Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tiga puluh empat


__ADS_3

Benedict mengabari kepada istrinya jika ia akan menunda kepulangannya, ada beberapa proyek baru yang sedang ia tangani bersama George sepupunya.


Ia juga harus mengunjungi salah satu negara timur tengah, ia bekerjasama dengan salah satu perusahaan pertambangan di sana.


Setiap malam sebelum Ayudia tidur, Benedict meminta istrinya untuk melakukan panggilan video, hingga istrinya tertidur, katanya ingin melihat wajah yang ia rindukan.


Di sana Benedict semakin gila kerja, hal itu ia lakukan, agar rindunya teralihkan.


Tak terasa sudah tiga bulan Benedict meninggalkan Ayudia, Anin sudah menyelesaikan ujian kelulusan SMA sebulan yang lalu, sedangkan si kembar baru saja menyelesaikan ujian kelulusan SD seminggu yang lalu.


Ayudia juga melalui bulan puasa dan lebaran tanpa kehadiran suaminya, hal itu menjadi gunjingan tetangga, namun wanita itu tidak mempedulikannya.


Benedict masih sama, selalu melakukan panggilan video sebelum istrinya tidur, ia juga rutin memberikan nafkahnya, melalui kartu yang ia berikan sebelum berangkat dulu.


Namun Ayudia hanya memakainya sedikit, itupun atas paksaan suaminya itu.


Ayudia masih bekerja di cafe meski uang yang dimilikinya sangat banyak, ingat dulu mertuanya pernah memberikan uang dengan nominal yang banyak, sampai sekarang, uang itu sama sekali belum digunakan, belum lagi uang dari suaminya, ia bingung harus digunakan untuk apa uang sebanyak itu.


Ayudia masih hidup sederhana dan apa adanya, hanya saja, dia dan adik-adiknya sudah tidak kekurangan lagi.


Anna masih sering mengajaknya bertemu, hanya sekadar makan siang bersama, tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun.


Rama sudah memutuskan pertunangannya dengan Citra sekitar dua bulan lalu, entah dengan alasan apa, namun sesuai dengan curhatannya, keluarga dari pihak citra mau menerima dengan lapang dada, namun sepertinya Citra masih belum terima diputuskan, wanita itu sering mendatangi cafe untuk mencari Rama, meski akhirnya akan ada pertengkaran di atas dan terdengar sesuatu yang pecah.


Citra selalu mendatangi cafe dengan Lusi beserta anak perempuan bernama Chloe.


Lusi masih menanyakan tentang Benedict, namun Ayudia selalu menjawab jujur, jika lelaki itu sudah lama tidak mengunjungi cafe.


Para sahabat Benedict terkadang juga berkumpul di ruangan Rama, dan mengajak Ayudia untuk mengobrol atau sekedar curhat tentang percintaan mereka, tentu dengan senang hati, wanita itu mendengarkan curhatan mereka.


Seperti Alex yang menjadi pebinor dari sekertaris nya sendiri, sekertaris yang bernama Sandra adalah seorang wanita bersuami yang mendapatkan kekerasan rumah tangga dari suaminya yang hobby berselingkuh dan main judi, yang lebih parah suami Sandra malah menjual istrinya sendiri kepada Alex untuk berhubungan layaknya suami istri.

__ADS_1


Nando yang galau karena berhubungan dengan seseorang yang berbeda keyakinan dengan dirinya, yang mendapatkan pertentangan dari orangtuanya.


Sedangkan Oscar bercerita ia menyukai seorang gadis yang masih SMA, namun ia tidak memberitahu siapa sebenarnya gadis yang disukai lelaki yang berprofesi sebagai dokter sekaligus pimpinan Rumah sakit.


Walau usia Ayudia lebih muda namun mereka menganggap Ayudia adalah sosok bijaksana dalam memandang setiap masalah yang mereka ceritakan serta bisa dipercaya.


Beberapa kali keempat laki-laki itu memberikan hadiah berharga mahal untuk Ayudia, tentu untuk menghargai sahabat dari suaminya, ia menerimanya, jika ia menghadiri acara tertentu baru dia mengenakan hadiah-hadiah itu, semuanya ia simpan di Apartemen milik suaminya, ia tidak ingin mengambil resiko jika menyimpan barang-barang itu di rumah milik orang tuanya.


Anin dan si kembar, tadi pagi pergi ke Bekasi ke tempat Samsul, Ayudia mengantarnya sebelum berangkat ke cafe.


Ayudia masuk sif siang, ia bekerja seperti biasa, ada Ica dan Nia yang bekerja satu sif dengannya, disela-sela kesibukan mereka kedua rekannya menceritakan tentang kehidupan percintaan mereka, Ada Ica yang dijodohkan dengan anak dari sahabat bapaknya, sedangkan Nia mencintai sahabatnya sendiri sejak lulus SMA, namun cintanya bertepuk sebelah tangan, karena lelaki yang ia sukai sudah memiliki pacar.


Kedua rekannya sedang galau, Ayudia hanya menjadi pendengar dan berpendapat jika mereka meminta.


Sore itu Lusi datang sendiri ke cafe, ia mengajak Ayudia mengobrol, sepertinya perempuan beranak satu itu tengah bersedih.


Ayudia meminta ijin kepada Satria untuk istirahat sejenak, kebetulan saat itu, cafe tidak terlalu ramai.


"Suami aku selingkuh sama sekretarisnya, yu,"Lusi memulai ceritanya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku yakin, saat itu aku mau antar makan siang buat Arnold, aku lihat dengan mata kepala aku sendiri, Dona berpelukan dengan Arnold di ruangan itu," jelasnya.


"Mungkin mbak Dona lagi curhat sama mas Arnold, mbak," Ayudia berusaha menenangkan Lusi yang mulai menangis.


"Itu bukan cuma sekali Ayu, berkali-kali ada teman aku ngeliat mereka keluar dari hotel, bahkan pernah lagi hujan petir, malam-malam Arnold mendatangi rumah Dona, kalau nggak ada hubungan apa-apa nggak mungkin Arnold kayak gitu, mungkin ini balasan buat aku yang dimasa lalu, aku pernah mengkhianati Ben yang mirisnya adalah saudara tiri Arnold, maka dari itu aku ingin menemui Ben, aku ingin minta maaf," jelasnya.


"Tapi mas Ben udah lama nggak Dateng kesini mbak,"


"Apa kamu nggak bisa cari tau nomor ponselnya, atau media sosialnya, aku udah cari tapi nggak ketemu juga,"


"Coba mbak Lusi tanya mas Rama,"

__ADS_1


"Aku udah usaha bertahun-tahun Ayu, bahkan Citra aja nggak bisa bujuk Rama buat kasih nomor Ben, aku bingung mesti pake cara apalagi, buat ketemu dia,"ucap Lusi frustasi.


"Sabar mbak, suatu saat mungkin ketemu,"ucap Ayudia mencoba menenangkan.


Baru selesai berkata, ada seorangĀ  laki-laki tampan yang masih mengenakan pakai formal memasuki Cafe.


Ayudia yang membelakangi pintu cafe tentu tidak mengetahui kedatangan suaminya, justru Lusi yang melihatnya terlebih dahulu.


"Ayu, omongan kamu bener, aku bakal ketemu Ben, dan sekarang itu terjadi,"Lusi bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat menuju lelaki itu dan langsung memeluknya erat.


Ayudia yang mengikuti pergerakan Lusi, melebarkan matanya, tak percaya jika suaminya sedang dipeluk oleh wanita itu, ia kaget, karena suaminya tidak memberitahukan kepulangannya.


Benedict yang tiba-tiba dipeluk oleh mantan pacarnya, tentu kaget dan tak sempat mengelak, masih terkejut dengan hal itu, matanya melotot ketika melihat istrinya diam mematung melihat dirinya dipeluk oleh wanita lain.


"Akhirnya aku bisa ketemu kamu Ben, aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja sih? Aku minta maaf udah jahat sama kamu dulu, tapi please maafin aku,"Lusi terisak di pelukan Benedict, tidak ada balasan dari pelukan itu.


Benedict mengangkat tangannya, dan berusaha melepas pelukan itu, lelaki itu tidak ingin istrinya salah paham, namun sepertinya Lusi dengan sekuat tenaga memeluk erat tubuh lelaki itu.


Ingin rasanya Benedict mengumpat, hal itu menjadi perhatian karyawan dan pengunjung cafe, moment langka bagi karyawan karena salah satu sahabat bos mereka sedang berpelukan dengan seorang wanita.


"Oke Lusi, lepas dulu, nggak enak dilihat orang-orang,"Benedict mencoba berbicara pada mantan pacarnya itu.


"Nggak, aku nggak lepasin kamu, nanti kamu pergi dari aku,"ucap Lusi manja.


Ayudia yang mendengarnya, bahkan tak percaya dengan ucapan wanita yang tadi mengobrol dengannya, bisa-bisanya perempuan itu membohonginya.


Ayudia berjalan mendekat, sebagai istri tentu ia cemburu, namun sepertinya ia harus bijak menghadapi ulah wanita itu.


"Mbak Lusi, mohon dilepas dulu, malu dilihat orang-orang, mas Ben juga nggak bakal kemana-mana kok,"ucap Ayudia menenangkan wanita itu.


Mendengar ucapan Ayudia, Lusi akhirnya melepaskan pelukannya, namun tangannya melingkar erat di lengan Benedict, hal itu membuat Ayudia sempat melongo.

__ADS_1


"Nah sekarang duduk dulu yuk, kita lanjut ngobrol lagi di sana, pastinya sama mas Ben juga, ya kan mas Ben?" Ujarnya sambil menatap tajam suaminya.


Mendapatkan tatapan itu, Benedict menuruti kemauan istrinya, mereka bertiga duduk ditempat yang tadi diduduki Lusi dan Ayudia.


__ADS_2