Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan puluh satu


__ADS_3

Ayudia heran dengan suaminya, padahal kalau dipikir-pikir, lelaki itu tidak kekurangan kasih sayang dari seorang ibu sejak kecil, hanya saat menginjak dewasa, lelaki itu jauh dari sosok ibu, namun mengapa suaminya itu begitu manja padanya.


Benedict benar-benar menempel terus pada istrinya, apapun yang istrinya lakukan, ia akan mengikutinya, kecuali saat buang hajat saja.


Anna yang melihat tingkah laku puteranya hanya bisa menggelengkan kepalanya, perempuan paruh baya itu seperti tak mengenali puteranya sendiri, padahal dari lahir sampai berumur tujuh belas tahun, ia benar-benar mengurus puteranya sendiri, dan puteranya termasuk tipikal anak yang dingin.


"Ben, kamu nggak malu sama anak-anak, manja banget sih, nempel mulu sama mantu ibu, risih tau ibu lihatnya,"ungkap Anna karena sudah tak tahan melihat perilaku putranya.


"Ya nggak usah dilihat Bu, Mereka kan masih kecil Bu, belum bisa ngomong juga, lagian manja sama istri sendiri masa nggak boleh sih,"gerutu lelaki yang sedang menyandarkan kepalanya pada bahu istrinya.


"Nggak sesuai sama badan kamu Ben, badan gede tapi kelakuan kayak bocah,"


"Lihat tuh Ay, masa ibu marahin aku mulu, padahal kamu kan nggak keberatan kalau aku manja sama kamu iya kan?"ujar Benedict mengadu pada istrinya.


"Malu Ben, ibu lihat kelakuan kamu, geli ih, mending ibu main sama Ainsley sama Aileen,"ujarnya sambil berlalu meninggalkan pasangan suami istri yang sedang duduk di kursi tak jauh dari kolam renang.


"Bagus deh ibu ngertiin Ben, yang pengen berduaan sama istrinya," teriaknya pada ibu kandungnya.


"Kamu nih mas, nggak enak sama ibu,"


"Biarin aja sih Ay, aku tuh kangen sama kamu, pengen berduaan terus sama kamu,"


Benedict mengangkat tubuh istrinya agar wanita itu duduk dipangkunya lalu memeluknya dari belakang.


"Kamu ih, jangan gini, nggak enak kalau ada yang lihat,"ujar Ayudia mencoba bangkit dari pangkuan suaminya.


Tentu saja Benedict tak akan membiarkan istrinya lepas dari rengkuhannya, "kalau malu disini, gimana kalau kita dikamar saja,"bisiknya.


"Bahaya mas kalau dikamar, pasti ujung-ujungnya bakal begituan,"


"Kamu trauma Ay, gara-gara terakhir aku kasar saat melakukannya, hingga buat kamu sampai tak sadarkan diri?"


"Kalau trauma sih enggak, mungkin jadi lebih waspada aja sih, abisnya kamu kayak mau ngabisin aku, emang nggak bisa saat gituan, kamu lebih lembut?"


"Ya kan biasanya aku lembut ay, karena terakhir aku emosi aja, makanya aku kasar,"


Ayudia terdiam sejenak, sepertinya setiap berhubungan intim dengan suaminya, memang awalnya lembut, tapi lama kelamaan lelaki itu tak bisa mengendalikan dirinya,


"Memangnya kapan kamu bisa lembut soal begitu?"


"Aku lembut Ay, aku kan melakukannya dengan cinta,"


"Iyain biar cepat, mas ngomong-ngomong sebelum kejadian itu, aku kan cerita mau pasang kontrasepsi, sampai sekarang kita belum diskusi loh,"


"Emang yang terakhir nggak jadi bayi lagi Ay?"


"Untungnya enggak, baru dua hari yang lalu aku selesai menstruasi, jangan bilang saat itu kamu sengaja?"


Benedict tersenyum dibelakang istrinya, tentu wanita itu tidak menyadarinya, "ya kalau kamu hamil lagi nggak apa-apa, kan ada aku suami kamu,"

__ADS_1


"Mas, anak-anak aja masih ASI ekslusif, masa iya mau dikasih adik sih, nanti kalau mereka udah sekolah, baru kita punya anak lagi,"


"Apa kamu mau pakai kontrasepsi?"


"Ya iyalah, emang kamu mau pakai pengaman?"


"Nggak mau Ay, rasanya kurang enak kalau pakai pengaman,"


Ayudia mengernyit heran, seingatnya setiap Benedict melakukannya, ia tidak pernah memakai pengaman.


Benedict seperti tau apa yang istrinya pikirkan, "nggak usah dipikirin Ay, nanti kamu pusing, intinya kan sejak aku kenal kamu, aku hanya cinta sama kamu dan melakukan itu hanya dengan kamu,"


"Masa bodoh mas, lepasin tangan kamu, aku mau makan,"ucap Ayudia bangkit melepaskan pelukan suaminya dan berlaku masuk ke dalam kamar.


"Makan disini aja Ay,"teriak lelaki itu, namun tak ada tanggapan dari istrinya.


Sebagai istri yang baik, Ayudia menuruti permintaan suaminya, saat jam makan siang tiba, perempuan itu meminta maid untuk mengantarkan makan siang mereka ke balkon lantai dua.


Tak lupa ia menghampiri mertuanya untuk mengajaknya makan siang bersama, juga si kembar yang diletakan di stroller selama mereka makan.


Seperti sudah jadi kebiasaan, kalau ada istrinya, Benedict tak akan menggunakan tangannya untuk makan, ia akan minta disuapi oleh istrinya.


"Nggak apa-apa Ben, mumpung anak-anak masih kecil kamu bisa manja-manja sama istri kamu, tapi nanti kalau anak-anak udah mulai besar, jangan harap kamu bisa manja-manja sama istri kamu kayak sekarang," ucap Anna disela-sela makan siang.


"Oh nggak bisa gitu, Ayudia cuman buat Ben, kan ada ibu bisa urus mereka,"ujarnya sambil melirik kepada kedua anaknya yang sedang bermain kerincingan.


"Jangan mau nduk, seorang ibu itu prioritas utamanya anak-anaknya, suami itu nomor dua,"


"Terserah kamu Ben, ibu pusing liat tingkah kamu, turunan siapa coba,"


"Ya ibu sama Daddy lah,"


Ayudia lama-lama kesal juga lihat tingkah suaminya, "udah sih mas, nggak baik membantah ucapan ibu,"


"Tapi Ay, masa ibu bilang gitu, kamu kan harus selalu sama aku?"


"Iya mas, aku selalu sama kamu, jadi ayo cepat makan,"ujar Ayudia mengalah,


Selanjutnya mereka menghabiskan makan siangnya disertai obrolan-obrolan yang tak jauh dari pembahasan tentang tumbuh kembang Ainsley dan Aileen.


Malam harinya menjelang tidur, setelah menyusui si kembar, dan membersihkan diri, Ayudia berniat langsung tidur, karena suaminya masih ada di ruang kerjanya, entah apa yang dilakukannya.


Yang jelas suaminya kalau tidak menempel padanya, berarti sedang bekerja.


Namun baru saja hendak menutup matanya, suaminya masuk ke kamar dan memanggilnya untuk datang ke ruang kerja.


"Ada apa mas?"tanya Ayudia yang baru memasuki ruang kerja suaminya.


"Duduk situ di sofa,"perintah lelaki itu, dan perempuan itu hanya menurutinya.

__ADS_1


"Ay, kemarin pas kamu pulang kesini kok bisa sama Nando?"tanya Benedict menyelidik yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan laptop menyala dihadapannya.


"Kok kamu tau?"tanya Ayudia balik.


"Nggak penting aku tau dari mana, jawab pertanyaan aku, kenapa kamu bisa sama Nando dan naik mobilnya terus sama ibu juga?"tanyanya lagi.


"Nggak sengaja ketemu,"jawab wanita itu asal.


"Bisa jujur aja nggak Ay, dari pada aku cari tau sendiri, dan aku lebih marah dari sekarang,"


"Kamu marah mas?"


"Menurut kamu? Kalau kamu jadi aku, kira-kira apa yang akan kamu lakukan, jika pasangan kamu malah bersama sahabat kamu?"


"Biasa aja, terus mesti gimana coba?"


Benedict bangkit dan berjalan menghampiri istrinya, ia berdiri menjulang tepat didepan istrinya yang sedang menyandar di sofa.


"Aku akan hajar Nando minimal masuk rumah sakit, kenapa mesti Nando lagi si Ay, kamu suka sama Nando?"


"Suka lah, A Nando kan baik banget, udah kayak mas Samsul,"


"Ay,"bentak Benedict mulai tak sabar, "aku nggak suka kamu dekat-dekat sama lelaki lain selain aku, aku cemburu,"


Ayudia sedikit kaget ketika suaminya membentaknya, ia berdiri dan menaiki sofa, untuk mensejajarkan dengan tinggi suaminya, ia berkacak pinggang dihadapan lelaki itu,


"Mas, kalau bukan karena A Nando, mungkin istri kamu tidak akan berdiri dihadapan kamu sekarang, harusnya kamu berterima kasih sama Aa, dia yang selalu berusaha bujuk aku, buat kembali sama kamu, padahal sebenarnya aku udah males banget balik kesini,"


"Jadi kamu lebih senang dekat sama Nando dibanding aku? Oke kalau memang itu mau kamu,"


Benedict berbalik badan dan berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil ponselnya,


"Halo Ram, tolong kirim Nando ke salah satu pulau gue selama setahun dan jangan sampai dia balik kesini,"ucapnya sambil menatap tajam istrinya, tak menunggu jawaban dari Rama, Benedict mengakhiri panggilannya.


Ayudia turun dari sofa dan menghampiri suaminya, ia mendongak menatap lelaki tinggi  dihadapannya


"Kalau sampai benar, aa pergi dari negara ini, aku bakal pergi dari kamu lagi, dan nggak akan kembali lagi,"


Benedict tersenyum kecut, "coba saja Ay, kali ini kalau sampai kamu pergi lagi dari aku, kamu nggak akan lihat Ainsley dan Aileen selamanya,"ancamnya.


"Kamu mengancam aku?"ucap Ayudia kesal.


"Kamu yang duluan Ay,"


Ayudia gregetan sendiri, sekarang suaminya tau kelemahannya, "aku benci kamu,"


"Aku cinta kamu Ay,"ucap Benedict dengan tampang menyebalkan.


"Eghh........"rasanya Ayudia ingin mengabsen semua penghuni kebun binatang,

__ADS_1


"Maki aku Ay, atau silahkan lari dari aku, sampai ke lubang semut pun sekarang kamu bakal aku temui,"


Benedict teringat tentang kalung juga anting yang ia berikan pada istrinya tadi usai mereka  makan malam, disitu ada alat pelacak, yang akan memudahkan dirinya untuk segera menemukan istrinya.


__ADS_2