
Pasangan suami istri itu masih terengah-engah karena kegiatan yang menguras tenaga juga pikiran keduanya, saat pintu diketuk.
"Itu mungkin pesanan kita, aku ambil dulu ya! Kalau kamu mau mandi, atau sekedar membersihkan diri, kamu bisa pakai kamar mandi yang ada di sana,"ujar Benedict sambil menunjuk sudut dinding tak jauh dibelakang kursi kebesaran miliknya.
Ayudia bergegas memunguti pakaiannya yang berceceran akibat ulah suaminya, ia berjalan menuju dinding yang jika di dorong adalah sebuah pintu ruangan sebuah kamar, sedangkan Benedict memakai celananya juga kemejanya, menuju pintu dimana bawahnya membawa pesanannya.
Hal yang pertama Ayudia lihat begitu membuka dinding itu adalah takjub, ia tak menyangka ada kamar mewah dengan ranjang king size di ruang kerja suaminya.
Sebelum memasuki kamar mandi ada walk in closet sama seperti di rumah besar, dengan jejeran pakaian formal seperti jas atau kemeja, ada sedikit kaos juga celana, serta aksesoris khas laki-laki seperti jam tangan mewah, ikat pinggang juga penjepit dasi yang kesemuanya berharga mahal.
Ayudia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun belum selesai dia menyelesaikan ritual mandinya dibawah guyuran shower, ada tangan yang memeluk pinggangnya, siapa lagi kalau bukan suami mesumnya.
"Mas, aku mau cepat mandi, aku lapar, jadi jangan ganggu aku,"protesnya pada suaminya.
"Sayang, aku bisa loh bantu kamu gosok punggung, biar lebih bersih,"rayunya.
"Aku tau, ujungnya bakal kemana mas,"
"Kalau kamu tau, ayo kita lakukan, aku akan melakukannya dengan cepat, oke!"
Tentu wanita itu tak berdaya untuk menolak ajakan suaminya.
Namun lagi-lagi laki-laki itu membohonginya, yang bilang dilakukan dengan cepat, bahkan memakan waktu lebih dari tiga puluh menit.
Ayudia keluar dari kamar mandi masih menggunakan bath robe dengan handuk melilit kepalanya, sedangkan suaminya hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi organ vitalnya.
Benedict memilihkan kaos oblong putih dan celana bokser untuk istrinya, sedangkan dirinya hanya mengenakan celana bokser.
"Mas kamu nggak pakai baju? Kalau ada yang lihat, malu,"
"Biar gampang kalau mau nambah,"ujarnya tersenyum menggoda.
Ayudia memutar bola matanya malas, suaminya benar-benar mesum sekali.
Keduanya makan pesanan mereka, nasi kari ayam juga ayam goreng cepat saji, seperti biasa, Benedict akan disuapi oleh istrinya.
"Mas abis ini kita pulang ketemu anak-anak ya!"ucap Ayudia ketika keduanya baru saja menyelesaikan makannya.
"Kalau kamu kangen, kamu bisa panggilan video sama mereka,"
__ADS_1
"Aku udah beberapa hari nggak tidur sama mereka mas,"
"Mulai sekarang kamu tidur harus sama aku, mereka udah besar kalau kamu lupa,"
"Iya sih, cuman kangen aja, sesekali kita tidur berempat,"
"Tapi nanti bukan sekarang atau beberapa hari ini,"
"Terus abis ini kita ngapain?"
"Maunya kamu kita ngapain?"tanya lelaki itu balik.
"Jalan-jalan ke sekitar sini yuk,"
"Lain kali aja ya! Sekarang mendingan kita tidur,"
"Tadi kamu nanya ke aku, pada akhirnya kamu yang memutuskan,"
"Aku kan suami kamu, oh ya mulai besok aku udah mulai kerja, aku mau cepat menyelesaikan kerjaan aku disini, biar bisa bulan madu sama kamu,"
"Dari kemarin bulan madu Mulu mas,"
"Apa kamu keberatan?"
"Kata siapa sih? Bahkan setelah delapan tahun kita bersama, apa menurut kamu aku pernah berhenti mencintai kamu, Bahkan saat aku mengucapkan kata talak itu, aku rasanya mau mati saja, penyesalan terbesar aku seumur hidup, dan itu nggak akan aku ulangi,"
"Iya deh suamiku yang ganteng dan kaya juga baik hati, aku percaya sama kamu, jadi gimana kalau kita sikat gigi dan bersih-bersih lalu kita tidur,"
Benedict mengangguk dan menggandeng istrinya menuju kamar mandi.
Kehidupan yang diinginkan oleh Benedict akhirnya tercapai, ia sengaja membuat ruang kantor yang dilengkapi kamar pribadi, agar suatu saat ketika dirinya berkerja, ada istrinya yang selalu berada disisinya.
Lelaki itu lebih bersemangat bekerja dengan kehadiran wanita yang dicintainya.
Selain menyelesaikan pekerjaan perusahaan Wright disela-sela kesibukannya, ia masih menggambarkan design bangunan untuk para koleganya.
Setiap ada proyek yang mengharuskan dirinya untuk keluar kota atau keluar negeri, ia akan turut membawa istrinya.
Sedangkan anak-anaknya bersama neneknya di Mansion, kedua bocah itu mulai pendidikan homeschooling yang cukup padat, ada tutor yang setiap hari ada, dari pagi hingga sore menjelang.
__ADS_1
Untuk sekolah tingkat dasar, selain pelajaran umum seperti di sekolah keduanya diajarkan berbagai bahasa juga tata Krama.
Itu dilakukan untuk mempersiapkan keduanya sebagai pewaris keluarga Wright.
Awalnya Ayudia keberatan dan marah besar, ia tak tega melihat tekanan yang diterima oleh kedua anak-anaknya terutama Ainsley.
Sebagai cucu pertama juga laki-laki di keluarga Wright, itu sudah menjadi kewajibannya untuk mewarisi perusahan.
Ayudia tak punya pilihan lain, hanya bisa melihat anaknya belajar dengan keras, terkadang saat ia bertemu dengan anak-anaknya, ia hanya bisa memeluk, juga meminta maaf karena masa kanak-kanak mereka tidak dihabiskan sebagai mana anak-anak seusia mereka.
Pernah suatu ketika Aileen mengeluh, "Bun, Ai kangen suasana rumah nenek, pengen main sama Mila dan putri, kapan sih Bun, kita pulang kampung?"
Ayudia menanggapi dengan memeluk juga meminta maaf.
Sedangkan Ainsley menjadi semakin dingin pada orang disekelilingnya, ia jadi jarang berbicara atau bercanda bahkan tertawa lepas,
Tawa bocah itu telah hilang, hal itu membuat Ayudia bersedih, tapi tak bisa berbuat banyak, lagi-lagi hanya ungkapan kata maaf dan pelukan yang ia berikan pada anak-anaknya.
Sudah lima tahun lebih Ayudia dan anak-anaknya menjalani hidup seperti ini,
Ayudia selalu mengikuti kemanapun suaminya pergi, wanita itu hanya bertemu dengan anak-anaknya di akhir Minggu, itupun kalau suaminya tidak ada pekerjaan di luar negeri.
Lama-kelamaan jenuh juga wanita itu menjalani hidup seperti ini, bukannya tidak mau bersyukur, hanya saja ia kangen kesederhanaan hidup di desa.
Pagi-pagi dia sudah memasak untuk sarapan anak-anaknya, mengantar sekolah, mengobrol sebentar dengan wali murid lain atau guru yang membimbing anak-anaknya.
Rutinitas ke pasar belanja sayur, mencuci baju, apapun pekerjaan rumah tangga, bahkan ia berkebun dan berternak ikan.
Kehidupan sederhana yang membuat dirinya dekat dengan anak-anaknya.
Hari-harinya sekarang hanya diisi dengan menemani suaminya, mengurus keperluannya, ia bahkan tidak bisa hanya belanja bulanan seorang diri, semua sudah ada yang mengatur,
Lima tahun ia menjalani hidup yang menurutnya membosankan.
Untuk memiliki anak lagi sebenarnya pernah ia hamil lagi setelah pasangan suami-isteri itu menikah kembali, namun dirinya tak tau jika dirinya berbadan dua, sementara suaminya setiap berhubungan badan, selalu berakhir brutal, karena itulah, ia mengalami keguguran,
Hal itu membuat hubungan keduanya sempat merenggang, namun dengan Egois, Benedict tak mau istrinya meninggalkannya.
Sepertinya kesabaran wanita yang sudah mulai berhijab beberapa tahun ini, sudah berada di ambang batas.
__ADS_1
Suaminya benar-benar keterlaluan dan egois, bahkan saat anaknya sakit, ia malah menyuruh ibunya yang menjaga anaknya, sedangkan Ayudia harus bersama dirinya.
Diam-diam wanita itu merencanakan sesuatu.