Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tiga puluh sembilan


__ADS_3

Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan tentang perempuan bernama Ayudia ini, entah bodoh atau tidak peka, yang jelas ia baru menyadari tentang siapa suaminya itu, kenapa ia baru mencari tau sekarang.


Harusnya dari awal ia harus sadar, saat diantar jemput diawal mereka baru mulai mengenal, lelaki itu seolah tidak terikat sebuah pekerjaan pada umumnya orang-orang yang bekerja kantoran atau bekerja sif seperti dirinya.


Belum lagi saat dengan mudahnya lelaki itu mengirimkan uang ke rekening Anin sebesar lima juta rupiah yang membuat Ayudia marah besar dan mengakhiri hubungan mereka.


Saat di Villa mereka berbaikan, lelaki itu meeting melalui laptopnya dengan para bawahannya dengan bahasa internasional yang sedikit banyak ia pahami, apalagi terlihat bawahannya begitu menghormati lelaki itu.


Saat hendak menikah, Ayudia mendapatkan perhiasan keluarga yang diwariskan turun temurun, uang tabungan dari mertuanya yang jumlahnya hampir dua milyar, belum lagi sovenir pernikahan yang dibagikan kepada tamu yang datang menghadiri pesta sederhana itu, sovenir yang membuat para tamunya mengembangkan senyum mereka berupa logam mulia 0,5gram.


Awalnya Ayudia menganggap ucapan Rama hanya sebuah candaan untuk membuat mantan pacar suaminya menyesal telah menyakiti Benedict dulu, namun apa yang ia lihat ternyata benar suaminya bahkan bisa mengosongkan salah satu resort di pulau Dewata, belum lagi pesawat pribadi yang ia naik sekarang sama seperti saat berangkat, bedanya sekarang hanya ada dirinya dan suaminya sisanya hanya crew pesawat, bahkan tadi suaminya hampir melakukan hal senonoh pada dirinya di pesawat itu, walau mereka suami istri, tentu Ayudia merasa tidak enak dengan crew pesawat.


Lalu apalagi setelah ini?


Pertanyaan itu yang sedari tadi membuatnya gelisah.


Perubahan sikap Ayudia disadari oleh Benedict, sedari tadi istrinya hanya diam, saat ditanya hanya dijawab dengan singkat dan tadi saat di pesawat, istrinya bahkan tidak membalas ciumannya.


Saat ini keduanya sudah tiba di apartemen, Ayudia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia butuh mendinginkan kepalanya, walau tadi ia sudah mandi sebelum kembali ke sini.


"Kamu mandi lagi ay?"Tanya Benedict heran melihat istrinya berlama-lama di kamar mandi dan keluar hanya melilitkan handuk ditubuh dan kepalanya.


"Pengen mendinginkan otak yang udah berasap,"jawab Ayudia asal seraya menaiki tangga untuk memakai pakaiannya.


Benedict mengangkat sebelah alisnya heran, kenapa istrinya memberikan jawaban ambigu seperti itu, memang sih, cuaca di ibukota sedang panas sekali.


Ayudia menuruni tangga, perempuan itu tidak mengenakan baju rumahan, melainkan baju yang biasa untuknya pergi keluar.


"Kamu mau kemana?"Tanya Benedict heran melihat penampilan istrinya.


Ayudia mengenakan celana jeans dengan kemeja yang dilapisi cardigan, "aku mau pulang ke rumah," jawabnya sambil memakai kaus kaki.


"Kok kamu nggak bilang aku?"tanyanya lagi.


"Ini bilang, udah ya, aku buru-buru nih,"jawabnya sambil mencium pipi suaminya.

__ADS_1


Ayudia mengambil tas punggung, dan paper bag berisi oleh-oleh, perempuan itu bergerak dengan cepat.


Benedict bahkan belum sempat menjawab salam yang istrinya ucapkan, namun perempuan itu sudah menghilang dari pandangannya.


Menyadari hal itu, Benedict bergegas mengejar Ayudia, ia merutuki betapa bodohnya dirinya.


Disisi lain di tangga darurat apartemen, Ayudia sengaja berdiam di sana, sepertinya ia sudah menebak apa yang akan terjadi.


Pelan-pelan ia menuruni tangga darurat, ia memilih melewati parkiran bawah dibandingkan harus melewati lobby, ia mengenakan topi untuk menyamarkan penampilannya, ia keluar lewat pintu belakang apartemen.


Ayudia sengaja melakukan ini, ia butuh sendiri saat ini, ia menelpon seseorang dan mengajaknya untuk bertemu di suatu tempat.


"Apa kabar Bu?"tanya Ayudia mencium tangan ibu mertuanya,


Anna mendatangi salah satu restoran cepat saji yang tak jauh dari rumahnya setelah menantunya menelponnya untuk mengajaknya bertemu.


"Ibu baik, kamu gimana?"tanya perempuan paruh baya itu balik.


"Ayu sehat Bu, maaf Ayu makan dulu, apa ada yang mau ibu pesan?"tanyanya.


"Air mineral saja,"jawabnya.


"Ada yang mau Ayu tanyain Bu?"ujarnya membuka pembicaraan.


"Boleh, silahkan,"


"Apa benar kalau mas Ben itu orang kaya?"tanya Ayudia polos.


Anna tertawa mendengar pertanyaan menantunya, "kenapa kamu tanya begitu?"


"Mas Ben mengajak Ayu untuk naik pesawat pribadi dan menginap di  resort yang mas Ben sengaja kosongkan,"


"Apa kamu baru menyadarinya?"tanya Anna.


"Iya Bu, tadi Ayu searching di go*gle, dan Ayu kaget saat tau siapa mas Ben," jawabnya jujur.

__ADS_1


"Setelah tau ternyata Ben seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?"tanyanya mengetes menantunya.


"Ayu bingung Bu, ini Ayu bodoh atau nggak peka, kenapa ayu nggak cari tau dulu, padahal waktu ibu kasih perhiasan dan buku tabungan ke Ayu, harusnya Ayu sadar mas Ben orang seperti apa, malah dengan percaya diri Ayu bahkan menikah dengan mas Ben, jujur Ayu sekarang bingung, apa Ayu bisa mendampingi Mas Ben? Ayu hanya perempuan biasa, bahkan cuman lulusan SMA,"ungkapnya kepada ibu mertuanya.


Anna menggenggam tangan menantunya, "apa kamu tidak percaya diri?"tanyanya.


"Iya Bu, Ayu ngerasa nggak pantas, tapi Ayu udah terlanjur menikah dengan Mas Ben, Ayu bingung Bu, Apa yang harus Ayu lakukan?"


"Ayu, dulu ibu pernah ada diposisi seperti kamu, ibu hanya seorang kasir restoran cepat saji di Amerika yang disukai oleh seorang lelaki yang berbeda kasta dari ibu, namun lelaki itu meyakinkan ibu, bahwa beliau hanya mencintai ibu, bahkan kami menikah belum setahun kami berkenalan, kisah kamu sama persis seperti kisah ibu dulu dengan Johnson, hanya saja Johnson tidak sekaya Benedict sampai mempunyai jet pribadi,"


"Bu, Ayu butuh waktu sendiri hanya sebentar, untuk mencoba menerima semua ini,"


"Baiklah kalau itu mau kamu, kamu bisa ikut ibu,"


"Kemana Bu?"tanya Ayudia heran.


"Tenang ibu tidak akan mengembalikan kamu ke anak ibu, jadi biar suami kamu yang menemukan kamu,"jawabnya sambil mengajak menantunya pergi meninggalkan restoran cepat saji itu.


Anna mengemudikan mobilnya sendiri membawa menantunya ke salah satu rumahnya yang berada di luar kota yang cukup asri.


"Ini rumah siap Bu?"tanya Ayudia ketika mereka baru saja turun dari mobil.


"Ini rumah ibu sendiri, rumah masa tua ibu nantinya, sebenarnya setelah mendengar Ben menikah, Ibu langsung mencari rumah untuk menghabiskan masa tua, ibu ingin hidup tenang, ibu juga sudah mengajukan gugatan cerai kepada suami ibu, tugas ibu sudah selesai,"ceritanya sembari memasuki rumah dengan dominasi material kayu.


Ada tiga kamar di sana, ibu menunjukan kamarnya, kamar untuk menantu dan anaknya, serta satu kamar yang ia siapkan untuk cucunya kelak.


Ayudia memang bukan tipe orang yang serba ingin tau, sehingga ia tidak bertanya balik tentang masalah mertua dengan keluarganya.


"Rumahnya nyaman banget Bu, kayaknya Ayu bakal betah deh,"ucapnya setelah berkeliling rumah.


"Ibu pernah punya impian, jika nanti kalian sudah punya anak, saat weekend, kalian dan cucu ibu akan mengunjungi rumah ini, ibu akan memasakan dari hasil kebun yang ibu rawat,"


Ayudia memeluk ibu mertuanya, Anna balas memeluk menantunya erat, "ibu senang kamu jadi menantu ibu,"


"Iya Bu, Ayu cuman pengen sendiri sebentar aja kok, kan perginya bareng ibunya suami Ayu, Bu besok kita berkebun yuk, kayaknya bakal seru deh,"

__ADS_1


Anna melepaskan pelukan itu,  "ya udah sekarang kita istirahat dan mulai besok kita lakuin kegiatan menyenangkan itu,"


Ayudia mengangguk dan segera memasuki kamarnya.


__ADS_2