Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus delapan belas


__ADS_3

Hari keberangkatan kembali ke kampung halaman tiba, Ainsley dan Aileen antusias menyambutnya, begitu juga dengan Ayudia, hanya wajah muram yang menghiasi lelaki berusia kepala empat itu.


"Bun, kok bisa ayah ijinkan kita pulang kampung,"bisik Ainsley pada Ayudia saat mereka berada di bandara.


"Bunda mengancam ayah, akan kabur lagi,"jawab Ayudia.


"Aku seneng banget Bun, jadi tabungan kami utuh,"ujar remaja laki-laki itu.


"Apa yang kalian bicarakan?"tanya Benedict yang melihat putra dan istrinya berbisik-bisik.


"Ain, bertanya kenapa ayah ijinkan kami liburan di Indo,"ucap Ayudia menjelaskan.


Benedict menghampiri istrinya, ia menarik pinggang ramping ibu dua anak itu dan berbisik, "ini semua nggak gratis sayang, kamu tau aku seorang pebisnis bukan,"


Ayudia memutar bola matanya malas, "aku tau yang harus aku lakukan suamiku sayang,"


Tiga hari sebelum keberangkatan, Ayudia bersepakat dengan suaminya, jika ingin liburan di Indo, harus menemani suaminya selama tiga hari tanpa ada anak-anak diantara mereka, semacam honeymoon di salah satu villa milik lelaki itu.


Ainsley dan Aileen akan dititipkan kepada Anin, selama kepergian Ayudia dan Benedict.


Keluarga kecil itu menaiki pesawat pribadi yang baru dibeli Benedict beberapa bulan yang lalu, lebih mewah juga lebih besar dari pesawat yang dia miliki sebelumnya.


Selama perjalanan, Ayudia hanya bertemu dengan anak-anaknya saat jam makan saja, sisa waktunya seperti biasa, semua waktunya di monopoli oleh suaminya.


Lelaki itu bahkan tak pernah jenuh dengan istrinya, Benedict benar-benar tak ingin membuang waktu berharganya bersama Ayudia.


Suhu dingin di pesawat tidak berpengaruh apapun bagi pasangan suami istri yang berperang peluh, hingga lenguhan mengakhiri kegiatan panas itu.


Benedict tak peduli tempat, asal memungkinkan ia akan melakukannya dimana saja.


Dan seperti biasa setelah membersihkan sisa-sisa percintaan mereka, Ayudia langsung tertidur, sedangkan Benedict keluar dari kamar, menuju kedua anaknya.


"Bunda mana yah?"tanya Aileen melihat kedatangan Ayahnya yang berwajah cerah.


"Bunda tidur,"jawab Benedict, "ada yang ingin ayah bicarakan kepada kalian berdua,"


"Apa ayah akan bilang, hanya akan mengantarkan kami dan membawa bunda kami pergi?" Tanya Ainsley.


"Ya, bunda akan ikut ayah selama tiga hari, setelah itu bunda akan kembali bersama kalian, dan ayah akan bekerja, tapi ada yang ayah minta dari kalian, terutama kamu Ainsley,"


"Harus menguntungkan buat Ain ayah,"


"Bukankah waktu bunda bersama kalian itu menguntungkan buat kalian?"


"Itu tidak cukup ayah,"


Benedict menghela nafas, sepertinya wataknya menurun pada Ainsley, "baiklah, sekarang dengarkan Ayah baik-baik, tolong jaga bunda dari gangguan apapun, terutama laki-laki bernama Pradikta atau Dikta, jika suatu saat bunda bertemu dengan lelaki itu, kalian harus mencegahnya,"


"Apa kami boleh tau alasannya?"tanya Aileen penasaran.


"Lelaki itu adalah cinta pertama bunda, dan setiap bunda bertemu dia, ayah dan bunda akan bertengkar hebat, bukankah kalian ingin selalu punya orang tua lengkap?"


Keduanya kompak mengangguk, meskipun ayah mereka tidak terlalu dekat dengan mereka, tapi setiap anak pasti ingin ayah dan bundanya tak berpisah.

__ADS_1


"Baiklah ayah, kami akan menjaga bunda dari lelaki bernama Pradikta, lalu mengenai permintaan kami untuk bersekolah di Indo, apa ayah sudah pertimbangkan?"


"Kenapa kalian terutama Ainsley ingin bersekolah di sana?"


"Kami hanya ingin memiliki teman, dan mendiang nenek bercerita, ayah dulu bersekolah di sana bukan,"


"Pasti bunda akan mengikuti kalian, bukankah kalian tau, ayah sangat membutuhkan bunda?"


"Kami akan bujuk bunda, kami bisa tinggal dengan om Arya dan om Aryo, bukankah mereka bisa menempati rumah besar kita?"ujar Ainsley.


"Ayah ijinkan, asal kalian bisa bujuk bunda untuk mengikuti ayah, dan kami tentu akan sering menjenguk kalian,"


Ainsley menjulurkan tangannya, tanda perjanjian ayah dan Anak, Benedict menerima juluran tangan putranya.


"Deal"...


Pesawat mendarat di bandara timur ibu kota saat malam hari,


Di bandara sudah ada Rama yang menunggu, setelah mengucapkan salam, Rama mempersilahkan keluarga kecil itu untuk menaiki mobil yang membawa mereka ke rumah besar.


Di teras, para pekerja mansion menyambut tuan dan nyonya yang sudah bertahun-tahun tidak berkunjung.


Tidak ada banyak yang berubah, hanya beberapa furniture yang diganti.


Para pekerja, merawat rumah itu dengan baik, itu semua berkat Rama yang rutin mengawasi para pekerja.


Anak-anak memasuki kamar baru mereka yang berada di lantai satu, itu semua atas permintaan Benedict, lelaki itu tidak mau waktunya dengan istrinya terganggu.


Sepertinya kedua anak kembar itu kelelahan, setelah membersihkan diri, mereka langsung pergi tidur.


Benedict dan Rama membicarakan soal pekerjaan, juga soal rencana lelaki itu untuk mengunjungi salah satu villa miliknya.


Hampir satu jam kedua lelaki dewasa itu berdiskusi,


Usai menyelesaikan urusannya Benedict memasuki kamar miliknya , setelah Rama pamit undur diri.


Ia tak mendapati istrinya di kamar, mungkin masih berada di kamar anak-anaknya.


Lelaki itu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Hanya sepuluh menit, lelaki itu keluar dengan melilitkan handuk pada pinggangnya.


"Bun, aku pikir kamu, di kamar anak-anak,"ujar Benedict ketika melihat istrinya baru keluar dari walk in closet,


"Anak-anak langsung pada tidur, abis bersih-bersih, tadi aku juga berendam dulu,"jelasnya.


Ayudia mengambilkan celana bokser untuk suaminya, lelaki itu ingin tidur bertelanjang dada.


"Sayang, besok siang kita ke villa ya!"ujar Benedict sesaat setelah keduanya merebahkan diri di ranjang.


"Oke, tidak masalah, sekarang kita tidur yuk, aku ngantuk banget,"


"Bagaimana jika kita olah raga malam dulu, supaya tidur kita lebih nyenyak?"tawar lelaki itu.

__ADS_1


"Tapi kamu yang kerja ya, aku lelah,"


"Baik istriku,"


Dan Benedict tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, sementara Ayudia hanya bisa pasrah dibawah kendali suami mesumnya.


Hingga lenguhan panjang, membuat lelaki itu ambruk di samping istrinya.


Siang harinya Benedict mengemudikan sendiri mobil yang akan membawanya menuju villa miliknya yang baru jadi bulan lalu,


Setelah memastikan anak-anaknya akan aman bersama Anin, selama pasangan suami istri itu pergi ke villa.


Villa dengan design unik, yang Benedict design sendiri, tentu lelaki itu hanya mengirimkan cetak biru pada Rama dan Nando juga menjelaskan segala material yang harus dipakai


Bisa di bilang ini merupakan salah satu uji coba, apakah villa itu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Benedict.


Villa berada di bawahnya rimbunnya pohon besar di pinggir sungai dengan aliran sungai kecil dibelakangnya,


Material kayu mendominasi bagian villa, hanya pondasi yang terlihat menggunakan bahan permanen.


"Villanya bagus mas, kayak tempat kita nginep saat liburan di Jepang,"ujar Ayudia saat keduanya mulai memasuki villa.


Antara kamar yang satu dengan yang lain hanya berjarak beberapa meter saja, masing-masing bangunan hanya ada satu kamar, karena villa ini ditujukan pada pasangan yang tengah menikmati honeymoon.


"Apa kamu suka?"tanya Benedict.


"Aku suka banget, disini tenang, udaranya enak,"


Benedict terinspirasi saat dirinya liburan bersama istri dan anaknya ke Jepang, disalah villa didekat pemandian air panas.


Entah harus bagaimana Ayudia berkomentar, wanita itu takjub dengan hasil karya suaminya, villa itu tidak terlalu besar, namun fasilitasnya cukup lengkap, tidak ada ranjang, hanya sebuah kasur layaknya di Jepang, yang bisa dilipat dan dimasukan kedalam lemari.


Kamar mandi dengan shower, juga jacuzzi yang berada di balkon yang tertutup oleh pagar bambu,


Ada kitchen set mini juga living room layaknya rumah tradisional Jepang.


"Apa semua villa disini hanya untuk pasangan honeymoon?"tanya Ayudia saat berdiri di balkon menghadap sungai,


"Hanya ada lima kamar khusus honeymoon, ada juga untuk keluarga kok,"


"Lain kali, aku boleh ajak anak-anak ke villa untuk keluarga nggak?"


"Tentu boleh sayang, ini kan punya kamu,"


Ayudia memeluk dan berjinjit agar bisa mencium suaminya, "makasih sayang, aku senang,"


"Ada yang harus kita lakukan selama tiga hari ini, aku hanya mengingatkan kalau kamu lupa,"


"Apapun untuk suamiku yang baik hati juga tampan,"


Setelah itu keduanya berbagi kenikmatan duniawi, yang menjadi tujuan awal Benedict mengajak istrinya jauh-jauh ke villa.


Selama tiga hari, setiap sudut villa menjadi saksi bisu betapa bergairah nya juga panasnya kegiatan keduanya di sana.

__ADS_1


Berhenti saat makan dan tidur saja, seolah Benedict sedang mencharge dirinya dikarenakan nantinya Selama tiga bulan keduanya terpisah jauh.


__ADS_2