
"Apa maksud kamu ngomong begitu? Kamu meminta kita berpisah Ay? Kamu nggak mempercayai suami kamu?"Tanya Benedict setelah mendengar perkataan istrinya.
"Apa kamu sekarang tuli? Apa perlu aku ulang kata-kata aku yang tadi?" Tanya Ayudia masih dengan amarahnya.
"Kembalikan barang-barang aku!"Teriak Ayudia.
Benedict menggeleng, "nggak Ay, kamu nggak boleh ninggalin aku, aku nggak mau pisah sama kamu, aku cinta sama kamu,"
"Persetan sama yang namanya cinta, semudah itu kamu ngomong itu ke aku, kamu juga ngomong itu ke dia, kembalikan barang-barang aku sekarang," teriaknya lagi.
Lagi-lagi Benedict menggeleng, "kamu lagi hamil Ay, jangan teriak-teriak, kasihan bayi kita, please turunin amarah kamu,"bujuknya.
Ayudia yang sudah habis kesabarannya, akhirnya berucap, "berisik Lo, balikin barang-barang gue sekarang, apa Lo mau lihat gue berbuat nekad,"
Benedict menatap sedih, "please Ay, jangan kayak gini, oke aku jelasin soal telepon aku semalam, tapi kamu tenang ya, kita duduk dulu,"ucapnya mencoba bersabar menghadapi wanita hamil itu.
Ayudia menuruti permintaan suaminya, mereka duduk di sofa yang menghadap balkon, namun wanita hamil itu tak mau didekati oleh suaminya, ia memilih duduk jauh dari lelaki itu.
"Maaf Ay, yang semalam telpon sama aku adalah tunangan aku disini,"ucap Benedict menjelaskan,
Mendengar itu Ayudia langsung bangkit, Benedict bangkit buru-buru memegang lengan istrinya, "aku belum selesai jelasin ay, please duduk dulu,"bujuknya.
Benedict menghela nafas, "aku terpaksa Ay, wanita itu adalah anak dari salah satu dewan direksi di perusahaan, uncle menyuruh aku bertunangan dengan wanita itu agar bisa menyelidiki penyelewengan dana yang dilakukan oleh ayah dari wanita itu, kebetulan wanita itu menyukai aku, jadi dia bisa aku manfaatkan untuk mencari bukti kejahatan ayahnya, maaf Ay, aku nggak bermaksud menyakiti kamu, hanya kamu perempuan satu-satunya yang aku cintai, please ngertiin aku untuk kali ini," jelasnya panjang lebar.
Ayudia menatap Benedict, "oke aku terima, tapi tetap aku minta kembalikan barang-barang aku,"ujarnya tetap kekeh.
"Please Ay, jangan kayak gini, jangan tinggalin aku, aku nggak sanggup kalau nggak ada kamu,"ucap Benedict memohon.
"Kembalikan barang-barang aku,"bentak Ayudia.
Benedict yang mulai hilang kesabaran menghadapi istrinya akhirnya terpancing amarah juga, ia mencengkram lengan Ayudia, ia menatap tajam wanita dihadapannya, nafasnya mulai memburu, "nggak, kamu milik aku Ay, kamu nggak boleh pergi dari aku, sampai kapanpun aku nggak akan lepasin kamu,"
__ADS_1
Bukannya takut Ayudia malah mendorong kuat Suaminya, "gue milik gue sendiri, gue mau pergi sekalipun itu hak gue, Lo itu cuman orang asing di hidup gue, jangan salahkan, kalau gue bakal nekad, kalau lo nggak balikin barang-barang gue,"bentaknya, wanita hamil itu berlalu menuju kamar.
Entah mengapa, Ayudia bahkan tidak bisa menangis, padahal harusnya ia menangis, ia jadi heran dengan dirinya sendiri.
Setahunya kalau wanita hamil lebih sensitif dan gampang menangis, mengapa ia malah terasa biasa saja, hanya amarah yang menyelimutinya, bahkan sebagai wanita hamil, ia tidak merasakan mual di pagi hari, makanan semuanya masuk, tak ada yang dia pilih-pilih, asal halal, ia akan memakannya.
Sejak kejadian pagi itu, Ayudia semakin dingin pada suaminya, meskipun masih tidur satu ranjang, tapi ia tak mau menemani suaminya saat sarapan dan makan malam, ia juga tak mengantar atau menyambut suaminya pulang bekerja, setiap ditanya, wanita itu diam saja, saat hendak dicium atau di peluk, ia juga menghindar.
Malam itu saat Benedict tidur pulas disampingnya, perlahan ia bangkit dan berjalan keluar, menuju ruang kerja milik suaminya, ia berniat menggeledah ruangan itu, guna mencari keberadaan barang-barangnya, namun setelah mencari di setiap laci atau lemari, ia tak kunjung menemukannya, ia jadi kesal sendiri.
Ia keluar dari ruangan itu menuju dapur, sepertinya perutnya tiba-tiba lapar.
Ia memakan beberapa pisang dan anggur sambil melihat pemandangan kota.
"Ay, apa kamu lapar? Mau aku buatin makanan?"tanya Benedict yang terbangun.
Tak ada tanggapan apapun dari Ayudia, wanita hamil itu masih sibuk mengunyah pisang ke tiga yang dimakannya.
"Ay, udah cukup beberapa hari ini kamu diamkan aku, please tolong mengerti aku,"ucap Benedict memohon, lelaki itu bahkan duduk dilantai sambil memegang kedua lutut istrinya.
Ayudia menghela nafas, tanpa menatap suaminya ia bergumam, "balikin barang-barang gue,"
Benedict meletakan keningnya di lutut istrinya, lalu ia menatap wajah wanita dihadapannya, "jangan yang itu Ay, kalau memang kamu mau jalan-jalan, oke aku turutin, besok aku akan cuti sehari buat ajak kamu jalan-jalan ya!"bujuknya.
"Kembalikan barang-barang aku,"ucap Ayudia kekeh dengan pendiriannya.
Setelah mengatakan itu, Ayudia bangkit meninggalkan suaminya itu.
Sudah seminggu, Ayudia mendiamkan suaminya, hari ini waktunya dokter Natasha datang untuk memeriksanya.
Tidak ada masalah dalam kandungannya, Ayudia lega mendengarnya.
__ADS_1
Seperti biasa, Natasha selalu membawakan pesanan makanan untuk ibu hamil itu, hari ini, wanita itu membawakan nasi rendang, mereka makan bersama diselingi dengan obrolan kegiatan dokter itu di rumah sakit, Ayudia lebih banyak mendengar dan sedikit menanggapi curhatan dokter yang sekarang menjadi sahabatnya.
Saat keduanya selesai makan, Natasha meminta ijin untuk menggunakan toilet. pada kesempatan itulah, secara diam-diam Ayudia mengambil key card milik wanita itu.
Beberapa menit berlalu Natasha undur diri, ia ada janji dengan salah satu dokter di rumah sakit, namun saat merogoh kantong jas dokternya, ia kehilangan key card nya, ia panik, ia bertanya pada Ayudia namun wanita hamil itu berkata, "mungkin lo lupa menaruhnya, tadi pas masuk kesini kan bareng sama tukang bersih-bersih, jadi kayaknya Lo nggak ngeluarin key card deh,"
"Bener juga sih yu, kayaknya gue lupa deh,"ucap Natasha pasrah.
Akhirnya dokter itu pamit untuk pulang.
Ayudia tersenyum senang, satu rencananya berhasil, tinggal membujuk suaminya untuk memberikan paspor dan dompet miliknya.
Sepertinya sudah cukup sikap keras kepala Ayudia, ia berfikir untuk mencoba cara halus dalam membujuk suaminya, agar menuruti maunya.
Tapi sepertinya ia tak berniat menggoda suaminya, membayangkan saat suaminya berciuman dengan tunangannya saja rasanya ia jadi mual.
Mungkin ia harus lebih lama bersabar dalam mendiamkan suaminya.
Malam itu, Benedict pulang dari kantor, ia lelah menyelesaikan permasalahan yang sedang menimpa perusahaannya, ia butuh Ayudia, ia ingin memeluk wanita hamil itu.
Bergegas ia segera membersihkan diri dan berganti baju.
Benedict berjalan menuju ranjang, suasana kamar gelap, hanya ada cahaya lampu kelap kelip kota di balik dinding kaca kamarnya.
Namun lelaki itu tak mendapati keberadaan wanita itu di ranjangnya, ia menyalakan lampu, dan benar saja, kamarnya kosong.
Benedict mengecek kamar lain yang ada di penthouse miliknya, ia bahkan keluar menuju kolam renang, tak ada tanda-tanda keberadaan istrinya.
Lelaki itu semakin panik, setiap ruangan yang ada, ia cek satu persatu.
Sampai akhirnya Benedict memutuskan untuk mengecek Cctv yang ada di penthouse, ia berjalan menuju ruang kerjanya,
__ADS_1
Sebelum itu, ia hendak memastikan apakah barang-barang milik istrinya, masih aman di tempatnya.
Benedict menarik salah satu buku di rak disamping meja kerjanya, rak bergeser ada tempat rahasia dibaliknya, lelaki itu masuk agak lama.