
Ayudia menjadi semakin pendiam, wanita hamil itu memang masih tersenyum, namun dari wajahnya terlihat jelas kesedihan yang menyelimuti.
Benedict tak bisa berbuat banyak, ia tidak akan melepaskan istrinya, walau ia tau hal ini akan menyakitinya.
Walaupun seandainya ia mau merelakan Ayudia, tetapi ada bayi diantara mereka, yang tak dipungkiri hal itulah yang membuat wanita itu masih ada disisinya hingga sekarang.
Benedict bersyukur setidaknya kehadiran janin itu, membuat Ayudia tidak akan dengan mudah pergi dari sisinya.
"Ay, lusa kita berangkat ya! Kamu cukup bawa barang yang menurut kamu berharga, masalah baju, aku udah minta tolong asisten aku di sana untuk siapkan baju buat kamu,"
Ayudia yang tengah melamun, mengalihkan pandangan pada suaminya, ia tersenyum, "iya mas, paling aku bawa perhiasan dari ibu kamu sama barang yang menurut aku berharga, terus kita pamit sama ibu kan?"
"Oke, kalau kamu memang ingin, nanti kita hubungi ibu sebelum berangkat,"
Keheningan kembali menyelimuti keduanya, "Ay, apa ada yang sedang mengganggu pikiran kamu?"tanya Benedict tak yakin,
"Maksud kamu?"tanya Ayudia balik,
"Hanya ingin bertanya saja, apa kamu ada masalah? Kamu bisa cerita sama aku, aku suami kamu Ay,"
"Nggak ada yang perlu di ceritakan Oke,"ucap Ayudia berlalu meninggalkan suaminya.
"Kamu mau kemana Ay?"ucap Benedict mengejar istrinya.
"Aku mau ke rumah bibi, setidaknya aku harus berpamitan langsung sama bibi kan,"
"Aku antar,"
Ayudia berkunjung ke rumah bibinya untuk berpamitan tak lupa wanita hamil itu menengok rumah milik orang tuannya, yang sekarang sedang direnovasi dan setelahnya akan ia sewakan, agar uang sewanya bisa dimanfaatkan untuk keperluan Adik-adiknya kelak.
Walau sebenarnya rasanya berat, namun Ayudia berusaha ikhlas merelakan rumah itu.
Sore hari sepulang dari rumah milik orang tuanya, Sepasang suami istri itu menemui Anna di cafe yang dikelola Rama,
Hal itu membuat mantan rekan kerjanya bertanya-tanya, mengapa Ayudia bisa datang bersama dengan Salah satu teman bos mereka.
__ADS_1
Cafe ditutup selama satu jam untuk pengunjung, Ayudia berpamitan secara resmi kepada seluruh rekannya, dan mengakui statusnya kini, walau mereka cukup kaget mendengarnya sepertinya mereka menerimanya terutama Ica.
Dengan memesan catering milik ibu dari Rama, Ayudia mengadakan syukuran kecil-kecilan, sahabat suaminya juga berkumpul, tak terkecuali Nando, karena lusa, sahabat Benedict akan mengantarnya ke US.
Ibu terlihat bahagia melihat kebahagiaan anak dan menantunya berkumpul bersama teman-temannya.
"Nduk, di sana kamu jaga kesehatan ya, jaga diri dan cucu ibu baik-baik, apapun yang terjadi tolong dampingi Ben, mesti banyak sabar menghadapi keras kepalanya suami mu ya, dan terima kasih soal yang kemarin," ucap Anna saat dirinya hanya berdua dengan menantunya.
"Iya Bu, doain ya Bu, terus kalau Ayu lahiran, tolong usahain datang dan dampingi Ayu ya bu,"
"Iya nduk, ibu usahakan,"
Menantu dan mertua itu saling berpelukan.
Satu jam kemudian, acara sudah selesai dan cafe kembali dibuka, namun terdengar teriakan dari cafe, Ayudia dan Anna yang sedang berada di belakang bergegas menuju ke arah datangnya keributan itu.
"Ben please, kembali sama aku, aku masih cinta sama kamu, apapun akan aku lakukan agar kamu mau kembali sama aku," ungkap Lusi frustasi.
Itu Lusi yang sedang bersimpuh di hadapan Benedict yang ditahan oleh Alex dan Oscar.
Melihat suaminya mengamuk, Ayudia bertanya pada Nia yang kebetulan berada tak jauh darinya,
"Itu yu, mbak Lusi tiba-tiba datang langsung mencium mas Ben, mas Ben nggak terima dan dorong mbak Lusi,"jelas Nia
Mendengar hal itu, Ayudia dan Anna saling pandang, mungkin dalam pikiran kedua wanita berbeda generasi itu, sama, satu kata untuk Lusi Nekat.
"Nduk, kayaknya Ben lagi emosi banget, mending coba kamu tenangkan dia, bawa Ben pergi dari sini,"saran Anna.
"Baik Bu, sekalian Ayu pamit bu, makasih banyak ya Bu, sampai ketemu lagi,"ucap Ayudia mencium tangan dan memeluk ibu mertuanya itu.
Belum sampai Ayudia menuju suaminya, Arnold datang, melihat Lusi bersimpuh, lelaki beranak satu itu langsung menghajar Benedict.
"Lo apain Lusi brengsek? Nggak cukup kemarin Lo masukin gue ke penjara," teriak Arnold.
"Tanya tuh ****** sialan Lo itu, jijik gue sama dia,"Benedict tak kalah berteriak, ia bahkan meludah tepat dihadapan wanita yang sedang bersimpuh itu.
__ADS_1
Lusi menangis semakin menjadi-jadi, ia bahkan histeris setelah Benedict meludah tepat dihadapannya, "Ben, jangan begini Ben, aku sayang banget sama kamu, aku tau kamu juga merasakan hal sama kayak aku, kita kan saling mencintai, aku cinta pertama kamu kan? Kalau kamu minta aku buat tinggalin Arnold, akan aku lakukan asal kamu mau kembali sama aku, please Ben,"
Arnold yang mendengar pengakuan istrinya, sampai tercengang, lelaki itu jatuh terduduk, lemas seketika, selama belasan tahun ia hidup bersama dengan Lusi, namun hati istrinya bukan untuknya.
Ayudia datang, ia berjongkok disamping Lusi, wanita hamil itu memeluknya, mencoba menenangkannya, "bangun mbak, ngobrolnya sambil duduk ya, nggak enak sama yang lain, cafe udah mau buka,"bujuknya.
Lusi menuruti apa kata Ayudia, keduanya duduk bersebelahan disalah satu kursi yang ada di cafe, tak lupa Ayudia memberikan botol air mineral yang tadi sempat ia minta pada salah satu mantan rekannya.
Lusi lebih tenang setelahnya, walau masih sesenggukan, "makasih yu,"
"Sama-sama mbak, kalau boleh sebenarnya ada apa mbak, kenapa mbak sampai duduk dilantai,"
"Yu, menurut kamu, apa aku salah kalau aku memperjuangkan cinta aku, aku cinta banget sama Ben, dari dulu hingga sekarang, belasan tahun aku nunggu Ben datang, tapi dia nggak datang juga,"
"Bukankah mbak Lusi udah menikah dan bahkan sudah ada anak diantara kalian? Apa waktu belasan tahun yang mbak habiskan bersama suami mbak Lusi, tak berarti apa-apa? Apa kehadiran Cleo tidak berarti apa-apa? Sementara lelaki yang baru datang setelah sekian lama menghilang, bisa merubah waktu belasan tahun itu menjadi tiada berarti?"
Mendengar itu, Lusi menunduk, "tapi aku cinta sama Ben,"gumamnya pelan.
"Apa jika mas Ben mau kembali kepada Mbak Lusi, apa mbak bisa menjamin mbak bisa bahagia? Apa dengan kalian bersatu, kalian bisa sama-sama bahagia?"
"Cinta nggak harus memiliki mbak, cukup cinta itu, mbak simpan disudut hati terdalam, jangan egois mbak, apa Mbak nggak memikirkan perasaan Cleo, kalau tau mama dan papanya saling menyakiti,"
"Semua keputusan ada ditangan mbak Lusi, pikirkan baik-baik langkah kedepannya, mudah-mudahan mbak Lusi bahagia dengan atau tanpa mas Ben,"
Benedict yang berdiri tak jauh dari sana angkat bicara, "apa maksud kamu Ay?"tanyanya tak terima.
"Diem dulu Ben, jangan protes,"bisik Nando yang ada dibelakangnya.
Ayudia hanya melirik sekilas pada suaminya, "mbak Lusi, aku pamit dulu ya, kebetulan ini hari terakhir aku ada disini, aku mau ikut suami aku kerja,"
"Kamu sudah menikah Ayu?"
"Udah mbak, Ayu harap jika kelak kita ketemu, mbak Lusi bisa lebih bahagia," ujarnya memeluk mantan pacar suaminya itu.
Ayudia berlalu meninggalkan Lusi, Benedict dan sahabatnya mengikutinya dari belakang.
__ADS_1