
Semalam dilewati dengan permainan yang panas, sepertinya Benedict benar-benar ingin menghabisi istrinya hingga hampir pagi, lelaki itu baru berhenti.
Beberapa jam berlalu, Diluar sudah terang benderang, namun suami istri yang baru bertemu setelah berbulan-bulan berpisah itu masih bergelung dibawah selimut tebal berwarna navy itu.
Benedict membuka mata terlebih dahulu, ia tersenyum melihat disampingnya ada perempuan yang ia cintai dan rindukan, ini benar-benar nyata, ia sedang tidak bermimpi.
Selama berbulan-bulan ia benar-benar secara maraton menyelesaikan pekerjaannya, ia juga mengajari George dengan keras, ia tidak peduli, ia ingin menikmati hari-harinya dengan istrinya secepat mungkin.
Setelah memastikan pekerjaannya bisa di tinggal satu sampai dua bulan kedepannya, ia memutuskan untuk menemui istrinya, namun ia harus terlebih dahulu mampir ke salah satu negara timur tengah, dari sana ia langsung terbang ke negara kelahiran istrinya.
Benedict bangkit memakai celana bokser nya, ia butuh mandi saat ini.
Ia teringat harus mengumpulkan para sahabatnya untuk membahas sesuatu, namun sepertinya ia tidak bisa keluar terlalu lama, ia tidak ingin meninggalkan istrinya yang sedang tidur, sepertinya wanita itu kelelahan akibat ulahnya.
Rama, Alex dan Oscar telah menunggunya di lobby apartemen sesuai perintah big bos mereka.
"Cerah banget tuh muka bro? Abis dapet jatah nih,"goda Alex ketika Benedict menghampirinya dengan penampilan kontras dengan ketiganya.
Benedict hanya mengenakan kaos oblong warna putih polos dan celana pendek berwarna hitam, tak lupa sendal jepit yang menjadi alas kakinya.
Sedangkan ketiga sahabatnya mengenakan setelan formal namun hanya Alex yang mengenakan Jas dan dasi.
"Tumben bro nyuruh kita ngumpul disini, biasanya juga di cafe?" Ucap Rama.
Benedict meminum kopi yang dibawakan oleh Rama, "gue minta awasi perusahaan yang dikelola Arnold, suruh orang buat awasi pergerakan Lusi, gue nggak mau itu cewek ular nemuin bini gue, terutama elo Rama, tapi untuk sementara aman sih, karena gue berencana buat tinggal disini dua bulan,"
Ucapnya.
"Terus kenapa Lo nyuruh gue ikut ngumpul juga? Gue Sampai batalin rapat," ujar Oscar.
Benedict menatap sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter, "Gue belum selesai ngomong, buat elo, gue mau tanya, gimana caranya biar Ayu cepat hamil?"
__ADS_1
"Lah bukannya Lo dulu banget bilang penganut children free, kenapa Lo jadi berubah pikiran?"tanya Alex heran.
"Semalam Ayu cerita, katanya dia ada niat mau jadi TKW, itu artinya dia bakal ninggalin gue kan?"ujar Benedict berprasangka.
"Yang jelas berhubungan badan rutin Ben dan coba nanti gue minta Asha kasih resep buat penyubur kandungan, tapi kalau memang niatnya Ayu mau pergi dari Lo, gue rasa diam-diam dia minum pil kontrasepsi, jadi sebisa mungkin Lo awasi Ayu, jangan sampai dia minum obat tanpa sepengetahuan lo,"ucap Oscar.
"Oke, dan Alex, bisa tolong bikinin paspor sama Visa sekalian buat Ayu, dua bulan lagi mau gue bawa ke Amrik,"ucap Benedict lagi dan diangguki oleh Alex.
"Ram, bisa Lo cariin tempat kos di Deket kampus Anin nggak? Kalo udah Nemu, tolong dibeli, terus harus kos khusus putri dengan peraturan ketat, pokoknya gue nggak mau Ayu kepikiran soal Anin, terus bisa Lo kasih donasi buat pesantren si kembar, pokoknya tolong fasilitas di sana dilengkapi dan yang utama Aman, pokoknya gue mau Ayu nggak kepikiran soal adik-adiknya,"
Rama mengangguk tanda menyetujui permintaan sahabat sekaligus bosnya.
"Dan satu lagi menurut kalian nih, kalau jet pribadi gue ditaruh disini satu, bakal ribet nggak? Cuman buat dua bulan doang,"tanya Benedict dengan wajah serius.
Senyum mengembang dari ketiga temannya, "serius Lo?"tanya ketiganya kompak.
"Semalam gue kaget sekaligus merasa ogeb banget, Lo tau istri dari seorang Benedict Johnson Wright belum pernah naik pesawat, terus gue buat apa kerja mati-matian kalau perempuan n yang paling gue cintai Bahkan nggak menikmati kekayaan gue, dia cuman pake apartemen doang, harga diri gue kayak nggak ada," ungkapnya.
Ketiganya tertawa terbahak-bahak bahkan sampai memegangi perut mereka, "diem Lo pada, malu tuh diliatin orang-orang," Benedict mengingatkan.
"Tadi gue udah bilang ke pilot gue suruh kesini, ya mungkin besok baru sampai, gue mau honeymoon sekitaran sini aja sih, Ayu kan belum ada paspor, ya udah cukup sekian dan terima kasih, balik sana Lo pada, gue mau cari makan dulu," ujarnya mengusir ketiga sahabatnya.
Sepeninggal sahabatnya, Benedict berjalan ke luar lingkungan apartemen untuk membeli makanan untuk istrinya.
Sekembalinya dari luar, Benedict mendapati istrinya masih tidur, lelaki itu memilih bergabung kembali dengan istrinya, namun sepertinya ia menginginkannya lagi, ketika melihat tubuh polos istrinya.
Benedict benar-benar melakukan keinginannya, meski istrinya tengah tertidur.
Ayudia merasa terganggu dengan sesuatu yang mengganjal di bagian bawah tubuhnya, ia berusaha membuka mata meskipun terasa berat, ia mendapati suaminya berada diatasnya.
Tubuh kekar itu berbalut peluh, ia tengah menggagahi istrinya, begitu bersemangat.
__ADS_1
Ayudia hanya bisa pasrah, namun tetap menikmati permainan panas mereka.
Sebuah lenguhan panjang menandai jika lelaki itu telah mencapai puncaknya,ia mencium kening istrinya, dan membisikan kata-kata indah ke telinga istrinya.
Lelaki itu mengangkat istrinya, menuju kamar mandi, ia berniat untuk memandikannya.
Usai melakukan ritual mandi plus-plus, Benedict menggendong istrinya yang hanya berbalut baju mandi menuju sofa, "Kamu beli makan dimana?"tanya Ayu saat keduanya sudah duduk di sofa dengan makanan yang sudah tersedia di meja.
"Diluar tadi sebelum kamu bangun,"jawabnya.
Ayudia mulai menyuapi suaminya dengan nasi, ayam bakar dan sambal tak lupa lalapan.
"Aku heran sama kamu, nama bule banget, badan gede kayak bule tapi wajah sama makanan kok Indonesia banget,"ujar Ayu heran disela dirinya makan.
"Ya kan masa remaja aku dihabiskan disini, jadi aku pemakan segala kok,"
"Kalau kamu lagi di Amrik, kamu makan apaan terus ada yang nyiapin kah?"
"Ada sih yang nyiapin, assiten sekaligus sekertaris atau pelayan dari rumah uncle, atau kalau ada pertemuan sama rekan bisnis baru makan di restoran,"
"Aku jadi ingat kalau Anin lagi nonton Drakor, kadang aku suka nimbrung, ada tuh CEO pinter masak, keren banget kayaknya,"
"Aku juga bisa masak kok,"
"Apaan coba?"
"Ceplok telor sama goreng sosis, manggang aku juga bisa,"
"Wah suamiku ternyata sempurna ya, udah ganteng, kaya, pinter masak, duh jadi makin cinta deh,"
Mendengar pujian dari istrinya wajah Benedict merona, mendadak ia jadi salah tingkah, "ih, mas Ben blusing,"Ayu tertawa cukup keras.
__ADS_1
"Apaan sih kamu? Aku malu,"ujar Benedict menutupi wajahnya.
Keduanya menghabiskan makanan, rencananya seharian ini mereka hanya di rumah saja, sebab tadi Ayudia mengeluh pinggangnya pegal.