
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah tiga tahun lebih, pasangan suami istri itu terpisah.
Saat dulu Ayudia tersadar, kalimat pertama yang wanita itu ucapkan adalah, "mas Ben dimana? Kok tadi Ayu kayak denger suaranya,"
Semua sahabatnya mencari keberadaan Benedict, namun tak kunjung ditemukan.
Hingga keesokan paginya, Alex kembali mendatangi Ayudia, dan memberikan amplop yang dititipkan Benedict padanya dua hari yang lalu.
Ayudia membuka amplop itu, yang pertama kali ia lihat adalah surat cerai dari suaminya, juga surat pengalihan seluruh aset milik lelaki itu.
Ibu dua anak itu tak banyak berkomentar, ia diam saja tak menanggapi, yang jelas Ayudia tidak mau mendatangi surat cerai itu.
Ayudia menjalani beberapa terapi untuk mengembalikan. Fungsi fisiknya ya hampir setahun hanya berada ditempat tidur.
Selang dua Minggu, kondisi Ayudia benar-benar sudah kembali normal, ia meminta mertuanya untuk mengantarkan ke rumah rahasia milik perempuan itu.
Ia mengajak serta kedua anaknya, ia ingin hidup di desa bersama anak-anak juga mertuanya, selain untuk benar-benar memulihkan kondisi fisik juga mentalnya,h
Semua Aset yang ditinggalkan ayah dari Anak-anaknya ia tinggalkan begitu saja, ada sahabat dari lelaki itu yang mengurusinya.
Ia tidak terlalu ikut campur soal aset-aset ayah dari anak-anaknya, hanya jika diperlukan untuk hal-hal mendesak saja.
Hanya sesekali, ia mengajak kedua buah hatinya menginap di rumah besar itu, rumah penuh kenangan saat dulu masih bersama lelaki itu.
Selama itu juga, Ayudia mengurus anak-anaknya bersama dengan Anna yang juga memutuskan untuk tinggal di desa itu.
Ainsley dan Aileen dididik layaknya orang biasa, tak ada bedanya dengan orang-orang desa pada umumnya.
Keduanya, bermain di sawah, berenang di sungai bersama anak-anak lainnya.
meskipun wajah dan perawakannya berbeda sekali dengan anak-anak di sana, mereka bisa berbaur dengan baik.
Teman-temannya sebayanya tidak ada yang tau, seberapa kayanya anak kembar itu, yang mereka tau Ainsley dan Aileen anak yang baik karena selalu membawakan kue yang enak-enak buatan bunda dan neneknya.
Pernah suatu ketika Aileen ditanya oleh teman sepermainannya saat keduanya bermain masak-masakan,
"Leen, kok aku nggak pernah lihat ayah kamu?"tanya Mila.
__ADS_1
"Kata bunda, ayah lagi kerja jadi TKI diluar negeri, kayak ayahnya Putri,"jawab Aileen polos.
"Wah pantesan uang bunda kamu banyak ya, soalnya kalau main kamu selalu bawain kami kue enak-enakan,"
"Ya iyalah bunda Aileen,"ucapnya jumawa.
Obrolan keduanya terdengar oleh Ayudia saat dirinya sedang memberi makan ikan di kolam, wanita itu hanya tertawa saat mendengar putrinya membanggakan dirinya.
Tak lama ada mobil memasuki halaman rumah sederhana itu, mobil yang sangat Ayudia kenali.
"Papa,"teriak Aileen melihat kedatangan Nando, hal itu menimbulkan pertanyaan dari Mila,
"Kata kamu, ayah kamu lagi kerja jadi TKI kok itu udah pulang,"tanya Mila heran.
"Itu sahabatnya Ayah aku, namanya Papa Nando, aku sayang banget sama papa Nando, papa suka ajak Aileen jalan-jalan sama dedek Rana," jawabnya sambil berlari ke arah Nando.
Bocah berkepang dua itu mencium tangan Nando dan meminta gendong padanya.
"Anak papa lagi ngapain?"tanya Nando.
"Aileen lagi main masak-masakan sama Mila, tuh Mila ada di sana," tunjuknya ke arah anak berambut sebahu tak jauh dari kolam ikan.
Ayudia menyajikan Teh dan kue untuk tamunya,
"Ainsley kemana yu?"tanya Nando.
"Lagi ikut ibu kondangan di kampung sebelah,"
Nando menatap istri dari sahabatnya "Yu, maksud kedatangan gue kesini, ada yang perlu gue omongin, kebetulan gue baru balik dari Amerika,"ucapnya to the poin.
Tak ada reaksi apapun dari Ayudia, wanita itu hanya diam mendengarkan.
"Gue ketemu uncle dan George, mereka nanyain Anak-anak, mereka juga meminta anak-anak datang kesana buat hadiri pernikahan George bulan depan,"
Ayudia menghela nafas, "emang harus ya A?"tanyanya.
"Kalau menurut gue sih wajib datang, karena mau bagaimanapun, uncle kan kakek dari anak-anak juga, George kan juga omnya mereka."saran Nando.
__ADS_1
"Nanti Ayu omongin sama ibu ya A,"
"Kasih tau kita-kita ya, kalau Lo mau berangkat, biar Rama sama Alex bantuin siapin semuanya,"
"Oh ya Yu, bukannya tahun ini anak-anak udah mau masuk SD ya, terus mereka mau sekolah dimana?"
"Belum lama ibu juga ngomongin hal ini, ibu nyaranin supaya Anak-anak sekolah di kota, yang fasilitasnya lebih bagus, karena mau bagaimanapun, Ainsley punya tanggung jawab besar di masa depan,"
"Jadi apa keputusan Lo?"
"Ayu belum bahas ini sama anak-anak, nanti coba Ayu omongin sama mereka,"
"Boleh gue tanya satu hal lagi?" Ayudia mengangguk tanda setuju.
"Apa Lo masih mengharapkan dia kembali? Bukankah secara agama harusnya kalian sudah bercerai?"
Ayudia menghela nafas, "tapi secara negara kami belum bercerai A, dan nggak akan pernah aku mau menandatangani surat itu, bagi aku, menikah seumur hidup itu sekali,"
"Apa ini alasan Lo, nggak kembali sama Dikta, padahal hingga sekarang kalian masih sendiri, apa Lo udah nggak cinta sama dia?"
"Kalau sisa Rasa pasti ada A, tapi untuk bersama, aku nggak mau, aku cuman ingin punya satu suami seumur hidup aku, bagiku sekarang sudah lebih dari cukup, aku hidup sama anak-anak juga ibu mertuaku,"
"Tapi hingga saat ini sahabat gue menghilang, dan nggak ada yang tau dia dimana? apa dia masih hidup atau mati, nggak ada yang tau, mungkin dia juga udah move on dari Lo, siapa yang tau kan,"
"Aku nggak peduli itu A, bagi aku suami aku cuman ayahnya anak-anak,"
"Apa Lo mencintainya?"
"Mungkin setelah dia pergi, aku baru menyadari bahwa mungkin aku mencintainya, tapi rasa sayang aku lebih besar untuknya, AA paham kan maksud Ayu?"
Nando mengangguk, "oke, kalau gitu gue balik ya, pokoknya gue saranin Lo datang ke nikahannya George, kabari kita-kita ya,"
Ayudia mengangguk dan mengantarkan tamunya hingga mobilnya, Aileen sempat protes mengapa lelaki itu hanya sebentar menemuinya, bocah kecil itu mengerucutkan mulutnya, namun setelah Nando memberikan paper bag dari dalam mobilnya, Aileen tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang rapih.
Tak lama Nando pergi, Anna dan Ainsley baru saja pulang kondangan bersama para tetangga.
Bocah lelaki itu membawa mobil mainan plastik berukuran sedang juga membawa balon berbentuk kucing berwarna biru untuk adiknya.
__ADS_1
Aileen tersenyum senang, kakaknya membawakan balon berbentuk tokoh kartun kesukaannya.
Sementara Ayudia menceritakan tentang saran yang Nando katakan tadi ada Mertuanya.