Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus tiga puluh


__ADS_3

Hening selama dalam perjalanan pulang, tak ada yang bersuara atau memulai pembicaraan, hingga mobil berhenti tepat di depan teras rumah pasangan suami istri itu.


Ayudia mengatakan ingin masuk terlebih dahulu meninggalkan suaminya, wanita hamil itu berjalan menuju dapur, dan meminum jus yang tadi pagi ia sengaja buat dan didinginkan di kulkas.


Segar rasanya, wanita itu berpesan kepada salah satu maid untuk memasak aneka seafood dengan bumbu saos Padang untuk makan siang nanti.


Ia mengambil botol air mineral dari dalam kulkas dan bola-bola cokelat yang ada didalam toples, ia akan membawanya ke kamar, ia berpesan pada maid Jika ia ingin istirahat di kamar.


Kamarnya kosong, tidak ada suaminya di sana, ia meletakan minuman dan kue itu di kabinet kayu, lalu ia bergegas ke kamar mandi, juga mengganti baju daster kebanggan ibu rumah tangga pada umumnya.


Lalu Ia duduki di kursi malas dekat kolam renang, sambil menikmati cokelat dan memandang langit yang tertutup awan.


Disisi lain di ruang kerjanya, Benedict mengurusi masalah Aileen dan teman sekelasnya, lelaki itu sedang berbicara dengan Alex mendiskusikan tindakan yang harus dilakukan, untuk memberi pelajaran kepada  orang yang telah mengganggu putri kesayangannya.


Dari cerita Alex, Benedict mengetahui tentang keluarga dari Michelle Lauren, teman sekelas putrinya adalah cucu dari salah satu pengusaha asal Eropa yang menikah dengan wanita pribumi,


Keluarga Lauren termasuk golongan konglomerat negeri ini, ada beberapa bisnisnya yang sudah merambah pasar Amerika, Benedict tersenyum mengetahui itu, sebuah ide brilian untuk sedikit memberi peringatan pada cucunya.


Dari Alex juga diketahui, ibu dari Michelle juga memiliki hobby menyewa gigolo, ada rumor yang beredar jika ayah dan ibu remaja itu hanya menikah karena perjodohan, sehingga masing-masing mencari kesenangan sendiri.


Benedict mengubungi Troy, tak peduli di sana masih gelap, yang terpenting adalah kebanggaan putrinya untuk ayahnya.


Ia memerintahkan assisten nya untuk membuat goyah bisnis keluarga Lauren di Amerika, tentu hal itu mudah bagi Troy.


Setelah urusannya selesai, Benedict mencari keberadaan istrinya, ia mendapati istrinya sedang menikmati bola-bola cokelat sambil bersandar di kursi malas.


Benedict duduk di celah kosong kursi itu, ia menghadap istrinya lalu mencium kening wanita hamil itu, "sayang, apa kamu baik-baik saja?"tanyanya khawatir, Ayudia mengangguk,


"Apa ada hal yang ingin kamu ceritakan?"

__ADS_1


Ayudia terdiam sejenak mungkin berfikir untuk merangkai kata, hingga ia menghela nafas, "mengenai keadaan Pradikta yang hanya diketahui oleh aku, jadi sewaktu kami menjalani Masa orientasi siswa di SMA, pertama kalinya aku berkenalan dengan Dikta yang ceria dan murah senyum,"


"Dari situlah kami mulai dekat dan saling jatuh cinta, meskipun tidak ada kata jadian diantara kami, ada Amara yang juga bersahabat dengan kami, kami bertiga selalu bersama-sama, kebetulan kami sekelas,"


"Pradikta terkenal tampan di sekolah kami, ia ramah kepada siapa saja, hingga tragedi di Jum'at sore diakhir bulan mei, merenggut senyumannya,"


Mata wanita hamil itu berkaca-kaca, Benedict menggenggam tangan istrinya.


"Saat itu kami usai mengikuti kegiatan Pramuka, kami bertiga selalu bersama, kebetulan aku dan Amara di panggil Pembina Pramuka ada hal yang dibicarakan tentang acara persami yang akan diadakan usai ujian kenaikan kelas,"


"Sedangkan Dikta pamit menuju toilet, kebetulan toilet yang ada di dekat sanggar Pramuka sedang rusak, sehingga Pradikta menuju toilet yang berada di dekat lapangan basket, agak jauh dari sanggar,"


Ayudia menghapus air matanya, "setelah urusan dengan pembina Pramuka selesai, aku dan Amara pergi mencari Dikta, kami berkeliling dan memeriksa seluruh toilet yang ada di sekolah, karena kami tidak menemukannya di toilet dekat lapangan basket,"


"Dan kami mendapati keadaan mengenaskan yang menimpa Dikta, waktu itu dia belum Akil balik meskipun badannya sudah besar, kami sampai tau seperti itu karena kami bertiga saling terbuka, dan kamu tau apa yang aku juga Amara lihat?"


"Saat itu aku hanya bisa memeluknya, dia tidak menangis namun pandangannya kosong, ya dia trauma bahkan alergi terhadap wanita, dia jijik bahkan muntah jika ada wanita yang mendekatinya selain Tante Arini, aku dan Amara,"


"Sejak kejadian itu, Dikta sempat menjalani home schooling hingga naik ke kelas tiga, ia kembali ke sekolah, tentu tanpa senyuman dan sifat ramahnya, Dikta jadi orang yang dingin kecuali jika bersama aku dan Amara,"


"Apa orang tuanya tidak tau tentang kejadian itu?"tanya Benedict,


"Tante Arini dan Om Irwan tau, bahkan sempat menuntut pelaku ke kantor polisi, hanya wali kelas, kepala sekolah dan pembina Pramuka yang tau, keluarga pelaku membuat perjanjian dengan orang tua Dikta bahwa mereka tidak akan mengganggu lagi,"


"Alasan Dikta memilih kuliah di luar ibu kota juga untuk melupakan traumanya, memang setelah sekian lama saat aku ketemu lagi, sudah ada banyak perubahan, ia sudah tidak mual jika ada perempuan di dekatnya, tapi ternyata karena trauma itulah sampai saat ini dia tidak bisa  menjalin hubungan dengan wanita manapun,"


"Lalu anaknya?"


"Dikta menyewa rahim seorang wanita asing untuk  mengandung anaknya tanpa berhubungan badan, saat dia melanjutkan pendidikannya di luar negri setelah aku bangun dari koma,"

__ADS_1


"Pantas Dikta begitu mencintai kamu sampai sekarang, karena kamu cinta pertamanya sekaligus malaikat penolongnya, miris juga hidupnya,"ucap Benedict iba.


"Makanya saat dia peluk aku, aku nggak pernah berani nolak, itu ungkapan rasa bersalah aku sama dia, ya selain saat itu aku masih ada rasa sama dia sih,"


Benedict mencoba bersabar, "lalu apa kamu masih ada rasa sama dia sekarang?"tanyanya penasaran.


Ayudia tertawa, "bisa-bisanya kamu nanya begitu sama aku,"


"Istriku, kamu tinggal jawab, iya atau tidak? Lalu bagaimana perasaan kamu ke aku sekarang? Apa kamu mencintai aku?"


"Emang itu penting sekarang? Lagian kita udah nggak jaman ada omongan kayak gitu mas, aneh kamu,"


"Ayudia kamu tinggal jawab apa susahnya sih?"tanya lelaki itu kesal.


"Pradikta itu cinta pertama aku kalau kamu lupa, tentu namanya terukir disudut hati aku,"


Wajah lelaki itu memerah menahan amarah, tangannya mengepal dan nafasnya memburu,


Melihat hal itu, Ayudia bangkit, ia menyentuh kedua sisi wajah suaminya, dan menatap mata lelaki itu yang memerah, "tapi asal kamu tau, rasa sayang dan cinta aku ke kamu, lebih besar dibanding rasa cintaku ke Dikta, dia hanya masa lalu, yang kenangannya sudah aku kubur, sedangkan kamu adalah masa depan aku, saat ini kamu lelaki yang paling aku sayangi dan cintai, kamu bisa lihat, apa Dimata aku terlihat ada kebohongan?"


Tatapan yang tadinya penuh amarah berubah menjadi tatapan kelembutan, tatapan penuh cinta yang biasa Benedict berikan hanya untuk istrinya.


Lelaki itu memeluk istrinya erat, ia membisikan kata cinta dan terima kasih untuk istrinya.


Ayudia juga membalas pelukan itu erat, rasanya ia lega telah mengungkapkan perasaannya, entah sejak kapan, ia benar-benar jatuh cinta pada lelaki ini,


Ada debaran yang selalu menghampirinya saat ia berdekatan dengan suaminya, ada perasaan membuncah yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


Rasanya bahagia sekali, ia bersyukur segera menyadarinya.

__ADS_1


__ADS_2