Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
enam puluh


__ADS_3

Seperti biasa Anna menemani menantunya saat siang hingga sore hari.


Perempuan paruh baya itu selalu membawakan makanan sehat untuk ibu hamil yang ia pesan dari salah satu catering yang menyediakan makanan sehat.


"Nduk, boleh ibu bertanya?"Tanyanya lembut, saat keduanya sedang makan siang.


Ayudia mengangguk, "setelah melahirkan, kamu mau tinggal dimana? Bukankah rumah orang tua kamu, disewakan?"


Wanita hamil itu terdiam sejenak, mungkin sedang berpikir.


"Boleh ibu beri saran?"


Lagi-lagi Ayudia hanya mengangguk, "apa sebaiknya kamu tinggal di rumah Ben, setidaknya sampai kamu benar-benar sudah sehat dan kuat, ibu yang melahirkan bayi kembar kondisi fisiknya berbeda dengan yang hanya melahirkan satu bayi, setidaknya satu atau dua tahun kamu tinggal di sana, sampai anak-anak bisa ditinggal, jika kamu suatu saat ingin mencari nafkah, kan nggak enak kalau selamanya kamu tinggal disini, walau Natasha nggak keberatan, tapi mungkin suatu saat dia berumah tangga yang nantinya bakal ada suaminya," ungkap Anna.


"Ayu pikirin ya Bu,"


Selang dua hari dari pembicaraan itu, Anna hendak berpamitan akan pulang sore itu, Ayudia memberikan jawabannya, wanita hamil itu mau jika harus tinggal di rumah milik suaminya.


Mendengar hal itu, Anna segera memeluk menantunya, ia berterima kasih pada Ayudia, karena mendengarkan sarannya.


Saat dalam perjalanan pulang, Anna menghubungi putranya, wanita tua itu memberitahukan, bahwa Ayudia mau tinggal di rumah putranya itu.


Benedict tentu bahagia, ia menghubungi Rama untuk memanggil pekerja yang akan ia pekerjakan untuk membuat kamar untuk bayi kembarnya.


Calon Ayah itu bergerak cepat dalam mengisi perabotan rumah yang akan ditempati istri dan anak-anaknya kelak, ia dibantu oleh ibunya.


Selain kamar bayi, Benedict juga berbelanja segala kebutuhan bayi baru lahir.


Lelaki itu antusias menyiapkan semuanya, ia bahkan langsung turun tangan membantu para pekerja mempersiapkan kamar bayi, ia juga yang mendesign kamar itu.


Ia mengerahkan semua kemampuan terbaiknya sebagai seorang arsitek sekaligus design interior.


Tidak sampai seminggu kamar bayi serta isi rumah itu sudah siap huni.


Benedict juga meminta bantuan ibunya juga Rama untuk mencarikan asisten rumah tangga, tukang kebun dan sekuriti untuk rumah yang akan istrinya tempati.


Setelah keberadaan Ayudia diketahui oleh Benedict, pemeriksaan yang biasa dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sekarang dilakukan secara terang-terangan, bahkan saat kedatangan wanita hamil itu untuk pemeriksaan, ia sampai disambut oleh Oscar dan beberapa petinggi rumah sakit.

__ADS_1


Seperti biasa ada Nando yang mendorong kursi roda dan Anna yang berada di sebelahnya.


Memasuki poli kandungan, tanpa mengantri, Ayudia langsung masuk kedalam, ada Natasha dan asistennya yang memeriksanya.


Assisten Natasha mengoleskan gel dingin pada perut besar Ayudia, terlihat ada pergerakan bayi dari dalam perut,


Natasha mengamati bayi kembar itu dari layar USG, "Ayu, apa kamu ingin tetap lahiran normal?"tanyanya.


Ayudia mengangguk, "ketubannya masih cukup sih, tapi berat bayi yang cowok udah lebih dari cukup untuk dilahirkan sekarang, jadi gimana?"tanya Natasha lagi.


Perut Ayudia dibersihkan menggunakan tisu oleh assiten Natasha, ia juga dibantu untuk bangun.


"Saran aku, coba minta bantuan sama suami kamu?"ucap Natasha.


Ayudia mengernyit bingung, "apa hubungannya dokter?"


Natasha melirik gorden yang terletak disamping ranjang, ia menghela nafas, "ibu hamil yang sudah mendekati HPL dan ingin melahirkan secara normal, jika belum merasakan kontraksi, maka harus sering berhubungan intim dengan suaminya, hal itu untuk memicu kontraksi yang memudahkan proses kelahiran secara normal, kecuali kalau memang kamu ingin operasi, kita bisa melakukan operasi sekarang juga,"


Ayudia sampai melongo mendengar ucapan dokter kandungannya sekaligus sahabatnya.


"Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa cek di google,"


"Sekarang terserah elo Ayu, semuanya kembali ke elo, kalo Lo mau operasi, gue tinggal telpon kamar operasi buat siapin semuanya,"sahut Natasha pada sahabatnya.


"Emang nggak ada obat buat memicu kontraksi sha?"protes wanita hamil itu.


"Cara Alami lebih aman Ayudia, kalo Lo nggak percaya, Lo tanya mertua Lo tuh,"Natasha lama-lama hilang kesabaran menghadapi sifat keras kepala sahabatnya.


"Lo kok galak jadi dokter, gue kasih tau sama atasan Lo nih,"canda Ayudia.


"Silahkan Ayudia, dengan senang hati, paling entar gue dibeliin tas Hermes dan liburan di private Island,"


"Lo mau jadi penghianat sha?"


"Kalau model temen kepala batu kayak Lo, nggak masalah gue berkhianat,"ucap Natasha tertawa.


Ucapan Natasha mengundang tawa Anna dan Nando yang sedari tadi diam saja.

__ADS_1


Ayudia menjadi kesal, "awas Lo sha, semua makanan yang ada di kulkas Lo, gue abisin, biar Lo kelaparan malem-malem,"ancamnya.


"Abisin Ayu, entar gue tinggal telpon, terus gotcha kulkas terisi penuh,"


"Gue pergi nih dari rumah Lo," Ayudia mengancam.


"Silahkan, entar gue bantu beberes terus gue anterin sekalian ke rumah baru Lo,"sahut Natasha tidak mau kalah.


Ayudia mengelus perutnya, "jangan sampai Anak gue ngeselin nya kaya Lo sha,"


"Gue doain mudah-mudahan anaknya Ayu jangan kepala batu Macam emaknya,"


Anna, Nando dan assisten Natasha kompak meng amin kan doa dokter kandungan itu.


Ayudia yang kesal langsung bangkit dari tempat duduknya, "ayo A, ibu kita pulang, aku mau pergi dari rumah dokter ngeselin, awas Lo ya sha, gue berantakin koleksi album BTS Lo,"


Mendengar itu Natasha yang seorang Army, mendadak panik, ia mengejar sahabatnya, "Ayudia cantik temen gue yang paling baik, jangan berantakin barang kesayangan gue dong, gue janji deh bakal masakin ramen favorit Lo, please,"mohonnya.


Ayudia tersenyum jahil, "udah ah, pasien Lo udah ngantri tuh, gue balik ya!"


Natasha mengangguk dan kembali kedalam untuk menangani pasiennya yang lain, sedangkan Ayudia berlalu meninggalkan poli kandungan itu.


Di mobil, Ayudia meminjam ponsel milik Nando, ia ingin memastikan apakah benar, apa yang dikatakan sahabatnya itu.


Dan ternyata sahabatnya tidak membohonginya,


"Ibu dan AA, Ayudia mau pindah rumah sekarang, bisa nggak?"ungkapnya.


Mendengar itu, Nando terkejut, hingga mengerem mendadak, "biasa aja dong A, nggak usah kaget gitu, bayi ayu kaget nih,"protesnya sambil mengelus perut buncit itu.


"Kamu serius Ayu?"tanya Anna tak percaya.


"Iya bu, Ayu mau pindah,"


Anna berucap syukur dalam hati,  ia mengirimi puteranya pesan.


Nando yang baru saja mendapatkan pesan dari sahabatnya yang memintanya untuk segera mengantarkan Ayudia ke rumah miliknya.

__ADS_1


Benedict yang masih berada di rumah sakit setelah menguntit istrinya segera bergegas menuju ke rumah yang sudah ia siapkan untuk istri dan anak-anaknya.


Rasanya sangat bahagia mendengar istrinya mau menempati rumahnya, ia berharap kehidupan rumah tangganya bisa diselamatkan.


__ADS_2