Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
dua belas


__ADS_3

Ayudia melalui hari-hari nya seperti biasa, sudah lebih dari seminggu semenjak komunikasi terakhirnya dengan lelaki bernama Benedict, tak ada tanggapan apapun dari lelaki itu.


Anin dan si kembar juga sudah kembali ke rumah dan mulai bersekolah, rencananya dua minggu lagi, Ayudia akan mengantar si kembar untuk mengikuti tes masuk pondok pesantren di kampung halaman mendiang ibunya.


Untuk itulah, Ayudia semakin semangat menjemput rejeki, seperti kebiasaan yang sudah-sudah jika waktu liburnya di hari weekend, ia akan membantu salah satu tetangganya yang bekerja di salah satu EO tersohor ibukota.


Terkadang saat weekend ada event ia meminta salah satu rekannya untuk bertukar sif agar bisa tetap membantu EO tersebut.


Seperti kemarin, mbak Sinta telah menghubunginya agar bisa datang bekerja di salah satu ballroom sebuah hotel bintang lima di ibukota.


Biasanya Ayu bekerja sebagai pembawa minuman untuk para tamu undangan atau membantu pekerja lainnya, dengan upah dua ratus hingga empat ratus ribu rupiah ia dengan semangat melakoni pekerjaan sampingan itu.


Acara yang diadakan jam tujuh malam nanti, mewajibkan Ayu untuk datang dua jam sebelum acara di mulai, karena Sabtu ini, ia mendapat sif siang, maka ia meminta Ica untuk tukaran sif dengannya.


Seperti biasa sebelum azan subuh berkumandang, Ayu sudah memasak untuk adik-adiknya yang weekend ini hanya di rumah, beruntung ketiga adiknya mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah ibu kota, sehingga pagi ini ia bisa memasak lauk rendang kesukaan adik-adiknya.


Tak lupa ia juga meninggalkan uang jajan untuk ketiga adiknya, semalam ia sudah bilang bahwa dirinya akan pulang malam, karena ada perkejaan sampingan nanti malam.


Ia beruntung ketiga adiknya mau saling bantu mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyetrika dan membereskan rumah, Ayudia hanya memasak dan mencari uang.


Untuk belanja sayur, ada tetangga sebelah yang berprofesi sebagai tukang sayur yang membantunya berbelanja.


Ayudia sudah terbiasa sebagai tulang punggung keluarga, sudah lima tahun lebih, ia melakoni berbagai pekerjaan, selepas lulus SMA ia sempat berkerja sebagai SPG salah satu merk susu ternama, baru dua bulan bekerja, bapaknya berpulang ke Rahmatullah, sempat terguncang, namun teringat adik-adiknya yang membutuhkannya ia bangkit, dan menjalani hidupnya dengan penuh semangat mencari nafkah untuk adik-adiknya.


Setahun ia bekerja sebagai SPG, karena habis kontrak ia melamar bekerja lagi sebagai office girl di salah satu perusahan di pusat bisnis ibu kota, hampir tiga tahun bekerja di sana, karena kesalahpahaman antara rekan kerja, ia mengundurkan diri, walau gaji pas-pasan, tapi uang tips yang di terimanya cukup besar dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan adiknya sehari-hari.


Sebelum bekerja di cafe ia sempat bekerja serabutan sebagai SPG panggilan jika ada event pameran atau menjadi salah satu dari crew EO.


Semuanya dilaluinya dengan ikhlas, sempat Anin meminta ijin pada dirinya agar dia tidak melanjutkan sekolahnya menuju SMA beberapa tahun lalu, dengan tegas Ayudia menolak kemauan adik perempuannya itu.


Bahkan tahun ini ia menyuruh Anin untuk melanjutkan kuliahnya, ia akan bekerja lebih keras agar adik-adiknya bisa sekolah hingga sarjana, untuk itulah ia menerima tawaran salah satu teman SMA nya yang sudah terlebih dahulu bekerja di perkebunan di luar negeri.


Selepas bekerja sif pagi, ia akan tidur sebentar diruang ganti khusus wanita, hingga jam empat sore, ia menumpang mandi dan memakan bekal yang ia bawa dari rumah, hingga jam setengah lima, ia berangkat menuju hotel tempat diadakannya acara.

__ADS_1


Ballroom yang bisa menampung lebih dari seribu orang itu, sudah dihias sedemikian rupa, untuk merayakan pesta pernikahan salah satu pesohor negeri ini.


Ayudia menemui mbak Sinta yang sedang mengecek ulang persiapan pesta, "Mbak Sinta,"


Sapanya.


"Eh Ayu udah dateng, entar seperti biasa ya, nggak usah diterangkan kamu udah paham kan, nanti kamu bisa tanya-tanya soal yang lain sama mas Danu, tapi untuk kali ini hati-hati ya, banyak pejabat yang datang soalnya," jelas wanita yang masih memakai dress batik.


Ayudia menunjukkan kedua jempolnya dan berlalu mencari laki-laki bernama Danu yang akan memulai briefing di ruangan kecil sebelah ballroom.


Ada sekitar dua puluhan pekerja yang mengikuti briefing, lima diantaranya adalah pekerja paruh waktu seperti Ayudia.


Karena sudah berkali-kali menjadi bagian dari acara seperti ini, hampir semua karyawan EO sudah mengenal Ayudia.


"Pokoknya acara ini harus berjalan sukses, tidak boleh ada kendala apapun, banyak pejabat yang hadir jadi mohon tidak membuat kesalahan, acara di mulai pukul tujuh malam, kalian bisa mempersiapkan diri, ingat perhatikan juga penampilan kalian," ucap Danu sembari membagikan ID card untuk para crew yang bertugas.


Setelah briefing yang berlangsung selama lima belas menit, semua crew bersiap untuk berganti baju, dengan seragam yang di sediakan oleh EO.


Para crew EO dengan sigap melayani tamu yang hadir, pesta berlangsung selama tiga jam itu sangat meriah, bahkan ada beberapa penyanyi terkenal yang menghibur para tamu dengan suara emas mereka.


Ayudia yang menjadi salah satu crew bersemangat melakoni pekerjaannya kali ini, selain bisa bertemu langsung dengan banyak publik figur, upah yang dijanjikan juga lumayan, belum lagi hidangan yang pastinya akan ia cicipi ketika pesta telah selesai.


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, masih ada beberapa tamu yang hadir, namun tidak seramai tadi, karena memang pesta hanya sampai pukul sepuluh saja, bahkan pengantin baru itu sudah turun dari singgasananya, menghampiri keluarga pengantin yang masih tersisa.


Ayudia dan crew lainnya tentu masih melayani mereka, sampai akhirnya ada yang memanggilnya, mendengar namanya dipanggil, gadis itu mencari asal suara, di sana terlihat kelima lelaki yang sedang mengitari meja bundar untuk tamu undangan.


Sebagai crew yang sedang bertugas ia menghampiri orang yang tadi memanggilnya,


"Ayu, kamu lagi kerja di sini?" Tanya salah satu laki-laki yang tak lain adalah Rama,


Gadis itu tersenyum, "iya nih mas Rama, lumayan buat tambahan,"jawabnya, "ada yang bisa di bantu mas?" Lanjutnya ramah.


"Pengen panggil aja tadi, takut saya salah lihat, ternyata benar kamu, oh ya kamu nggak ingin menyapa sahabat-sahabat saya nih," ucap Rama melirik semua sahabatnya.

__ADS_1


Ayudia tersenyum ramah menyapa para sahabat atasannya di Cafe, tentunya semua lelaki itu ia kenal, karena terkadang mereka berkumpul di cafe, kecuali lelaki yang lebih dari seminggu lalu menjadi mantannya.


"Wah Ayu ternyata pekerja keras ya, nggak cape yu!" Goda Alex, namun Ayudia hanya membalasnya dengan senyuman.


"Ayu senyumannya manis banget buat Abang meleleh," ujar Oscar menggoda, lagi-lagi Ayu hanya tersenyum,


Giliran Nando yang menggodanya, "Ayu, Aa kangen loh, udah lama kan kita nggak ketemu,"


Ayudia tersenyum dan berkata, "ia nih A Nando udah lama ya nggak Dateng ke cafe, sibuk terus ya mas di luar kota? Gimana kabarnya A?"Tanyanya ramah.


"Aa baik Yu, seperti yang kamu lihat, ya mau nggak mau harus sibuk, si bos ngasih kerjaan terus nih," ujarnya melirik Benedict yang sedari tadi menatap gadis itu tajam.


"Nggak apa-apa A, mumpung masih muda kumpulin uang sebanyak-banyaknya buat masa tua, bener nggak A?"


"Giliran Nando aja di ajak ngobrol lama, kita-kita di cuekin, apalagi ada yang lagu berasap sekarang,"Sindir Alex.


"Nggak cuman berasap bro, tapi udah kebakaran," Oscar menimpali.


Ayudia hanya tersenyum menanggapi candaan kedua lelaki itu, lalu ia mengalihkan pandangannya pada lelaki yang sedari tadi menatapnya tajam, "hai mas Ben, apa kabar? Diem aja dari tadi," sapanya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.


Benedict yang ditanya, hanya bergumam saja.


Tak lama mbak Sinta menghampiri Ayudia yang sedang ngobrol dengan kelima lelaki tampan itu. "Ayu, di panggil mas Danu tuh," ucapnya.


"Iya mbak," jawabnya, "kalau gitu Ayu pamit dulu ya, silahkan nikmati pestanya," pamitnya.


"Tunggu Ayu, kamu nggak mau kenalin teman kamu ke kita nih," ujar Alex,


"Oh ya Ayu lupa, perkenalkan ini mbak Sinta, atasan Ayu di EO ini, dan mbak Sinta ini teman-teman pemilik Cafe tempat Ayu kerja,"


Para lelaki itu bersalaman dengan Sinta secara bergantian, namun saat giliran Rama, lelaki itu menggenggam tangan gadis itu lebih lama. Hal itu membuat heran para sahabat Rama.


Setelah sesi berkenalan Ayu dan Sinta undur diri dari kumpulan lelaki yang tampan itu.

__ADS_1


__ADS_2