
Kama dan Richard menunggu di lobby, saat keduanya melihat kedatangan dua wanita mengenakan jilbab yang salah satunya mendorong stroller.
Richard menunduk saat bertemu dengan istri dari bosnya, lelaki itu mempersilahkan wanita berhijab itu menuju lift khusus yang akan membawanya, ke lantai dimana Benedict berada.
Beberapa orang yang tadi melihat interaksi antara orang kepercayaan CEO perusahaan dengan wanita berhijab, mungkin bertanya-tanya, mengapa Richard melakukan hal itu kepada wanita asing itu.
Lift berhenti, begitu pintu terbuka, terlihat seorang lelaki gagah dengan setelan formal tengah menunggunya.
Bukannya membalas uluran tangan istrinya untuk bersalaman, Benedict malah memeluk wanita itu,
"Aku kangen kamu,"bisiknya.
Ayudia hanya membalas pelukan dari suaminya,
Kama membawa Natasha dan Shaka ke ruangannya bersama Richard, sedangkan Ayudia dibawa oleh Benedict menuju ruangannya.
"Kamu kenapa keluar sih?"protes Benedict pada istrinya.
"Aku pengen nasi Padang,"jawab wanita hamil itu sambil duduk di sofa meluruskan kakinya yang pegal.
"Apa kamu lelah?"tanya lelaki itu melihat istrinya meregangkan kakinya.
Ayudia menggeleng, "aku cuman pengen luruskan kaki, kamu udah makan siang belum?"tanyanya balik.
"Tadi aku ada pertemuan sama klien, sekalian makan siang,"jawabnya, "lalu bagaimana kabar anak ayah didalam sini?"tanyanya sambil mengelus perut buncit itu.
"Baik-baik saja, kayaknya abis makan nasi Padang dia seneng banget, abisnya seminggu nggak makan nasi,"sindirnya.
"Bunda sayang..."
"Oh aku tadi beli magic com sama beras sekarung, buat aku makan bareng Natasha,"
"Sayang, kok nggak ngomong dulu sama aku,"
"Lah ini aku ngomong, kamu tuh lucu, pengin istrinya yang orang kampung betah di rumah, ya dikasih makanan yang sesuai sama lidah kampung aku, lah ini aku dikasih makan, makanan orang bule, ya nggak selera lah,"
"Kok kamu jadi protes, enam tahun kemarin kamu nggak pernah protes,"
"Bawaan bayi kali,"ucap Ayudia asal.
Benedict mengangkat istrinya untuk duduk di pangkuannya, "sayang, gimana kalau mulai besok kamu ikut aku ke kantor lagi, kayak dulu,"ucapnya sambil mengelus perut wanita itu.
"Kan udah ada Kama,"
"Tapi kalau aku kangen gimana?"
"Kan tiap pagi kita sarapan bareng, malam kita makan malam bareng, kita selalu sama-sama loh,"
__ADS_1
"Biar kerja aku tambah semangat sayang, kalau kamu didekat aku, aku jadi lebih tenang,"
"Kamu masih takut aku pergi dari kamu gitu?"tanya Ayudia sambil mendongak menatap suaminya.
"Bukan gitu, aku cuman ingin kamu selalu di samping aku, terus pekan depan aku mau ke luar negeri, kamu temani aku ya!"
"Oke, apapun itu suamiku yang manja dan mesum, kalau aku nggak turutin bisa ngambek nanti,"
Benedict tersenyum lebar mendengar jawaban istrinya, begitulah lelaki itu, ia mau selalu dekat dengan Ayudia.
Sejak saat itu, jika memungkinkan, Ayudia akan menemani suaminya bekerja seharian, atau menemani lelaki itu jika ada perjalanan bisnis ke luar negeri, tentu dengan Natasha yang turut serta mengawasi wanita hamil itu.
Setiap ada kesempatan, Ainsley dan Aileen melakukan panggilan video kepada kedua orang tuanya, remaja kembar itu menceritakan hari-harinya.
Meski berjauhan komunikasi selalu berjalan lancar, apapun kegiatan anak-anaknya Ayudia dan Benedict tau, selain laporan dari si kembar, mereka juga dengan intens menghubungi Bu Yanti, atau Arya yang sekarang ini tinggal di rumah besar itu.
Karena Natasha hanya memiliki satu pasien, setiap pagi atau malam, ia rutin memeriksa keadaan sahabatnya juga bayi dalam kandungan itu.
Jika weekend tiba, terkadang Benedict mengajak istrinya untuk mengunjungi rumah kayu yang berada di tepi sungai, mereka menghabiskan waktu hanya berdua.
Lelaki itu masih saja mengajak istrinya yang tengah hamil itu untuk ber cosplay seperti manusia yang tinggal di hutan, hanya di rumah kayu itu, Ayudia bebas tidak memakai pakaian tertutup, karena hanya ada dirinya dan suaminya saja.
Semakin hari Ayudia semakin mencintai suaminya, begitu juga dengan Benedict yang tidak pernah bosan dengan istrinya, wanita sederhana yang membuat akal sehatnya tak bisa berfikir logis.
Meskipun terkadang masih posesif, setidaknya lelaki itu sudah mengijinkan istrinya untuk bermain media sosial, tentu dengan pengawasannya.
Dari media sosial milik istrinya yang ia baca diam-diam, ia jadi tau, jika Pradikta sedang menjalani terapi psikologis untuk menghilangkan trauma yang dideritanya.
Pradikta juga mengirim foto dirinya dengan Ayudia kecil yang sedang tersenyum ke arah kamera,
Melihat hal itu, Benedict sempat cemburu dan ingin menghapus foto itu, tapi ia tidak ingin bertengkar dengan istrinya, ia tau sekarang ini, Ayudia benar-benar sepenuhnya mencintainya.
Dua bulan kemudian, Benedict menjenguk anak-anaknya, namun tidak bersama Ayudia, dikarenakan, wanita hamil itu disarankan tidak melakukan perjalanan jauh, karena kondisinya tidak memungkinkan, wanita hamil itu juga sekarang lebih sering berada di mansion dan tidak lagi mengikutinya ke kantor.
Hingga umur kandungan Ayudia menginjak usia ke tiga puluh tujuh Minggu, wanita hamil itu sempat mengalami tekanan darah yang tinggi, hal itu membuat Benedict panik, ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya.
Sejak kejadian itu, Benedict memilih bekerja dari rumah, ia mau terus mendampingi istrinya yang sedang menunggu kelahiran buah hati mereka.
Karena tekanan darah lumayan tinggi juga kaki bengkak, Natasha mulai mengatur asupan yang dimakan oleh pasiennya, semacam diet rendah garam.
Seminggu kemudian saat malam hari, Ayudia merasakan rasa mulas, ia menepuk-nepuk tangan yang melingkar pada perutnya,
Benedict terbangun, "kenapa sayang? Apa ada yang kamu rasakan?"tanyanya sambil mengucek matanya.
"Mas aku mulas deh, terus aku kayaknya ngompol deh, kamu coba periksa deh,"jawab wanita itu sambil meringis.
Benedict yang masih dalam keadaan naked, bergegas bangkit, dan memakai celana bokser nya, ia menyalakan lampu, dari remote yang ada di kabinet disebelah ranjang.
__ADS_1
Ia membuka selimut yang menutupi tubuh polos istrinya,
"Sayang, disini basah, apa ini yang namanya air ketuban?"tanyanya bingung.
"Mas, tolong ambilkan aku air hangat," perintah wanita itu, Benedict segera mengambilkan air hangat di dispenser yang ada dikamar itu, ia membantu istrinya duduk untuk meminum air itu.
Setelah mulas hilang, Ayudia kembali tenang, " mas, tolong bantu aku mandi,"
"Sayang ini masih malam, masa kamu mau mandi,"
"Aku minta tolong mas,"mohonnya
Benedict terpaksa menuruti kemauan istrinya, ia menggendong wanita hamil itu menuju kamar mandi,
Ayudia mandi junub setelah berhubungan intim, tentu dengan pengawasan suaminya.
Keduanya hanya mandi, tak ada kegiatan selain itu, karena tadi saat mandi, mulas itu sempat datang sejenak.
Usai mandi Benedict membantu, mengeringkan rambut, juga membantu istrinya berpakaian.
Setelah rapih, Ayudia meminjam ponsel suaminya untuk menghubungi Natasha, mengabari jika dirinya akan segera melahirkan.
Natasha datang terburu-buru menuju kamar sahabatnya, ia Bahkan lupa mengetuk pintu.
Melihat hal itu, Ayudia menggelengkan kepalanya, "Sha, mending Lo cuci muka dulu, terus ikut gue ke rumah sakit sekarang, perintahnya pada sahabatnya itu.
Tiga puluh menit berlalu, Benedict sudah berada di balik kemudi helikopternya, dengan Ayudia dan Natasha di belakangnya, setelah memastikan istrinya merasa nyaman, ia mulai melajukan helikopter berwarna hitam itu.
Terdengar Benedict menghubungi dokter di rumah sakit miliknya, untuk segera bersiap di helipad dipuncak gedung rumah sakit.
Tidak sampai satu jam, helikopter mendarat dengan selamat di helipad rumah sakit,
Sudah ada petugas medis yang menanti kehadiran nyonya besar mereka.
Mulas itu semakin sering datang, dan air ketuban semakin sering keluar, Ayudia langsung dibawa menuju ruang bersalin.
Ada raut kepanikan di wajah Benedict, ia bahkan berkeringat dingin, ia bersyukur setidaknya tadi dia tidak panik saat mengemudikan helikopter.
Natasha keluar menemui sahabatnya, "Ben, tekanan darah Ayu tinggi lagi,"
Benedict yang mengerti maksud dokter sekaligus sahabatnya hanya meminta untuk melakukan yang terbaik untuk istrinya.
Di dalam ruang bersalin, Benedict akhirnya masuk untuk mendampingi istrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan buah cinta mereka.
Ayudia tetap kekeh untuk melahirkan secara normal, akhirnya setelah satu jam berjuang, terdengar suara tangis bayi yang begitu nyaring,
Seorang bayi laki-laki telah lahir dengan sehat dan selamat,
__ADS_1
Benedict mengucapkan terima kasih dan mencium kening istrinya.
Usai membalas ucapan suaminya, Ayudia menutup matanya, hal itu membuat Benedict panik, lelaki itu menepuk pipi istrinya, namun tak kunjung ada pergerakan dari wanita itu.