
Hari diselenggarakannya acara aqiqah tiba, acara yang dihadiri oleh sahabat Benedict, saudara dari Ayudia, karyawan cafe serta para petinggi rumah sakit dan para karyawan yang terlibat langsung dalam membantu persalinan Istri dari bos besar mereka.
Acara aqiqah itu dilakukan di halaman samping rumah besar itu, ada Sinta yang sibuk mengurus kelancaran acara, tak lupa catering spesial yang di sediakan oleh ibu dari Rama.
Bahkan tadi pagi sempat ada acara santunan anak panti asuhan yang menjadi langganan donasi dari Anna.
Pasangan suami istri itu, benar-benar ingin membagi kebahagiaan mereka.
Selain acara potong kambing, ada acara gunting rambut untuk bayi, juga pengumuman nama untuk bayi itu.
Untuk bayi laki-laki sekaligus anak sulung diberi nama, Ainsley Wright sedangkan bayi perempuan diberi nama Aileen Wright.
Banyak ucapan selamat dan doa dari para undangan yang datang, tak lupa souvernir berupa logam mulia seberat setengah gram serta makanan khas Aqiqah.
Acara berlangsung hingga sore hari, dan para tamu terlihat puas.
Malam harinya setelah memastikan bayi kembar itu tidur nyenyak, Benedict mengajak Ayudia untuk berbicara di ruang kerjanya, sedang Anna menjaga cucunya.
"Mas ada apa lagi, ngajak aku ke ruang kerja kamu, aku pengen langsung tidur,"keluh Ayudia yang di gandeng suaminya menuju ruangan yang ada disamping kamarnya.
Ayudia kaget, ada sahabat Benedict beserta Troy dan mister Wiliam pengacara dari Benedict di Amerika.
Mereka berbicara dengan bahasa Inggris,
Pertama-tama Rama yang berbicara, menyebutkan seluruh aset milik Benedict yang ada di negara ini, ada kos-kosan yang tersebar di Jabodetabek, cafe, rumah sakit yang dikelola Oscar, kantor pengacara dan perusahaan penyedia jasa keamanan yang dikelola oleh Alex, juga villa dan resort yang tersebar di luar ibu kota.
Ayudia tidak terlalu kaget, karena itu semua dikelola oleh sahabat Benedict yang sebagian sudah ia ketahui.
Saat Ayudia ditawari untuk mengubah nama kepemilikan, wanita itu menolak,
Lalu setelah selesai penjelasan Rama, giliran Troy yang menjelaskan semua aset yang dimiliki oleh Benedict diluar negeri.
Benedict memiliki tiga pesawat pribadi berbeda ukuran, jika tidak digunakan, maka akan disewakan juga ada helikopter sebanyak dua unit.
__ADS_1
Kepemilikan saham perusahaan Wright sebesar empat puluh persen.
Juga disebutkan properti dan mobil mewah yang ada di New York.
Saham di berbagai perusahaan di dunia, diantaranya saham dari perusahaan pertambangan di Afrika Selatan, juga perusahaan pertambangan yang ada di timur tengah, selain itu dia juga mempunyai saham cukup besar disalah satu maskapai penerbangan di negara itu.
Yang membuat Ayudia tercengang adalah kepemilikan tiga pulau pribadi di selatan Pasifik juga saham pada perusahaan kapal pesiar dunia.
Dan masih banyak lagi yang disebutkan oleh Troy, membuat Ayudia pusing saja.
Alex juga membuat surat perjanjian untuk kedua pasangan suami istri itu.
Ada satu lagi yang membuat Ayudia hampir pingsan yaitu kepemilikan rekening dengan jumlah nominal sangat besar disalah satu Bank di Eropa, belum lagi beberapa black card milik lelaki itu.
Ayudia tak menyangka, suaminya bisa sekaya itu, diusia yang terbilang muda.
Itu belum termasuk kepemilikan barang-barang mewah lelaki itu.
Tersisa sepasang suami istri yang masih berlama-lama di ruangan itu.
"Mas kok kamu bisa sekaya itu? Kamu nggak capek ngitung?"
"Kan ada Troy dan William yang mengurus semua itu dan kamu nggak usah mikirin, yang penting sekarang kamu sudah tau semua apa yang aku punya, semua itu punya kamu juga,"
"Bingung aku mau komentar apa, jadi ingat, dua tahun lalu, aku masih terseok-seok buat makan sehari-hari buat adik-adik, sampai setiap aku lapar, aku cuman beli roti dua ribuan, saking harus hematnya,"
"Aku pernah liat kamu makan roti itu, pas kamu lagi marahan sama aku,"ujar Benedict mengingat dulu.
"Untungnya setiap bulan, adik-adik aku dapat sembako dari program pemerintah, jadi agak meringankan,"
Ayudia yang sedang duduk di sofa kamar, mendadak bangkit, mendekati suaminya yang sedang memangku laptop, "mas terus kamu beneran keluar dari perusahaan keluarga kamu?"tanyanya penasaran.
Benedict menghembuskan nafasnya perlahan dan melepaskan kaca matanya, "nggak sepenuhnya sih, kan aku juga masih jadi pemilik saham cukup besar di sana, dan untuk audit keuangan aku juga masih ikut andil, juga kalau ada proposal proyek, aku juga ikut periksa, jadi sebenarnya aku nggak nganggur, masih sibuk juga,"
__ADS_1
"Kamu udah sekaya itu masih kerja keras juga ya! Emang duitnya buat apaan sih?"
"Buat kamu sama anak-anak lah,"
"Mas, aku dikasih makan tempe sama sayur katuk aja udah bersyukur banget, yang penting bisa beli baju seenggaknya setahun sekali pas lebaran udah cukup,"
Benedict meletakan laptopnya di meja kecil disampingnya, "sini duduk,"tunjuknya pada pahanya,
"Mas, Aku masih nifas, nggak boleh gituan dulu,"tolak Ayudia.
"Siapa yang mau minta begituan sih Ay, aku juga tau kamu masih berdarah, udah sini, aku mau peluk kamu doang,"
Ayudia menuruti permintaan suaminya, "Ay, awalnya aku nggak berniat mengumpulkan kekayaan sebanyak itu, aku melakukan semua itu karena memang aku suka dan rasa tanggung jawab untuk mempertahankan perusahaan keluarga aku, mengenai kepemilikan harta yang lain, aku hanya mempergunakan uang yang aku punya agar bisa bermanfaat aja, kalau untuk hasilnya berarti memang sudah rejeki, lagian aku beli alat transportasi yang benar-benar menunjang mobilitas aku, supaya lebih mudah berpindah tempat aja, jadi bisa dibilang aku berinvestasi dengan memiliki alat transportasi itu, kan bisa balik modal Ay,"
"Terus kamu bakal kerja dari rumah terus gitu?"
"Kok kamu kayak nggak suka aku kerja dari rumah sih Ay? Aku kan juga bisa bantu kamu ngurus anak-anak,"
"Kan ada ibu mas,"
Benedict menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi istrinya, "Ay, aku juga nggak mau kehilangan momen tumbuh kembang anak-anak kita, juga selama kita menikah, kan kita jarang menghabiskan waktu bersama, jadi sekarang aku mau selalu sama-sama kamu,"
Ayudia merangkul leher suaminya, "kenapa kamu baik banget sama aku sih mas? Aku kan sering nyakitin kamu,"
Benedict menyentuh pipi istrinya, "Ay, aku sayang kamu, jelas aku harus baik sama kamu kan? Nanti kalau aku jahat, kamu ninggalin aku lagi,"
Ayudia yang semakin berani, bahkan mencium pipi lelaki itu, "jadi sayang deh sama kamu,"
Benedict menatap mata wanita di pangkuannya, ia mencari letak kebohongan di sana, namun sepertinya ia tidak menemukannya, "Ay, apa kamu udah mulai ada rasa sama aku?"tanyanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Menurut kamu? Yang jelas bukan karena banyaknya kekayaan kamu ya, aku sayang kamu karena kamu memang pantas untuk disayangi dan sepertinya aku udah mulai berdebar-debar kalau dekat kamu,"ujarnya menuntun tangan besar itu menuju dadanya.
Benedict merasakan debaran di dada istrinya terasa lebih kencang, "Ay, makasih banyak, kamu udah beri hati kamu untuk aku, aku nggak akan sia-siakan,"ujarnya lalu ia ******* bibir istrinya untuk menyalurkan rasa bahagianya.
__ADS_1