Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan puluh sembilan


__ADS_3

Nando menginap di rumah sahabatnya, katanya masih ingin bersama Aileen, balita berumur dua tahun itu, sangat dekat dengannya.


Benedict mengijinkan menginap tetapi tidak boleh naik ke lantai dua, ia tidak mau sahabatnya mengganggu istrinya.


Pagi hari setelah sarapan, Aileen diajak oleh Nando jalan-jalan di taman kompleks perumahan mewah itu, sedangkan Ainsley sedang diajari berenang bersama ayahnya dan bundanya.


"Mas, ditempat bang Alex ada lowongan kerja nggak?"tanya Ayudia saat dirinya baru saja naik dari kolam renang.


"Aku nggak tau, coba nanti aku tanyain, emang kenapa?"


"Ingat sahabat aku yang kemarin?" Benedict mengangguk, "Amara lagi cari kerjaan, dia sarjana ekonomi jurusan akutansi, ya kali aja di kantor bang Alex ada lowongan,"


"Kenapa nggak jadi asisten Nando aja? Kemarin katanya Nando mau deketin,"


"Mas, bukannya kerja nanti malah aneh-aneh, kalian kan kumpulan laki-laki pemain wanita,"


Benedict yang sedang mengajari putranya berenang, mendadak menghentikan kegiatannya.


"Bun, aku nggak kayak mereka ya!"


"Apaan, tuh aku searching nama kamu, banyak tuh foto-foto kamu mesra banget sama cewek-cewek seksi,"


"Itu masa lalu Bun, sejak kenal kamu kan udah nggak,"


"Iya tapi tunangan sama orang lain padahal udah punya istri,"


"Kenapa dibahas si Bun? Kan aku udah jelasin alasannya,"


"Terserah bodo amat, pokoknya Cariin kerjaan buat Amara asal jangan bareng Aa,"


"Bun, kamu lupa kalau Alex lebih brengsek dari Nando,"


"Ya udah cariin kerja di rumah sakit aja, jadi staf kantor atau apapun itu, pokoknya sebelum kita berangkat, Amara harus udah kerja,"


"Oke, nanti aku tanya sama Oscar,"ucap Benedict pada akhirnya.


Tak lama, Anna datang menghampiri cucunya, perempuan paruh baya itu, menggendong Ainsley dan membawanya dari sana, untuk dimandikan.


Hanya ada Benedict dan Ayudia di kolam renang itu, merasa akanĀ  berlanjut panjang, perempuan itu buru-buru naik untuk menghindari suaminya.


Namun Benedict tak akan melepaskan istrinya, apalagi sedari tadi ia melihat istrinya hanya mengenakan bikini two piece.

__ADS_1


"Tunggu mas, aku mau ngomong dulu,"ujar Ayudia berusaha mencegah suaminya yang mulai mendekat.


"Kan kita mau ke pulau dalam waktu yang lama, terus aku perlu siapkan baju apa saat kita di sana? Atau barang-barang apa yang perlu aku bawa,"


"Kamu cukup bawa diri Bun, udah aku siapkan semua di sana,"


Ayudia berusaha mengalihkan perhatian suaminya, "terus-terus di sana itu pulau tropis atau bukan?"tanyanya asal karena merasa terdesak.


Benedict tau betul istrinya berusaha mencegahnya untuk mendekat, namun bukan Benedict namanya, kalau keinginannya tidak terwujud,


Perlahan ia mendekati istrinya Sambil berbicara, "kalau kamu nggak mau melakukan itu, jangan pakai sesuatu yang memancing aku buat berpikir ke arah sana,"


Lelaki itu mengelus rambut basah istrinya, lalu mencium keningnya.


Ayudia terkejut karena secara tiba-tiba suaminya mengangkat tubuhnya dan menahannya didinding kolam renang, kedua kakinya melingkar ke pinggang lelaki itu, ia merasakan sesuatu yang keras dibawah sana.


"Kamu paling tau kalau aku paling nggak tahan dengan godaan kamu, meskipun kamu diam tak berbuat apapun,"


Benedict mulai ******* bibir istrinya, awalnya lembut penuh perasaan, hanya hitungan detik, ciuman itu berubah menjadi lebih panas dan bergairah.


Mereka bercinta didalam air, Ayudia hanya memeluk leher lelaki itu erat, riak-riak air muncul disekitar keduanya.


Tak lama Benedict melenguh seraya mendongakkan kepalanya, puncak kenikmatan itu menghampirinya.


Benedict menggendong istrinya menuju kamar mandi yang ada didalam kamar, ia tak peduli kekacauan yang telah dibuatnya.


Laki-laki seperti dirinya, tak cukup hanya sekali bercinta dengan istrinya, sementara Ayudia hanya bisa pasrah memenuhi hasrat suaminya itu.


Sudah menjadi kebiasaan setelah berhubungan badan, Ayudia akan kelelahan, dan berakhir tertidur usai mandi serta rambutnya dikeringkan oleh suaminya.


Sedangkan Benedict terlihat cerah dan semakin bersemangat beraktivitas, ini juga yang menjadi alasan ia membawa istrinya pada proyek Minggu depan.


"Ben, Ayu mana?"tanya Anna saat melihat putranya menuruni tangga sendirian.


"Ayu lagu istirahat Bu, ada apa emang?"tanya balik lelaki yang menghampiri putranya yang sedang bermain dengan neneknya.


Tak menjawab pertanyaan putranya, Anna hanya menghela nafas, terkadang ia kasihan pada menantunya.


Tak lama Nando masuk dengan menggendong Aileen, "Ben, Ayu mana? Gue mau ngomong,"tanyanya sambil menghampiri sahabatnya.


"Emang semalam nggak cukup buat Lo ngobrol sama bini gue?"tanyanya kesal.

__ADS_1


"Gue belum selesai ngomong, Lo keburu dateng,"


"Kalau niat Lo mau nanya-nanya soal Amara mendingan Lo nggak usah banyak berharap deh, kayaknya Ayu nggak setuju,"


"Kenapa emang?"


"Lo kan brengsek Do,"


"Kayak Lo nggak aja,"Nando menimpali sahabat sekaligus bosnya.


"Tapi setelah gue kenal bini gue, gue udah nggak kayak gitu,"


Nando memberikan Aileen pada salah satu maid dan menarik tangan sahabatnya hingga ke halaman samping rumah.


"Bukan cuman Lo sama Rama, yang pengen dapat cewek baik-baik dan menjalani rumah tangga yang normal pada umumnya, gue juga mau, Lo harusnya paham maksud gue, Lo ngalamin juga kan?"


Benedict menghempas tangan sahabatnya kasar, "bangsat, gue beda sama Lo, seenggaknya gue nggak mainin cewek, nggak celup sana sini,"tunjuknya tepat didepan wajah sahabatnya.


Nando tersenyum sinis, "jangan mentang-mentang Lo bos gue, Lo bisa seenaknya sendiri, apa Lo lupa, dua Kali gue bawa bini Lo buat balik ke Lo lagi, setelah apa yang Lo lakuin ke dia? Apa Lo mau gue bikin bini dan anak Lo pergi dari Lo selamanya? Gue itu paham banget sifat bini Lo, dan gue pegang kartu As Lo,"


"Bangsat,"Benedict memaki Nando dan memberikan satu bogem mentah ke pipi sahabatnya hingga tersungkur di rerumputan.


Nando tersenyum sinis, ia memainkan lidahnya didalam pipi yang terkena pukulan, lumayan sakit.


"Sini bikin gue babak belur, biar Ayu liat kelakuan Lo kayak apa, terus gue tinggal bongkar kartu AS Lo,"tantangnya.


Benedict mencekik leher sahabatnya, "Lo ngancam gue, bangsat, Lo tau siapa gue kan?"


"Terusin kayak gini Ben, dan siap-siap Ayu bakal ninggalin Lo, dia lebih percaya gue dibanding Lo,"ucap Nando dengan susah payah.


Benedict melepaskan sahabatnya yang terbatuk-batuk karena ulahnya,


"Apa mau Lo bangsat?"


"Gue cuman minta buka akses gue buat deketin sahabatnya ayu, buat Gimana caranya, Amara bisa Deket sama gue secara alami,"


Benedict menghela nafas, "oke tapi setelah gue sama Ayu pergi dari sini, selama gue nggak disini Lo bisa berusaha deketin dia, kalau Lo serius, sebelum gue sama Ayu balik, Lo harus udah nikah sama dia, ngerti Lo, dan sekarang mending Lo balik, jangan sampai Ayu liat muka Lo,"


Senyum sumringah terlihat di wajah Nando, "dari tadi kek Ben, ribet Lo, gara-gara Lo wajah tampan gue jadi jelek,"


"Berisik, cabut Lo!"usirnya.

__ADS_1


Nando meninggalkan Benedict, lelaki itu tersenyum sendiri.


__ADS_2