Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
enam puluh empat


__ADS_3

Walau sudah mendengarkan penjelasan suaminya, sikap Ayudia masih dingin, hanya saat keduanya berada di atas ranjang, sikapnya sedikit berubah.


Wanita hamil itu memang berniat sekali untuk melahirkannya secara normal, setiap ada kesempatan ia bahkan tak malu untuk meminta hal itu pada suaminya.


Sudah dua hari ini Ayudia tinggal bersama suaminya, meskipun ia bisa bebas melakukan apapun di rumah itu, namun suaminya menempeli kemanapun ia pergi.


Tidak Seperti pagi ini, saat Nando mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi rumah, Benedict hanya mengawasinya dari atas balkon lantai dua,


Kegiatan pagi hari yang selalu dilakukan Nando dan Ayudia  sejak kembalinya ibu hamil itu ke ibukota.


Meskipun sudah ada Benedict disampingnya, namun sudah dua hari ini, Ayudia selalu meminta Nando untuk menemaninya berjalan-jalan di pagi hari, sekedar menghirup udara segar atau bercerita soal hal remeh temeh.


"Ayu, entar kalau anak Lo lahir kayaknya bakalan lebih Deket sama gue dibanding bapaknya sendiri deh,"celetuk Nando mengingat ucapannya tempo hari.


Ayudia tersenyum, "mungkin aja A, tapi Ayu nyaman aja Deket sama aa, bawaan bayi mungkin,"ucapnya.


"Nggak apa-apa kalau nantinya anak-anak Lo lebih Deket sama gue, asal jangan emaknya, bisa di abisin gue sama laki Lo, tuh liat laki Lo dari tadi melototi gue Mulu,"ujarnya sambil melirik ke atas balkon lantai dua.


Ayudia melirik suaminya yang tengah bertelanjang dada, hal yang sering dilakukan laki-laki itu di pagi hari, katanya ia ingin selalu terlihat memiliki kulit eksotis.


"Terus gimana yu, selama dua hari Lo balik ke laki lo?"tanya Nando penasaran.


"Ya nggak gimana-gimana a? Memang harusnya gimana?"tanya Ayudia balik.


"Apa setelah melahirkan, Lo tetap akan berpisah dari dia?"


"Belum tau a, jalanin dulu aja,"


"Apa kurangnya Ben? Dia ganteng, kayanya nggak ketulungan, royal juga dan yang terutama, dia cinta banget sama Lo, kapan lagi kan Lo dapet pasangan kayak gitu, misal nih ya, kalau Lo pisah sama Ben, terus suatu saat Lo menjalin hubungan sama lelaki lain, belum tentu Lo dapet laki yang mencintai Lo sebesar cinta yang dikasih sama Ben, lebih baik dicintai Ayu,"ujar Nando menasehati wanita hamil itu.


Ayudia terdiam, mungkin sedang berfikir, ia menghela nafas,


Seperti memahami kegelisahan istri dari sahabatnya, Nando menepuk pundak itu, "misal suatu saat Ben khianati Lo lagi, setidaknya Lo harus memiliki kekayaan Ben dulu, ya mungkin setengahnya lah, itu buat hidup Lo dan anak-anak Lo kedepannya,"

__ADS_1


"Ayu, Lo harus realistis, Lo pernah kan ngerasain yang namanya kerja mati-matian tapi duitnya nggak seberapa, padahal Lo lagi butuh duit banyak, maka dari itu, gue saranin, kesampingkan ego Lo, kalau Ben nggak mau pisah sama Lo, Lo cukup minta ajuin perjanjian, jika nanti Ben macam-macam dimasa depan, separuh kekayaan Ben, harus jadi milik Lo sama anak-anak Lo,"


"Tapi A, emang boleh ya?"tanya wanita hamil itu.


"Bolehlah, Lo tinggal bilang ke Ben, nantinya Alex yang bakal melegalkan surat perjanjian itu, terus masalah aset Ben yang ada disini, Lo bisa tanya ke Rama, tapi setau gue, kekayaan Ben yang disini hanya sebagian kecil dari total kekayaannya, mungkin sekitar dua puluh lima persen lah, ya walau semua kekayaan itu masih atas nama kami sebagai pengelola disini, Lo tau kan kalau Ben WNA?"


Ayudia mengangguk, "terus kalau misal semua itu atas nama Ayu, Apa yang harus Ayu lakuin?"tanyanya bingung.


"Ya Lo tinggal ongkang-ongkang kaki terima hasil kerja keras orang lain, maksud gue, Lo jadi bos, Ayu,"


"Emang boleh ya a?"tanya Ayudia tak yakin.


"Ya bolehlah, Lo kan bini sahnya Ben lagi hamil anaknya pula,"jawab Nando yakin.


"Ayu pikirin deh A, kayaknya Ayu seumur-umur nggak kepikiran bakal jadi orang kaya deh, dulu Ayu cuman mikir, yang penting Adik-adik Ayu bisa makan dan sekolah yang tinggi, boro-boro mikir hal kayak sekarang,"


"Ingat kata-kata gue yu, Lo harus realistis demi masa depan anak-anak Lo, dan gue akan jadi pembela Lo apapun resikonya, karena Lo udah gue anggap kayak adik gue sendiri,"


"Makasih banyak A," Nando hanya mengangguk lalu melanjutkan berkeliling ke sekitar taman yang ada di rumah sahabatnya.


Benedict masih terus mengawasi istri dan sahabatnya dari atas, cemburu itu pasti, namun ia tak berdaya dengan permintaan istrinya, ingin rasanya ia mengirim Nando ke salah satu perusahaan di Afrika yang ia tanamkan investasi cukup besar sehingga ia sampai memiliki sahamnya lebih dari dua puluh lima persen.


Selain mengelola perusahaan kakeknya dan menjadi arsitek lepas, ia juga rajin berinvestasi atau sekedar menjalin kerjasama pada perusahaan besar dunia.


Maka dari itu kekayaannya selalu bertambah, walau ia tidak bekerja di perusahaan kakeknya.


Maka tak heran hanya dalam waktu sepuluh tahun, ia sudah memiliki kekayaan melimpah.


Namun ternyata semua kerja kerasnya selama sepuluh tak berarti apa-apa untuk wanita yang dicintainya, lalu untuk apa semua kerja kerasnya selama ini?


Sejak masih kuliah Benedict mulai mendesign bangunan, juga bermain di bursa saham yang ada di New York, ia juga membantu mengelola perusahaan kakeknya, karena itulah terkadang sehari ia hanya tidur selama dua hingga empat jam saja, benar-benar seorang penggila kerja.


Namun lagi-lagi hal itu tak membuat Ayudia mencintainya.

__ADS_1


Benedict menghela nafas, rasanya ingin menyerah saja, namun sisi hatinya yang lain melarangnya, bisikan itu meyakinkannya bahwa ia hanya harus bersabar untuk memiliki cinta seutuhnya dari wanita itu.


Setidaknya sekarang ini, Ayudia ada dalam jangkauannya, selama dua hari ini, berkali-kali ia melakukan hal intim bersama istrinya.


Memikirkannya saja, bisa membuatnya senyum-senyum sendiri.


Terlihat Nando melambaikan tangannya, memintanya untuk turun.


"Ada apaan do?"tanyanya setelah Benedict sampai dibawah.


"Gue mau balik Ben,"jawab Nando berdiri, "oh ya, kayaknya mulai besok gue nggak bisa datang kesini Yu, ada masalah di resort yang mau di bangun, barusan orang dari sana kirim pesan ke gue, ya udah gue balik ya,"pamitnya pada wanita hamil itu,


"Makasih A, hati-hati ya!"


Sepeninggal Nando, Benedict duduk disamping istrinya,


"Mas, bisa antar aku ke pasar?"


Benedict mengernyit, "apa ada yang ingin kamu beli, nanti aku bisa meminta maid berbelanja ke pasar,"


"Tapi aku pengen makan langsung di sana,"


"Apa yang ingin kamu makan?"


Ayudia berpikir, "banyak mas, pokoknya jalan aja, terus naik motor ya!"


"Hah... Tapi Ay, kamu lagi hamil besar, nggak aman kalau kita naik motor,"


"Tapi aku maunya naik motor,"


"Oke, tapi mandi dulu ya,"


Keduanya masuk kedalam rumah, saat akan mandi, Ayudia tiba-tiba meminta melakukan hal panas pada suaminya, bukan hanya di atas ranjang, namun juga di kamar mandi.

__ADS_1


Setelah lebih dari satu jam didalam kamar, akhirnya pasangan suami istri itu telah siap untuk pergi ke pasar.


Benedict mengenakan kaos polos abu dengan celana Chino panjang berwarna hitam, sedangkan Ayudia memakai baju hamil berwarna navy.


__ADS_2