue acak-acak,"jawab Benedict makin kesal.


Tentu saja sebagai sahabat yang sudah mengerti betul watak lelaki ini, Rama hanya menuruti kemauan Benedict.


Rama keluar dari ruangannya hendak mencari keberadaan calon istri sahabatnya itu.


Terlihat Ayudia yang baru saja selesai membersihkan meja, Rama menghampirinya, dan berbicara pelan pada gadis itu, Ayudia menepuk dahinya, ia lupa, sambil nyengir ia meminta maaf pada Rama.


"Ayu, tolong tenangkan beruang di ruangan gue, lagi ngambek tuh,"ucap Rama pelan.


Agar rekannya tidak curiga, ia memesankan Americano dan sepotong cheesecake untuk dibawanya ke ruangan Rama, sedangkan laki-laki itu memilih duduk di balkon yang ada dilantai dua.


Ayudia mengetuk pintu terlebih dahulu, pintu terbuka dari dalam, sebenarnya gadis itu heran namun tetap masuk, ia mengedarkan pandangannya namun tak menemukan dimana lelaki yang mencarinya tadi.


Sampai suara pintu tertutup dan dikunci, membuat Ayudia membalikan badannya, dibelakang pintu, ada Benedict dengan tatapan sulit diartikan.


"Maaf mas, Ayu lupa nyamperin kamu kesini, soalnya tadi dibawah rame, jadi Ayu bantu-bantu dulu, ini Ayu bawain kopi sama cheesecake buat kamu," ucapnya tersenyum.


Benedict meraih nampan, dan meletakkannya di meja didepan sofa, ia memeluk gadisnya erat, lalu ia memegang tengkuk dan langsung mencium lembut bibir gadis yang akan menjadi pendampingnya kelak.


Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi lebih dalam dan menuntut, Benedict seolah akan memakan bibir gadis itu, ciuman kali ini benar-benar brutal, bahkan Ayudia sampai terdorong hingga jatuh ke sofa,


Ayudia masih bingung dengan apa yang diperbuat laki-laki itu, tanpa aba-aba, Benedict menidurkan gadisnya dan segera menindih sambil terus ******* bibir gadisnya rakus.

__ADS_1


Benedict bahkan menciumi telinga dan leher kekasihnya, hingga tangan besar lelaki itu masuk kedalam kemeja gadis dibawahnya.


Seakan ada tanda sinyal bahaya di kepalanya, Ayudia mendorong kuat lelaki diatasnya, ia duduk terengah-engah.


Benedict bangkit dan berjalan menuju kulkas mini berisi botol air mineral dan beberapa kaleng bir.


Ia memberikan botol air mineral itu setelah sebelumnya membukakan tutupnya yang masih tersegel, sedangkan dirinya meminum bir kalengan itu.


Setelah menghabiskan hampir setengah botol air mineral itu, Ayudia menghela nafas, "mas Ben apa-apaan sih? Brutal banget tau nggak? Lagian ini masih jam kerja Ayu ngapain pake acara dicium segala, jadi bengkak nih bibir Ayu,"ujarnya kesal dan menunjukan bibirnya yang sedikit membengkak.


Benedict hanya melirik sekilas, ia diam tak memberikan tanggapan apapun.


Tentu saja hal itu membuat Ayudia semakin kesal, "ya udah kalau mas Ben cuekin Ayu, mendingan Ayu kerja aja,"ujarnya sambil menghabiskan sisa air dalam botol dan setelannya ia berdiri.


Benedict yang melihat gadisnya berdiri, langsung menariknya hingga gadis itu terduduk dipangkunya.


Tentu Saja Ayudia berontak, "awas mas, Ayu mau keluar aja, kamu kan diemin Ayu,"


Ayudia terus berontak, "kalau kamu terus berontak, jangan salahkan aku, kalau sampai aku ngelakuin hal itu disini,"ucap lelaki itu tegas.


Tentu saja Ayudia tau maksud ucapanĀ  lelaki itu, ia langsung terdiam kaku, setelah memastikan gadisnya tenang, Benedict menghabiskan sisa bir di kaleng yang dimeja, tidak semuanya ia telan, ia menyimpannya di mulutnya dan langsung mencium kembali gadisnya sambil memasukkan sisa bir tadi kedalam mulut gadis di pangkuannya.


Selesai mencium gadisnya, Benedict mengelap sudut bibir gadisnya yang sedikit membengkak lalu mengecupnya singkat.


"Kamu kenapa sih mas? Aku jadi takut sama kamu," ucapnya lirih tak berani menatap mata lelaki itu.


Benedict mengangkat dagu gadisnya dengan jari telunjuknya dan menatapnya dalam, "aku cuman kasih tau kamu, kalau kamu itu cuman milik aku, dan nggak akan aku biarkan kamu pergi lagi dari sisi aku,"


Ayudia mengernyit bingung, mencerna apa maksud dari kata-kata yang diucapkan lelaki itu, namun sepertinya ia tak paham maksudnya.

__ADS_1


Benedict tau jika gadisnya bingung namun ia tak mempedulikannya, ia malas menjelaskan maksud dari kata-katanya tadi.


"Jadi siapa laki-laki yang tadi kamu temui hingga satu jam lamanya, bahkan sampai kamu cium tangannya dan dia elus kepala kamu?"tanya Benedict pada akhirnya, ia penasaran, sedangkan gadisnya tak kunjung bercerita.


"Oh yang tadi kesayangan Ayu dong, laki-laki terbaik setelah bapak Ayu,"jawabnya dengan senyum sumringah.


"Apa dia cinta pertama kamu?"Tanyanya kesal, ia cemburu mendengarnya.


"Cinta pertama seorang anak perempuan kan bapaknya, jadi mas Samsul itu bisa dibilang cinta ke dua Ayu, idola Ayu, suami idaman Ayu,"jawabnya polos.


Benedict melotot kaget bahkan ia bangkit berdiri dan membuat Ayu jatuh terduduk di atas carpet, gadis itu mengaduh, namun lelaki itu tak mempedulikannya, bahkan sekarang ia berkacak pinggang dan menatap gadisnya tajam, "Apa maksud kata-kata kamu?" Bentaknya marah.


Ayudia bangkit berdiri dan menatap tak kalah tajam lelaki tinggi di hadapannya, "kamu kasar banget si? Jadi ini aslinya kamu, kasar dan seenaknya? Aku jadi mikir dua kali buat nikah sama kamu," ujarnya berlalu menuju pintu keluar ruangan itu.


Benedict mengejar dan menahan tangan gadisnya, "kok jadi kamu yang marah? Harusnya aku yang marah karena kamu jalan sama laki-laki lain, kamu nggak menghargai aku? Dan aku nggak akan lepaskan kamu sampai kapanpun, meskipun kamu memaksa, aku nggak peduli, kamu harus jadi milik aku apapun caranya,"ucapnya tegas penuh penekanan.


Ayudia menatap lelaki itu tak kalah tajam, sebagai seorang perempuan yang sudah mengalami kerasnya hidup sejak kepergian ibunya disusul bapaknya, membuat Ayudia tumbuh menjadi gadis yang keras kepala, "aku milik diriku sendiri, jangan harap kamu bisa miliki aku sepenuhnya, dengan sifat kamu yang kasar seperti ini, aku batalin rencana pernikahan kita, lepas aku mau keluar," teriaknya.


Benedict berusaha menahan amarahnya, ia menghela nafas berkali-kali, ia masih terus berusaha menahan amarahnya, ia tidak ingin menyakiti gadis yang ia cintai, setelah amarahnya sedikit mereda, ia memeluk gadisnya dan membisikan kata-kata maaf berkali-kali.


Ayudia yang memang dasarnya keras kepala tidak terpengaruh dengan kata maaf yang di bisikan laki-laki itu, ia hanya diam mematung, tak melakukan apapun, hal itu membuat Benedict semakin panik.


"Ay, please maafin aku, aku janji nggak akan berbuat kasar lagi, please tarik kata-kata kamu buat batalin pernikahan kita, aku nggak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya, itu membuat aku tersiksa,"mohonnya


Benedict sendiri bingung dengan dirinya sendiri, segitu hebat kah seorang Ayudia, gadis biasa, satu-satunya yang membuatnya menangis karena takut kehilangan gadis itu, sungguh logikanya telah tumpul.


"Lepaskan Aku, aku mau kerja, udah terlalu lama, aku disini, nggak enak sama yang lain,"ucap Ayudia dingin.


"Ay, please maafin aku,"ujar lelaki itu memohon.

__ADS_1


Pelukan itu terlepas, Ayudia segera meninggalkan Benedict dan keluar dari ruangan itu.


Gadis itu memperbaiki penampilannya di toilet disamping ruangan Rama, ia turun ke bawah dan mulai bekerja, seperti tak terjadi apapun.


__ADS_2