
"Ayu kemana aja Lo, berhari-hari nggak masuk kerja,"tegur Ica yang sedang berada diruang ganti saat melihat rekannya baru saja memasuki ruangan itu.
"Abis jalan-jalan dong,"jawab Ayudia yang duduk disalah satu kursi di sana.
"Gaya Lo Ayu, jalan-jalan segala, buat beli sarapan aja Lo sayang, ini lagi malah jalan-jalan, buang-buang duit itu namanya,"sahut Nia.
"Sekali-kali Nia, gue nikmatin hidup, kapan lagi kan?"ujar Ayudiay.
Ica yang sedang memoleskan make up tipis di wajahnya berkata,"Ayu, tempo hari katanya ada ribut-ribut di cafe, gosipnya, mantan pacar mas Ben nyamperin kesini dan peluk-peluk ya, padahal udah punya suami dan anak, emang bener ya, soalnya ada Lo juga disitu kan?"
"Bener, kenapa emang?"
"Gue penasaran Ayu,"
"Jangan penasaran, entar Lo kaget,"ujar Ayudia Ambigu.
"Maksud Lo yu?"sela Nia.
"Ya nggak apa-apa sih, lagian itukan urusan mereka,"
"Bener juga sih, eh tapi Lo ko nggak pake seragam,"ucap Ica heran.
"Gue mau nganterin surat pengunduran diri,"
Ica dan Nia kaget mendengar penuturan rekannya, keduanya memberondong berbagai pertanyaan mengapa Ayudia mengundurkan diri,
"Oke gue jawab, gue udah nikah dan seminggu lagi gue mau ikut laki gue kerja,"jawabnya.
"Bukannya Lo pernah bilang, Lo nggak mau pacaran ya, karena Lo mau fokus ngurusi adik-adik Lo, loh ko ini tiba-tiba malah udah nikah,"ucap Nia bingung.
"Jangan bilang Lo dapet laki tajir,"sela Ica.
"Yang namanya manusia kan cuman bisa berencana, kita nggak taukan takdir kedepannya gimana, yang jelas, sorry gue nggak ngundang kalian pas nikah, soalnya gue nikah di KUA aja, terus masalah laki gue tajir nggak nya, gue nggak mau tau, yang jelas, duit dari mertua gue dan mahar nikah gue, kayaknya cukup buat biayain adik-adik gue, jadi gue mutusin buat berhenti kerja, lagian sekarang gue juga lagi hamil, jadi gue mau fokus buat kehamilan gue ini,"jelas Ayudia pada kedua rekannya.
"Sebenarnya gue agak kecewa sama Lo sih, cuman udah kejadian mau gimana lagi, tapi selamat ya, buat pernikahan Lo dan selamat juga buat kehamilan Lo,"ucap Nia.
"Tapi Ayu, Lo nggak hamil duluan kan?"tanya Ica.
__ADS_1
"Ya nggak lah, gue nikah udah beberapa bulan yang lalu, terus gue hamil baru empat minggu,"jawab Ayudia, "gue mau ke tempat mas Rama dulu, mau ngasih surat ini dulu,"ujarnya menunjukan amplop putih yang dipegangnya.
Kedua rekannya menganggukkan kepalanya.
Di ruangan Rama, ada Benedict yang sedang mendiskusikan urusan bisnis saat Ayudia memasuki ruangan itu.
"Mas Rama, ini surat pengunduran diri Ayu,"ucapnya menyerahkan amplop putih.
"Gue terima ya ayu, dan uang pesangon Lo, udah gue transfer ke rekening Lo,"ujar Rama menerima amplop itu.
Ketiganya mengobrol sambil menyantap bekal yang dibawa Rama, titipan dari ibunya.
Mendengar bahwa istri dari Benedict tengah hamil, ibu dari Rama membuatkan masakan spesial untuk mereka sarapan.
"Mas Ben, aku ke bawah dulu ya, pengen nyapa temen-temen dulu, soalnya tadi baru ketemu Ica sama Nia doang, yang lain belum aku pamit,"Benedict hanya mengangguk menanggapi ucapan sang istri.
Ayudia tersenyum dan keluar dari ruangan itu menuju lantai bawah cafe.
Di sana masih ramai pengunjung, Ayudia menghampiri Satria yang sedang menggiling kopi.
Satria tersenyum menyambut kedatangan istri bosnya itu, "selamat ya Bu bos, tadi gue denger dari bos, katanya udah isi ya," ujarnya.
Satria mengangguk, keduanya mengobrol soal kehamilan Ayudia, satria juga berbagi pengalaman soal kehamilan istrinya, tentu wanita hamil itu mendengarkannya dengan antusias.
Ketika keduanya asik mengobrol, tiba-tiba Lusi datang menghampiri keduanya, tentu saja hal itu membuat Ayudia dan Satria kaget.
"Hai Ayu, kamu kok nggak pakai seragam pas kerja?"tanya Lusi melihat penampilan Ayudia.
"Ayu lagi pamit sama bang Satria, soalnya Ayu mau resign,"
"Oh gitu, ya udah kita ngobrol yuk sambil minum kopi,"Lusi menyebutkan pesannya pada Satria dan mengandeng tangan Ayu, agar mengikutinya menuju salah satu kursi yang ada di sudut cafe.
"Ayu, kok udah berhari-hari aku kesini, Ben nggak ada? Padahal aku pengen banget ketemu dia loh,"ucapnya memulai obrolan.
"Mbak Lusi nyari mas Ben? Ada tuh, tadi di ruangan mas Rama, mbak mau ketemu?"
Lusi mengangguk antusias, wajahnya cerah secerah mentari.
__ADS_1
"Bisa panggilin nggak yu,"
Ayudia melihat kedatangan Benedict yang berjalan cepat ke arahnya, "tuh lagi jalan kesini,"
Lusi menoleh, dan sumringah melihat kedatangan mantan kekasihnya itu, ia berdiri dan langsung memeluk lelaki tampan itu.
Ayudia memutar bola matanya malas, ia sudah menduga ini akan terjadi.
Benedict yang dipeluk, melepaskan pelukan itu dengan kasar,"minggir Lo,"ucapnya ketus.
"Ben kamu ko kasar sih, dulu kan kamu paling aku suka kalau dipeluk,"ujar Lusi dengan manja.
Benedict duduk disebelah Ayudia, "itu dulu, sekarang sama sekali nggak, dan ngapain Lo pagi-pagi kesini, Lo nggak ngurusin anak sama laki Lo?"
"Ini aku abis anterin Cleo sekolah, tapi aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja sih, kok berhari-hari aku samperin kesini kamu nggak ada?"
"Gue lagi bulan madu sama bini gue,"ujar Benedict santai.
"Apa? Kamu udah nikah? Kok ibu nggak ngasih tau aku sih,"ucap Lusi kaget.
"Ngapain ibu kasih tau Lo, emang penting,"
"Siapa istri kamu Ben? Lebih cantik aku pastinya kan?"ujar Lusi sombong.
Benedict menghela nafas kasar," cantikan bini gue lah, yang jelas dia masih PE-RA-WAN,"ucap Benedict menekankan pada kata terakhir.
Wajah Lusi memerah malu, tapi dasarnya perempuan beranak satu itu tak tau malu ia malah berkata, "Ben, walau kamu dapat perawan, tapi permainan ranjangnya pasti masih amatir, mending sama aku aja, aku lebih jago,"
Mendengar ucapan percaya diri Lusi, Ayudia melongo, ia tak menyangka mantan kekasih suaminya itu, ternyata perempuan tak tau malu, padahal Lusi masih berstatus istri orang.
"Gue nggak butuh perempuan jago di ranjang, urusan ranjang itu bonus dalam sebuah hubungan, yang penting gue sama bini gue saling mencintai, dia tulus sama gue, dan setia sama gue,"ucap Benedict menohok.
"Dan mending Lo pergi dari sini dan jangan ganggu gue, gue udah punya bini yang gue cintai,"lanjutnya.
"Tapi Ben, aku masih cinta sama kamu, kamu cinta pertama aku Ben, kita bisa sama-sama tanpa sepengetahuan pasangan kita masing-masing, please Ben, aku pengin sama kamu,"ucap Lusi memohon.
Mendengar hal itu, rasanya Ayudia ingin muntah, sungguh perempuan dihadapannya ini benar-benar tak tau malu, Lusi tidak tau bahwa istri dari Benedict adalah dirinya.
__ADS_1
"Gila Lo ya, benar-benar nggak tau malu, nyesel banget dulu gue pernah jadi pacar Lo,"ucap Benedict ketus, "mumpung gue masih sabar,Lo mending cabut dari sini, sebelum gue telpon Arnold biar Lo diseret sama dia,"
Lusi memegangi tangan Ben, ia masih memohon agar Benedict mau kembali padanya.