Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus tiga puluh dua


__ADS_3

"Kata bunda, kalian akan ujian semester Minggu depan, berarti sebentar lagi kalian akan libur akhir tahun bukan?"tanya Benedict sambil mengemudikan mobil,


"Iya, dan Ain ingin berlibur di rumah nenek lagi,"jawab remaja yang duduk di samping kursi kemudi.


"Sepertinya kamu harus menunda keinginan kamu Ainsley,"


"Kenapa ayah? Aileen dan bunda pasti setuju dengan Ain, mereka senang hidup sederhana di kampung," ucapnya, "iya kan Aileen?"tanyanya pada adiknya.


Aileen mengangguk, "Ai mau main sama Mila dan Putri,"jawab remaja dengan kuncir kuda.


"Kalau mau liburan ke rumah nenek kalian bisa berangkat usai ujian, weekend besok,"


"Tapi ayah, nggak puas kalau cuma dua hari, nggak seru,"ungkap Aileen.


"Putri ayah, dengar ya, ayah berencana mengajak bunda, kalian, sahabat ayah beserta keluarganya juga para pekerja di rumah kita untuk melakukan ibadah umroh, apa kalian menolak rencana ayah?"


Ainsley sampai menoleh dan menganga tak percaya, sedangkan Aileen tersedak cookies cokelat yang sedang ia makan.


"Apa ayah punya penyakit yang membuat ayah ingat sang Pencipta?"tanya Ainsley tak yakin.


Benedict tersenyum melihat reaksi kedua anaknya, dirinya sendiri aja tak percaya apalagi anak-anaknya.


"Itu wujud rasa syukur ayah karena ayah sudah mendapatkan semua yang ayah impikan, mungkin ini saatnya ayah harus lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa,"


Kedua anak kembar itu kompak berucap syukur, mereka senang ayahnya mulai berubah.


Bahkan sejak kepulangannya dari pulau, lelaki dewasa itu lebih sering mengobrol bersama anak-anaknya.


Benedict meminta anak-anaknya untuk merahasiakan dari bundanya.


Sesampainya di rumah, tanpa sepengetahuan istrinya, Benedict mengumpulkan seluruh pekerja untuk menawarkannya kepada mereka, bahkan mereka boleh membawa pasangan mereka masing-masing, dan bisa mendaftar pada Bu Yanti kepala maid di rumah itu.


Terlihat wajah sumringah para pekerja, mungkin mereka tak menyangka tuan besarnya begitu royal pada mereka.


Setelah urusannya dengan para pekerja sudah selesai, Benedict beranjak menuju kamarnya, namun ia tak mendapati istrinya di sana


Ia memutuskan untuk membersihkan diri dan saat ia hendak mengambil baju, ia mendapati istrinya sedang merapikan baju-baju,


lelaki itu memeluk istrinya dari belakang, ia menghirup wangi bunga di rambut wanita hamil itu, tak lupa ia mengelus lembut perut yang berisi benihnya.


"Sayang aku kangen,"bisiknya tepat di telinga istrinya.


Ayudia berbalik badan dan membalas pelukan itu, wanita itu mendongak juga mengecup bibir suaminya.


"Kamu nih, baru beberapa jam kita nggak ketemu udah bilang kangen,"

__ADS_1


"Namanya juga cinta, oh ya kapan Asha pulang? Aku ingin mendampingi kamu saat pemeriksaan kehamilan kamu,"


"Tadi Asha kirim pesan ke aku, katanya tadi udah di bandara, paling sebentar lagi sampai,"


Benedict menggendong istrinya menuju ranjang, lelaki itu duduk di kasur dengan istrinya yang ada dipangkunya, "bulan depan kita kembali ke Amerika ya, cuti aku hanya sebulan, nanti Asha dan keluarganya ajak pindah ke mansion kita, jadi teman sekaligus dokter pribadi kamu, kata Rama suaminya belum lama resign dari pekerjaannya, bagaimana kalau suami Asha jadi salah satu asisten aku, sepertinya tidak cukup, Troy dan Richard sekarang, karena aku akan jarang di kantor dan harus selalu bersama kamu,"


"Terus anak-anak gimana?"


"Arya atau Aryo bisa tinggal disini dan mengawasi mereka,"


"Oke, aku coba bicarakan dengan Asha dan adik-adik aku,"


"Oh ya, liburan sekolah aku mau berlibur sama kamu, anak-anak, sahabat aku sama pekerja di rumah ini, apa kamu mau?"tanya  Benedict sambil mengelus rambut pendek istrinya.


"Memangnya mau kemana?"tanya Ayudia balik.


"Aku punya kejutan buat kamu, jadi kamu cukup siapkan diri,"


Ayudia mengangguk, ia memeluk erat suaminya seraya berterima kasih.


Keesokan harinya, usai mengantar anak-anaknya sekolah, pasangan suami istri itu mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan.


Di lobby ada Oscar dan Natasha yang menunggunya,


Hingga assisten Natasha mengoleskan gel dingin di perut buncit Ayudia,


Dokter kandungan itu menempelkan alat yang memperlihatkan keadaan janin didalam perut pasien.


Benedict sampai takjub melihat secara langsung buah hatinya, dengan antusias ia mendengarkan dokter kandungan sekaligus sahabatnya dari masa SMA.


"Terus Sha, kalau istri gue, diajak liburan, kira-kira aman nggak?"tanya Benedict sambil memberi kode pada sahabatnya, semalam ia sudah membicarakannya diam-diam.


"Aman sih, kan udah trisemester ke dua, Ayu dan bayinya sehat,"jawabnya.


"Makasih ya Sha, gue balik dulu ya!"ujar Ayudia berpamitan setelah semua pemeriksaan selesai.


Usai melakukan pemeriksaan, keduanya langsung pulang.


Siang menjelang sore, t saat Benedict sedang berolahraga di ruangan Gym dirumahnya, ponselnya berbunyi, ada nomor asing yang tertera di layar ponselnya.


Lelaki itu mengangkatnya, yang ternyata dari kepala yayasan yang memintanya bertemu dengannya.


Tanpa mengganti baju terlebih dahulu, Benedict beranjak menuju mobilnya, setelah sebelumnya mengirim pesan pada istrinya, jika dirinya akan berangkat menjemput anak-anaknya.


Mobil yang dikendarai Benedict meninggalkan rumah menuju sekolah, dalam perjalanan, lelaki itu menghubungi Troy, ada nada kesal terdengar dari seberang sana, ia tau di sana masih gelap, tapi ia tak peduli.

__ADS_1


Ia bertanya pada Troy tentang kabar usaha milik keluarga Lauren di negara itu, dan Troy mengatakan, ia sudah membuat usaha mereka goyah.


Benedict tersenyum puas mendengarnya.


Sesampainya di sekolah anak-anaknya, Benedict berjalan menuju ruang kepala Yayasan, ia dipersilahkan masuk oleh salah satu staf.


Di ruangan itu sudah menunggu


Jeremy Andreas dan dua orang asing.


Itu orang tua Michelle, mereka terkejut melihat kedatangan lelaki yang hanya mengenakan kaos hitam polos tanpa lengan yang memperlihatkan otot yang kekar dan celana training abu juga sepatu olahraga dari brand ternama berwarna putih,


"Maaf, tadi saat Mr Andreas menelpon saya sedang nge-gim, saya tidak sempat mengganti baju,"ujar Benedict merasa salah kostum.


Jeremy memperkenalkan kedua orang tua Michelle pada Benedict,


Ada pandangan berbeda dari pasangan suami istri itu,


Dari Herry Laurent ia masih mengingat-ingat pernah melihat lelaki yang sedang ada didepannya, tapi sepertinya ia lupa, sedangkan dari Amanda Laurent memandang lelaki tampan dan Maco dengan pandangan nakal.


Benedict menyunggingkan senyumannya menanggapi pasangan suami istri dihadapannya.


Jeremy membicarakan mengenai duduk perkara antara Aileen Wright dan Michelle Lauren.


"Jadi apa yang anda inginkan tuan Wright?"tanya Herry.


Benedict menaikan sebelah alisnya, lalu tersenyum, "saya hanya ingin putri berharga saya tidak diganggu oleh putri anda,"


"Baiklah, nanti kami akan menasehati putri kami,"ujar Herry bijak.


"Oke, saya terima tapi ingat, saya tidak mau dengar keluhan lagi dari putri saya tentang gangguan dari putri anda, kalau tidak anda akan terkejut dengan apa yang akan saya lakukan,"ancam ayah dua anak itu.


"Maksud anda?"tanya Amanda menyela.


"Sebenarnya saya tidak ingin melakukan hal kekanakan seperti ini, tapi demi putri berharga saya, saya akan melakukan apapun termasuk membuat goyah perusahaan Lauren,"


Pasangan suami istri itu terkejut mendengar ancaman lelaki itu, wajah mereka seperti kebingungan.


"Mr. Andreas urusan ini sudah selesai kan? Jadi saya mohon undur diri, saya tidak ingin anak-anak saya menunggu terlalu lama," usai mengatakan itu, Benedict berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Di ruangan yayasan, Herry bertanya pada Jeremy, tentang siapa lelaki yang berani mengancamnya.


Jeremy malah  menyuruh Herry untuk mengetik di laman pencarian nama orang yang baru saja keluar dari ruangan itu.


Alangkah terkejutnya Herry mengetahui siapa sebenarnya lelaki itu, pantas saja ia tak asing dengan lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2