
Untuk menjalankan rencananya, Ayudia menunggu anak-anaknya lulus ujian kesetaraan elementary school, masih ada satu tahun kedepannya.
Pernah ia bertanya diam-diam pada Ainsley, "kakak, kalau boleh memilih, kehidupan seperti apa yang kakak inginkan?"
"Maksud bunda apa?"tanya Ainsley bingung.
"Kak, bunda tau kamu kangen teman-teman kamu dikampung kan?"
Ainsley menunduk tak menjawab, melihat itu mata Ayudia berkaca-kaca, wanita itu memeluk putranya dan berbisik, "apa kamu ingin kembali ke kehidupan kita yang sederhana kak?"
Ainsley mengeratkan pelukannya, tanda menyetujui, "tapi ayah gimana Bun?"tanya bocah yang berusia dua belas tahun itu.
"Itu urusan bunda, yang penting, anak-anak bunda hidup bahagia,"
"Apa bunda tidak bahagia menjalani hidup seperti ini?"
"Bunda bersyukur kak, punya suami yang sayang banget sama bunda meskipun kami sudah bersama lebih dari tiga belas tahun, tapi ada kalanya orang dewasa jenuh dengan kehidupan monoton setiap harinya,"
"Bunda hanya ingin kamu dan Aileen menjalani hidup sesuai dengan usia kalian, mungkin bunda terlambat berbuat ini, setidaknya selama kalian junior high school, kalian menjalani masa remaja pada umumnya,"
"Tapi Bun, kata tutor juga kakek Frederich, aku punya tanggung jawab besar karena harus memimpin perusahaan seperti ayah, maka dari itu aku harus belajar dengan keras, supaya bisa seperti ayah,"
"Bunda tau sayang, ini semua salah bunda, tapi sebelum kamu mencapai itu semua, setidaknya kamu harus menjalani hidup sebagaimana manusia pada umumnya, supaya jika kamu menjadi pemimpin, kamu bisa lebih menghargai bawahan kamu,"
"Baik Bun, Ain akan nurut apa kata bunda, tapi apa ayah akan setuju? Bukankah Ayah tidak mau jauh dari bunda, ayah memonopoli bunda, pernah ayah marah sama Ain, dan bilang bahwa , bunda hanya milik ayah, dan ayah tidak mau berbagi kasih sayang bunda kepada kami,"
"Ayah bilang begitu?" Ainsley mengangguk sedih.
"Ayah memang begitu, tapi bukankah Ain tau, kalau kalian berdua lah pusat dunia bunda, jadi mulai sekarang kamu bisa mengumpulkan uang, untuk pulang ke kampung halaman,"
"Lalu bagaimana dengan nenek?"
"Nanti bunda pikirkan, ingat ini rahasia kita berdua, jangan beritahu Aileen,"
Keduanya kembali berpelukan lama, hingga seorang laki-laki dewasa melepas paksa pelukan itu, siapa lagi kalau bukan Benedict.
"Nggak usah pelukan lama-lama, bunda cuman punya ayah,"
"Mas, Ain anak aku loh,"protes wanita itu.
"Anak kita kalau kamu lupa, tapi kamu punya aku, lagian Ain udah mulai remaja, nggak boleh dekat-dekat bunda,"
"Iya Ayah, Ain nggak peluk bunda lagi,"ucapnya mengalah.
Begitulah rencana itu dimulai setahun sebelum kelulusan anak-anaknya,
Namun baru beberapa bulan sejak pembicaraan itu, Anna kembali ke pangkuan illahi, karena sakit yang dideritanya,
__ADS_1
Keluarga Benedict terpukul juga sempat terpuruk dengan kepergian Anna untuk selamanya.
Jenazah Anna dimakamkan di samping makam Johnson, ayah kandung dari Benedict.
Meskipun bersedih, hidup harus tetap berjalan sebagaimana bumi masih berputar.
Semenjak Anna berpulang, jika ada urusan bisnis keluar negeri, Ayudia tak bisa lagi mendampingi, dengan alasan harus menjaga anak-anaknya, mau tak mau Benedict menerimanya.
Suatu malam sebelum tidur, pasangan suami istri itu seperti biasa akan melakukan kegiatan rutinnya, semacam pillow talk, keduanya saling menceritakan hari yang mereka lalui masing-masing.
"Mas, nggak berasa ya, udah lima tahun aku nggak balik Indo, jadi kangen sama tanah kelahiran,"
"Apa kamu kangen adik-adik kamu? Bukankah kalau liburan mereka berkunjung ke sini,"
"Kangen suasana mas,"
"Kalau kangen suasana kampung, kamu bisa menginap di rumah kayu,"
Tak mau berurusan panjang Ayudia memilih diam, tak lupa sebelum tidur ia mencium suaminya terlebih dahulu.
Seperti biasanya, Ayudia akan mengikuti suaminya bekerja di kantor meskipun wanita itu tidak melakukan banyak hal, sementara anak-anak masih belajar dengan tutor di mansion.
Terkadang ingin rasanya ibu dua anak itu protes, namun pada akhirnya ia akan kalah dengan kehendak suaminya.
Saat keduanya beristirahat makan siang, Ayudia mengajak suaminya berbicara sambil menyuapinya,
"Mas, liburan musim dingin, aku boleh pulang ke Indonesia sama anak-anak nggak?"tanyanya.
"Aku cuman pengen liburan di sana aja, kan udah lama nggak pulang kampung,"jawabnya.
"Oke tapi nanti kalau proyek aku dengan Mr. Park sudah selesai,"
"Memang kapan selesainya?"
"Aku usahakan selesai sebelum liburan musim dingin,"
Namun hingga liburan musim dingin berakhir, Benedict belum juga mengajak istri dan anak-anaknya berkunjung ke Indonesia.
Benedict semakin disibukan dengan pekerjaannya, Ayudia hanya bisa mengerti dengan kesibukan ayah dari anak-anaknya.
Pagi itu saat musim semi dimulai, "Bun, kita piknik di taman yuk,"ajak Aileen saat keluarga itu sarapan pagi.
"Coba ngomong ke ayah,"ucap Ayudia pada putrinya.
"Gimana yah, boleh kan?"tanya Aileen pada ayahnya.
"Lain kali ya Ai, ayah lagi sibuk,"jawab Benedict.
__ADS_1
"Ayah selalu sibuk, Aileen males, mending kita bertiga aja Bun, ayah nggak usah diajak,"remaja yang tahun ini menginjak usia tiga belas tahun itu kesal.
"Nggak boleh kalau sama bunda, kalian pergi saja sama maid,"tegas Benedict.
Aileen menunduk sedih, melihat hal itu, Ayudia menatap Ainsley seolah berkata, "tenangkan adikmu,"
"Leen gimana kalo piknik sama kakak aja, nanti aku buat sandwich favorit kamu,"rayu Ainsley pada adiknya.
Aileen hanya mengangguk, tapi dengan wajah cemberut.
Saat baru tiba di kantor, Ayudia menegur suaminya, "nggak seharusnya kamu begitu sama Aileen, apa kamu tidak lihat Aileen sedih?"
Benedict yang baru duduk di kursi kebesarannya langsung bangkit menghampiri istrinya yang masih berdiri di belakang pintu masuk ruangan itu.
"Kamu kan ikut aku, jadi nggak bisa kamu piknik dengan mereka,"
"Kan kamu bisa menolak dengan cara halus,"
Benedict menarik pinggang istrinya untuk merapat ke tubuhnya, ia juga memegang tengkuknya lalu ******* bibir wanita itu.
"Oke, nanti saat pulang aku, akan minta maaf sama Aileen, cukup kan? Dan sekarang aku minta kamu kasih aku semangat buat lalui hari ini,"
"Kan tadi subuh udah mas, emang kamu nggak capek apa?"
Benedict kembali ******* bibir merah muda itu, "bagiku nggak cukup sekali sayang, mau disini atau di kamar?"
Ayudia mengecup bibir suaminya lembut, "dimanapun asal hanya ada kita berdua,"
Senyum mengembang terlihat di wajah lelaki berusia kepala empat itu, hal ini yang membuat istrinya harus selalu didekatnya.
Dimana pun kapanpun, saat hanya berdua, maka Benedict akan selalu mengajak istrinya untuk berhubungan intim, tak ada bosannya meskipun sudah empat belas tahun mereka bersama.
Bukannya berkurang gairah keduanya semakin membara, pernah beberapa kali saat istrinya tidak bisa mengikutinya dalam perjalanan bisnis, dengan alasan menjaga anak-anak, maka sepulangnya dari perjalanan bisnis, ia tidak akan melepaskan istrinya seharian, ia benar-benar akan mengurung istrinya di kamar, atau mengajak istrinya mengunjungi rumah kayu ditepi sungai selama beberapa hari.
Karena itulah Benedict tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya, karena terlalu sibuk.
Pernah suatu ketika Ainsley berbincang dengan Ayudia,
"Bun, ayah sebenarnya sayang sama anaknya nggak sih?"tanya remaja bule itu.
"Kok nanya gitu, jelas sayang lah, buktinya kalian selalu di turuti kalau ingin beli sesuatu,"
"Bukan itu Bun, ayah tuh kayak peduli sama bunda doang tau nggak, tatapan mata ayah hanya tertuju pada bunda, sedangkan menatap aku sama Aileen kayak biasa aja,"
"Ayah sayang kalian kok,"
"Ain tau, Ayah hanya perlu anak-anaknya sebagai pewaris hartanya saja, liburan keluarga pun, aku hanya main berdua dengan Aileen selama liburan, sementara Ayah mengurung bunda di kamar, jadi bagaimana tentang rencana kita Bun? Ain udah muak dengan kehidupan disini, Ain pengen punya teman selain Aileen,"
__ADS_1
"Sabar nak, belum saatnya, kita kan juga perlu uang untuk hidup tiga tahun kedepannya,"
"Ain udah nggak sabar, ingin ketemu teman-teman TK dulu,"