Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus dua puluh satu


__ADS_3

Ainsley juga Aileen benar-benar terlihat gembira bertemu teman TK keduanya, bahkan Ainsley sempat berenang di sungai.


Setiap jam makan malam atau sebelum tidur kedua anak kembar itu sangat antusias menceritakan kesehariannya bersama teman-temannya secara bergantian.


Sedangkan Ayudia melakoni perannya sebagai seorang ibu rumah tangga, bangun subuh untuk beribadah, mengaji hingga waktu suruk, membuat sarapan, berjalan kaki ke pasar bersama putrinya, makan jajanan pasar, bergaul dengan tetangga, atau sekedar ghibah sejenak, hingga memasak makan siang bersama putrinya jika Aileen sedang tidak bermain bersama teman-temannya.


Ainsley juga terkadang membantu Mang kos untuk memberi makan ikan atau pergi ke sawah.


Anak blasteran itu bisa tertawa lepas saat mang kos mengajaknya bercanda, sesuatu yang tidak ia dapatkan bersama ayahnya.


Sudah seminggu mereka berada di desa itu, "Bun, Ai betah disini, aku sekolah disini aja ya,"


"Ain juga mau Bun,"ucapnya antusias.


"Coba kalian ngomong sama ayah,"sahut Ayudia yang sedang melipat baju.


"Nggak mau, Ai nggak berani, Ayah serem,"tolak remaja perempuan itu.


"Ya udah nggak jadi kalau gitu,"sahut ibu dua anak itu lagi.


"Bun, bilang ayah dong,"rayu Ainsley.


Ayudia mengambil ponselnya, ia mengirimi pesan pada suaminya, menanyakan apakah lelaki itu sibuk atau tidak? Dan usai mengirim pesan langsung ada panggilan masuk di ponselnya.


Terlihat Benedict masih mengenakan baju yang biasa di proyek berwarna hitam, setelah menyapa, Ayudia memberitahu jika kedua anaknya ingin berbicara dengan ayahnya.


"Jadi apa yang ingin kalian bicarakan sama Ayah?"tanya Benedict diseberang sana.


Kedua anak kembar itu saling sikut, tak ada yang berani bicara, hingga Ayudia yang sedang masih melipat baju berteriak,


"Mereka minta sekolah di kampung, biar dekat sama teman-temannya,"ucap Ayudia memberitahu suaminya.


Benedict menaikan sebelah alisnya, "benar kalian menginginkan seperti itu?"tanyanya.


Keduanya menunduk tak berani melihat ayahnya,


Benedict menghela nafas, "Ainsley Wright, bukankah ayah sudah pernah memberitahukan ke kamu, soal pentingnya pendidikan,"


"Kenapa hanya Ain, kenapa Aileen tidak,"protes remaja lelaki itu.


"Aileen juga sama hanya saja kamu laki-laki, tanggung jawab kamu lebih besar, kamu mengerti maksud ayah?"


Ainsley mengangguk, "bukan kah waktu junior high school, ayah berada disini? Kenapa Ain nggak boleh sekolah disini?"protesnya lagi.


"Ayah sekolahnya di ibukota, Asal kamu tau, kalau di desa fasilitasnya kurang lengkap, kamu bukan hanya belajar disekolah, kamu juga harus belajar untuk mempersiapkan diri kamu untuk menggantikan Ayah, dan Aileen juga akan membantu kamu, harusnya kamu bersyukur ada yang akan membantu kamu, bukankah kamu tau, dari keluarga Wright hanya ayah yang mengurus sendiri? Kamu tau kan uncle George bahkan hanya membantu jika ayah memarahinya?"


"Ain, ingin jadi orang biasa saja Ayah, yang punya banyak waktu bermain dan punya banyak teman,"protesnya lagi.


Benedict menghela nafas, "Ain, ini sudah takdir yang harus kamu jalani, tidak ada pilihan lain,"

__ADS_1


Ainsley meninggalkan tempat itu dan masuk ke kamarnya, Aileen juga mengikuti kakaknya masuk ke kamarnya sendiri.


"Bun, anak-anak marah?"tanya Benedict.


"Nanti coba aku ngomong pelan-pelan sama anak-anak, ngomong-ngomong kamu masih kerja? Bukannya di sana sudah masuk waktu senja?"


"Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini Bun, aku ingin segera ketemu kamu,"


"Jangan terlalu capek mas, jaga kesehatan kamu,"


"Iya istriku sayang, aku akan jaga kesehatan, kamu juga ya! Lalu kapan kamu kembali ke ibu kota?"


"Belum tau, soalnya anak-anak masih betah disini,"


"Iya tapi ingat sebentar lagi masuk sekolah, Alex sudah bantu anak-anak untuk mendaftar di salah satu sekolah internasional di sana, lalu seragam juga sudah dikirim ke rumah,"


"Iya mas, nanti aku bilang ke anak-anak, Udah dulu ya, aku mau beberes dulu,"ujarnya sambil menunjukan baju-baju yang telah rapih.


Benedict mengangguk, "ayah kangen bunda"


"Bunda juga kangen ayah,"


Dan panggilan video itu berakhir, Ayudia menghela nafas, dulu dia tidak berfikir sejauh ini, ketika anaknya ingin menjalani hidup menjadi orang biasa, tapi tuntutan sebagai pewaris mengharuskan anak-anaknya menjalani hidup penuh tekanan.


Akhirnya setelah sepuluh hari menjalani hidup layaknya orang biasa berakhir sudah, ibu dan dua anaknya harus kembali ke realita, kemarin Alex menghubunginya, memberitahu bahwa sekolah akan mulai esok lusa.


Sepanjang perjalanan kedua remaja kembar itu diam, tak banyak bercerita, hanya hembusan angin dari pendingin mobil mengiringi perjalanan menuju ibu kota.


Ada banyak camilan yang ia beli, untuk para pekerja di rumah, tak lupa membeli oleh-oleh untuk Arini.


Mobil memasuki halaman rumah saat tengah hari, beberapa pekerja membantu menurunkan barang-barang yang tadi dibeli oleh Ayudia.


Salah satu pekerja memberitahu, jika ada sahabat Benedict menunggunya di halaman samping rumah.


Ibu dan dua anak kembarnya menghampiri keempat sahabat Benedict, mereka sedang duduk sambil minum kopi.


Aileen mengembangkan senyumannya bertemu dengan Nando, "Papa Nando.."teriaknya.


Remaja itu memeluk salah satu sahabat ayahnya, yang sedari kecil sudah dekat dengannya.


"Wah, anak papa sudah besar ya! Apa kabar cantik?" Tanya Nando.


"Baik papa,"


Ainsley menyalami dan mencium tangan sahabat dari ayahnya satu persatu.


Setelah berbasa-basi sebentar, kedua remaja kembar itu ijin untuk ke kamarnya masing-masing.


"Ayu, Ben udah ngomong kan? Soal sekolah anak-anak," tanya Alex.

__ADS_1


Ayudia mengangguk, "sebenernya anak-anak pengin sekolah di kampung, tapi mas Ben nggak izinkan,"ucapnya sedih.


"Ya kan emang udah jadi takdir mereka, nggak ada pilihan lain kan?"ujar Rama.


"Kadang gue kasihan sama mereka, cuman gimana keturunan keluarga Wright kan mereka doang, George sampai sekarang nggak mau nikah, gue dengar dia Penyuka sesama jenis,"ucap Nando.


Ayudia menggeleng, "George nggak gitu, sebenarnya dia bukan penyuka sesama jenis, hanya saja dia anti perempuan, dia itu kayak semacam trauma gitu, dulu mommy nya sering banget begituan depan dia dengan laki-laki yang berbeda-beda hampir setiap hari,  jadi kalau dekat perempuan dia itu kayak mual gitu,"


"Emang ada penyakit kayak gitu?"tanya Alex heran, "kan enak Deket cewek bisa begituan,"


"Bang Alex belum tobat juga ih, udah punya bini juga, Ayu adukan nih,"


"Yah si nyonya, gue becanda doang, gue udah tobat kali,"sahut Alex.


"Tapi emang bener ada penyakit psikologis gitu, harusnya George konsultasi ke dokter, jangan malah menyerah sama keadaan, akhirnya Ben yang ribet sendiri ngurus perusahaan,"celetuk Oscar.


"Nggak tau lah, Ayu kadang pengen ngomong sama George, tapi tau sendirikan suami Ayu posesif banget,"keluhnya.


"Jadi gimana nih solusinya, gue kasian liat Anak gue,"ungkap Nando.


Semuanya terdiam, memikirkan jalan keluarnya, agar si kembar tidak terlalu dituntut untuk jadi pewaris.


"Ayu, George pernah cerita nggak, tipe cewek idealnya?"tanya Rama.


"Pernah sih, George itu suka sama perempuan kayak ibu, yang kalem keibuan, lemah lembut tapi berwibawa, kalian tau kan ibu mertua Ayu kayak apa?"


"Gue ada ide, mumpung Ben lagi di pulau dan pulangnya masih lama, George suruh kesini aja, kenalin sama cewek-cewek indo yang masih asli,"usul Alex.


"Bagus juga sih idenya, tapi gimana kalau Benedict sampai tau, bisa ngamuk sepupunya Deket sama bininya,"sela Oscar.


"Do, bukannya Minggu depan mesti ke Lombok ya! Gimana kalau Lo undang George buat liburan di sana,"ucap Rama.


"Kalau dia kepincut sama bini gue gimana, gue nggak mau ya!"


Tolak Nando.


"Ya Lo jangan bawa bini Lo, kebiasaan Lo, bukannya kerja malah honeymoon,"ujar Alex.


"Okelah demi putri tersayang gue nih,"


"Nah dari lombok, Lo bawa ke Jakarta, kita kenalin sama cewek-cewek disini, tapi ngomong-ngomong George bisa bahasa Indonesia nggak sih?" Ucap Alex.


"Dikit-dikit ngerti kayaknya, cuman yang formal aja, nggak terlalu fasih,"tutur Ayudia.


"Ya udah pokoknya, entar do lo kirim email ke George terus undang dia buat liburan,"ujar Alex dan Nando mengangguk.


"Oh ya Ayu, selama Ben nggak ada Lo jangan sampai ketemu sama Dikta ya, Ben udah wanti-wanti kita soalnya,"Alex memperingatkan.


"Bener, Lo ingat kan, setiap Lo ketemu Dikta pasti Lo sama Ben ribut gede,"Oscar menyela.

__ADS_1


"Iya, Ayu ngerti, lagian udah nggak ada rasa, masih aja pada nggak percaya, udah mending pada makan siang bareng yuk,"ajak Ayudia setelah salah satu maid memberitahu jika makan siang sudah siap.


__ADS_2