Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tiga puluh lima


__ADS_3

Rama yang mendapatkan laporan tentang keributan kecil di cafenya, bergegas turun ke bawah, ia mendapati, sahabatnya duduk bersebelahan dengan Lusi dan berhadapan dengan Ayudia, "pemandangan macam apa ini?"Gumam nya pelan.


Rama menghampiri ketiganya, dan duduk disebelah Ayudia, "eh Ben, balik nggak bilang-bilang, wih langsung gandeng mantan nih, CLBK ceritanya,"ledeknya dan mendapatkan tatapan tajam dari Benedict, Ayudia malah menahan tawa ditengah kekesalan yang menyelimuti hatinya.


"Ini Mas Rama, udah beberapa waktu ini, mbak Lusi minta tolong Ayu biar bisa ketemu mas Ben, cuman kan gimana, mas Ben kan nggak datang-datang, eh sekarang udah disini, eh lupa belum nyapa mas Ben, Mas Ben apa kabar? Udah lama nggak ke cafe, gimana keadaan pasangannya?"ucapnya seolah ingin menjahili suaminya.


"Loh Ben, kamu udah punya pacar? "Tanya Lusi kaget.


Rama sengaja mengompori, "jelas udah dong Lus, masa udah dua belas tahun, Ben nggak move on dari Lo, Ben kan ganteng kaya lagi, dan asal Lo tau, Ben Bahkan punya jet pribadi dan pulau pribadi," ucapnya.


Ketiganya melotot ke arah Rama, ada Benedict yang dengan tatapan mengancamnya yang membuat bulu kuduk Rama berdiri, ada Ayudia yang memberi tatapan, seolah mengatakan, "kok gue bininya nggak tau, laki gue sekaya itu," dan terakhir Lusi dengan tatapan berbinar.


"Wah Mas Ben ternyata kaya juga ya! Beruntung banget yang jadi istrinya mas Ben, bisa keliling dunia dong, wah seru tuh mas, yah Mbak Lusi, pasti nyesel dan rugi banget ninggalin mas Ben yang kaya raya,"sindir Ayudia.


Rama seakan memang sedang menyulut api, "dan Lo tau Ayu, jam tangan yang dipake sama Ben sekarang ini, itu edisi terbatas yang hanya dimiliki lima orang di dunia dan lo tau harganya berapa?"tanyanya pada Ayu.


"Berapa emang mas?" Tanya Ayu penasaran.


Rama menunjukan empat jarinya, "lima ratus ribu" tebak Ayu.


"Kok Lo tau, bukan rupiah tapi dolar tepatnya," jawabnya bangga.


Ayudia melotot kaget, ternyata suaminya sekaya itu, "wah mbak Lusi benar-benar rugi udah ninggalin mas Ben, jam tangan aja lima ratus ribu dolar lagi, gimana yang lain, wah bakal sejahtera jadi istrinya mas Ben, iya nggak mas Rama?"


"Belum Aset yang gue kelola, resort Yang ditangani Nando, rumah sakit yang di pimpin Oscar, kantor pengacaranya Alex," Rama menarik nafas, "Lo nggak tau yu, selain beberapa jet pribadi di Amerika, dia juga punya helikopter, mansion yang kayak istana, wah beruntung banget jadi bininya Ben,"


Benedict mengepalkan tangannya, ia menahan amarah, mata dan wajahnya memerah,


Hal itu disadari oleh Lusi, sehingga wanita itu melepaskan tangannya, ia tau mantan pacarnya sedang marah.

__ADS_1


Melihat suaminya menahan Amarahnya, Ayudia kembali bicara, "udah mas Rama jangan disebutin terus,  nanti mbak Lusi semakin nyesel, oh ya katanya mbak Lusi mau ngomong sesuatu kalau ketemu mas Ben, jadi silahkan mengobrol, Ayu mau kerja,"ujarnya bangkit.


"Ayudia duduk,"bentak Benedict sembari menatap tajam pada istrinya, tentu saja sebagai istri yang baik, Ayudia menuruti perintah suaminya.


Benedict yang sedari tadi diam saja, akhirnya angkat bicara, "mau Apa Lo nemuin gue?"ucapnya pada Lusi tanpa menatapnya, namun tatapan tajamnya tertuju pada istrinya.


Lusi yang merasa ditanya tersenyum sumringah, "Ben, aku minta maaf sama kamu, atas perilaku aku dulu ke kamu, aku nyesel Ben,"ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Rama yang melihat itu memutar bola matanya malas, ia sedikit berbisik pada Ayudia yang duduk disebelahnya, "air mata buaya,"


"Udah kan ngomongnya, sekarang mending Lo balik, gue ada urusan yang lebih penting dari sekedar dengerin ocehan Lo,"ucap Benedict ketus.


"Tapi Ben, please maafin aku, aku nyesel banget udah khianati kamu, bahkan sekarang Arnold selingkuh sama sekretarisnya, " ucap Lusi penuh penyesalan.


"Gue nggak peduli, mending sekarang Lo cabut sebelum gue berbuat kasar sama Lo, Lo masih ingat kan kalau gue udah ngamuk bakal kayak apa,"


Melihat keadaan yang tidak memungkinkan Ayudia berinisiatif, untuk membujuk Lusi agar segera pergi dari sini, "mbak Lusi pulang dulu ya, lain kali bisa ketemu lagi," Bujuknya lembut.


Ayudia hanya menggelengkan kepalanya melihat mantan pacar suaminya itu, "kalau gitu Ayu kerja dulu ya, kalian kalau mau adu jotos, jangan disini, tuh di parkiran biar lega dikit, buat mas Rama, saran Ayu mending kabur aja, dan buat mas Ben, gimana rasa ciuman dari mantan pacar yang cantik banget pasti nikmat ya, beda sama istrinya yang buluk," ucapnya, "dan jangan bentak Ayu, kalau masih mau ketemu Ayu," usai mengatakan itu, Ayudia berlalu meninggalkan kedua lelaki itu.


Rama nyengir melihat tatapan tajam sahabatnya, "Lo ngamuk Ayu bakal lebih ngamuk, udah sabar ya bro!" Ucapnya bangkit tak lupa menepuk pundak sahabatnya.


Ayudia melanjutkan pekerjaannya seperti biasa, ada beberapa rekan kerjanya yang bertanya tentang apa yang terjadi, namun wanita itu hanya mengangkat bahunya.


Benedict yang sudah naik ke lantai dua, bergegas Mandi, ia ingin menghilangkan jejak dari mantannya itu, sedangkan Rama terpaksa menuju mall untuk membelikan Baju ganti untuk sahabatnya.


"Kenapa Lo nggak lapor ke gue, kalau Lusi nemuin bini gue Ram," ujarnya usai mandi berlama-lama.


"Mana gue tau Ben, gue juga baru tau hari ini, Ayu juga nggak pernah cerita,"sangkal Rama.

__ADS_1


"Lo ngapain pake acara ngasih tau aset gue ke dia sih,"


"Biar dia nyesel udah khianati Lo,"


"Bukannya nyesel, dia bakal ngejar-ngejar gue Ogeb, bisa bikin runyam hubungan gue sama Ayu,"


"Iya juga sih, coba Lo ngomong deh sama Arnold tentang kelakuan bininya,"


"Gue ngomong sama Arnold, gila Lo ya!"


"Gitu-gitu dia saudara tiri Lo Ben,"


"Udah ah, gue numpang tidur, gue ngantuk banget, bilangin Ayu gue tungguin disini," ujarnya merebahkan dirinya di sofa panjang.


Tiga puluh menit sebelum jam pulang, Rama membangunkan Benedict.


Lelaki itu mencuci mukanya terlebih dahulu, ia turun kebawah dan menemui satria dan memesan Americano pekat, agar kantuknya hilang, "baru pulang udah ada konflik aja bos," ucap Satria sambil menyiapkan kopi pesanan big bosnya.


"Iya nih, niatnya mau kasih kejutan, malah gue yang terkejut bang,"


"Mantan Lo sering banget nemuin bini Lo, gue nggak tau apa yang mereka obrolin, tapi kayaknya mereka akrab banget, gue sempet Negor bini Lo, tapi katanya, kasihan sama mantan Lo,"


"Ngambek nggak ya si Ayu?"


"Kayaknya sih enggak, gue liat dari tadi biasa aja tuh, bahkan kayak nggak terjadi apa-apa, tenang Ben, Ayu itu bijaksana, persis banget sama bini gue, dia nggak bakal marah kalau cuman kayak tadi, tapi saran gue, apapun yang di ucapkan nanti, Lo cukup dengerin, dan kalau ditanya, Lo jawab jujur,"


"Thanks bang nasehatnya, sekalian gue ambil koper ya bang," ujarnya berlalu ketika Satria memberikan pesanannya,


Tak lama ponsel satria berbunyi, ada notifikasi masuk, ia tersenyum lebar, "thanks Ben," teriaknya, Ben hanya melambaikan tangannya.

__ADS_1


Lelaki itu menunggu istrinya di area outdoor cafe, ia duduk di salah satu kursi yang disediakan untuk pengunjung.


__ADS_2