Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
sembilan puluh enam


__ADS_3

Proyek yang seharusnya diselesaikan selama setahun, bisa diselesaikan oleh Benedict dalam waktu delapan bulan saja, empat bulan lebih awal.


Segala kemampuan yang dimiliki oleh lelaki itu ia curahkan pada proyek kali ini, dan pengusaha asal timur tengah itu mengaku puas dengan hasil karyanya.


Setelah menyelesaikan segala urusannya di pulau pribadi milik klien itu, Benedict tak bisa langsung pulang untuk menemui istrinya, lelaki itu harus kembali dulu ke Amerika.


Sebulan lamanya, lelaki itu mengurus bisnis milik keluarga Wright.


Andai tak memikirkan tanggung jawabnya pada banyak keluarga yang bergantung pada perusahaan itu, lelaki itu lebih memilih menemui istrinya yang masih setia memejamkan matanya.


Dari Oscar ia mendapatkan informasi tentang kondisi istrinya, terkadang saking rindunya ia meminta sahabat untuk melakukan panggilan video, walau tak bisa menatap mata itu, tatapan yang sangat ia rindukan.


Mata itu masih betah terpejam, saat panggilan video berlangsung, sesuai saran Oscar, Benedict menceritakan harinya, juga rasa rindunya pada istrinya.


Usai panggilan video itu berakhir, biasanya dari sudut mata yang masih terpejam itu, keluar air mata.


Sembilan bulan sudah wanita itu tak kunjung membuka matanya, berbagai cara sudah dilakukan tak kunjung membuahkan hasil, bahkan saat kepulangannya ke negara tropis itu, Benedict membawa serta profesor terbaik yang ada di negara Paman Sam.


Namun sayang Istrinya tak kunjung membuka mata.


Hingga tepat bulan ke sepuluh, atas saran dari Amara, dengan terpaksa Benedict memanggil Pradikta, hanya untuk membangunkan istrinya.


Pradikta yang mendengar kabar tentang kondisi Ayudia, terkejut bukan main, lelaki itu sampai lemas, tak habis pikir bagaimana bisa perempuan yang tersenyum sangat manis padanya saat terakhir bertemu, sekarang tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


Pradikta duduk di kursi disebelah ranjang dimana cinta pertamanya tengah tertidur sangat pulas.


Lelaki itu mencium telapak tangan wanita itu lembut, matanya berkaca-kaca, "Assalamualaikum, Ay aku datang,"sapanya lembut,

__ADS_1


Sambil terisak, Pradikta kembali berbicara, "Ay, apa kamu tau, hingga saat ini aku masih disini menunggu kamu, apa kamu tidak merindukan aku Ay? Bisa buka mata kamu untuk aku Ay, bukankah kita saling mencintai Ay, apa kamu ingin aku memenuhi janji yang dulu pernah aku ucapkan? Apa kamu ingin kita lari dari lelaki itu Ay?"


Pradikta mengusap air matanya, "Ay, andai aku tau kamu akan begini, lebih baik aku tahan kamu saat itu, aku tak akan biarkan kamu kembali pada lelaki yang hanya memberikan kamu rasa sakit,"


Lelaki itu mendongakkan kepalanya, air matanya tak mau berhenti mengalir, "aku cengeng banget sih Ay, ayo bangun, bantu aku hapus air mata aku, apa kamu ingin melihat mata aku bengkak karena menangisi kamu?"


"Ay, ayo buka mata kamu, apa kamu nggak merindukan Ainsley dan Aileen, sebentar lagi mereka berumur tiga tahun Ay, apa kamu nggak ingin memasak nasi kuning untuk mereka Ay, seperti kebiasaan kamu dulu saat kita masih SMA, kamu ingat kan, kalau aku ulang tahun kamu sengaja bangun jam tiga buat masakin aku nasi kuning, kita masak bareng buat anak-anak,"


"Kamu tau kan Ay, aku dan mama terima kamu apa adanya, ayo buka mata kamu Ay, kata suami kamu, jika kamu bangun, dia akan mengabulkan apapun permintaan kamu, termasuk jika kamu ingin berpisah darinya,"


"Kita bisa bersatu setelah kamu resmi berpisah dengan dia, kita bisa besarkan Ainsley dan Aileen bersama-sama, nanti mereka juga akan punya adik baru dari aku sama kamu, kamu mau kan Ay?"


"Ayo buka mata kamu Ay, nantinya kalau kita udah nikah, kamu jadi ibu rumah tangga yang nungguin aku pulang kerja, kamu sambut aku bareng anak-anak di teras depan rumah, nanti kita bisa bercerita tentang hari-hari yang kita lalui,"


"Ay, ayo buka mata kamu, banyak yang kangen sama kamu, ingat Ay, aku nunggu kamu membuka mata, aku selalu nunggu kamu,"


Selepas kepergian lelaki itu, Ayudia perlahan membuka matanya, ia melihat langit-langit yang teras asing baginya, namun setelahnya ia menutup matanya lagi.


Perawat yang kebetulan berjaga langsung melaporkan hal itu kepada Oscar dan dokter yang lain.


Kabar gembira untuk orang-orang yang menunggu wanita itu bangun.


Sejak kejadian itu, setiap harinya usai pulang bekerja Pradikta menjenguk cinta pertamanya, banyak yang ia ceritakan tentang hari yang ia lalui, dan reaksi yang ditunjukkan wanita itu sepeninggal Pradikta menunjukan kemajuan pesat,


Dokter memindahkannya ke ruang perawatan biasa.


Hingga seminggu kemudian, Ayudia benar-benar membuka matanya, namun pandangannya masih kosong, mulutnya tak berucap apapun, hanya dengan kedipan mata ia merespon semua rangsangan yang ia terima.

__ADS_1


Sejak istrinya bangun, Benedict hanya melihatnya dari balik kaca, lelaki itu tak berani menunjukan wajahnya, meskipun setiap harinya ia ada di rumah sakit.


Ia hanya pulang untuk sekedar bermain dengan anak-anaknya sebentar.


Pradikta masih mendatangi rumah sakit setiap harinya, masih sama, ia akan bercerita tentang hari yang ia lalui.


Seminggu sejak Ayudia membuka mata, Anin, Aryo dan Arya datang, ketiganya dijemput oleh Nando dari kampung halaman bude Marini.


Ketiganya menangis melihat pandangan kosong kakaknya,


"Mbak Ayu, Arya kangen masakan rica-rica buatan mbak Ayu,"ujar Arya sambil mengelap ingus yang keluar akibat menangis, Aryo juga melakukan hal yang sama.


Giliran Anin, yang menggenggam tangan kakaknya, "mbak Ayu, masa dokter Oscar mau melamar Anin, padahal wisuda aja belum, gimana dong mbak? Anin bingung, ayo mbak ngomong kasih saran buat Anin, mau nolak nggak enak, soalnya dokter Oscar baik banget sama Anin, bahkan skripsi Anin dibantuin segala,"


"Mbak Ayu ingatkan kalau Anin udah selesai kuliah, Anin bakal kerja buat biayain kuliah adik-adik, gantiin mbak Ayu yang selama ini kerja keras, jadi kayaknya, AninĀ  mau tolak aja ya mbak, lamaran dokter Oscar,"


Ayudia mengedipkan matanya beberapa kali, jari-jari tangannya bergerak perlahan,


Melihat hal itu, Anin menyuruh salah satu adik kembarnya memanggil dokter atau perawat, Dokter segera menanganinya.


Benedict masih menunggu di ruangan sebelah, di sana juga ada kedua buah hatinya, juga Anna dan baby sister yang menjaga balita itu.


Salah satu perawat memberitahukan kondisi istrinya, bergegas Benedict menuju ruang rawat istrinya.


Terlihat dokter sedang melakukan beberapa pemeriksaan terhadap pasiennya.


Dokter mengatakan bahwa kondisi Ayudia makin membaik, ia pandangannya tak lagi kosong, namun untuk berbicara, sepertinya masih belum bisa bersuara, entah apa penyebabnya, dokter masih mengamatinya.

__ADS_1


Benedict juga adik-adik Anin merasa lega mendengar kabar baik itu, mereka berucap syukur akan kondisi terbaru Ayudia.


__ADS_2