Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus dua puluh empat


__ADS_3

Sudah tiga bulan Benedict terpisah dari istrinya, proyek renovasi resort milik tuan Amar berjalan dengan lancar, dan beliau selalu puas dengan hasil kerja ayah dua anak itu.


Benedict menerima pekerjaan dari tuan Amar bukan karena uang hasil kerjanya, melainkan wujud rasa terima kasihnya kepada pengusaha asal timur tengah itu, karena bantuan dari beliau dia bisa menghasilkan kekayaan yang banyak, melebihi penghasilannya saat menjadi CEO di perusahaan Wright.


Karena tuan Amar lah yang mengenalkannya pada kolega-kolega yang berasal dari timur tengah juga Afrika,


Selain CEO dan Arsitek, lelaki itu melakukan investasi secara pribadi pada beberapa bidang baik industri, pertambangan juga kontruksi, dari sanalah kekayaannya yang melimpah berasal.


Sudah dua puluh tahun dirinya bekerjasama dengan tuan Amar beserta koleganya.


Meskipun di negara asal istrinya ia tidak dikenal, tapi berbeda jika di beberapa negara timur tengah dan selatan Afrika, lelaki itu cukup diperhitungkan oleh pengusaha di sana.


Seperti biasanya setelah dari pulau, dia tak bisa langsung menemui istri dan anaknya yang sedang di negara tropis itu, Benedict harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai CEO, biasanya dia akan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda selama dirinya tidak ada di sana,


Kurang lebih sebulan ia akan bekerja mengurus perusahaan warisan kakeknya itu.


Lelah, tentu saja, tapi ia tak peduli, yang ia inginkan adalah segera menyelesaikan segala tanggung jawabnya agar bisa bersama istrinya, ia sangat merindukan ibu dari anak-anaknya.


Memang hampir setiap hari dirinya melakukan panggilan video dengan istrinya, hanya untuk saling bercerita tentang kesehariannya.


Dari cerita istrinya, Natasha dan suami juga anaknya tinggal di rumah besar itu.


Benedict tidak keberatan, ia tau suami dari Natasha adalah lelaki yang jarak umurnya jauh dari istrinya, jadi dia tidak begitu khawatir.


Selain itu suami dari Natasha juga lebih sering keluar kota atau pulau mengikuti Nando untuk bekerja.


Dan setelah pekerjaannya selesai, dan bisa ditinggal lagi selama kurang lebih sebulan, Benedict akan menemui istrinya tanpa memberitahu, seperti memberi kejutan.


Lelaki itu bahkan menaiki pesawat komersial, agar kedatangannya tidak diketahui oleh sahabat-sahabatnya,


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya ia tiba di negara dimana istrinya berada.


Senyum mengembang begitu ia memasuki taksi berwarna biru yang akan membawanya menuju rumah besar itu.


Taksi berhenti tepat di gerbang tinggi berwarna hitam, lelaki yang mengenakan Hoodie warna hitam juga celana jeans dengan warna senada, menarik koper berwarna abu, lalu memencet bel.


Terlihat sekuriti membukakan pintu, dan terkejut melihat kedatangan tuan besar nya secara tiba-tiba.


Benedict melarangnya untuk memberitahukan kedatangannya kepada istrinya.


Ia juga melakukan hal yang sama pada maid yang ia temui, ia bertanya dimana istrinya berada, dan maid memberitahu jika wanita itu sedang membuat kue di dapur bersama tamunya.


Benedict menuju ke kamarnya di lantai dua, tidak banyak berubah di sana, aroma wangi istrinya menyeruak begitu memasuki kamar itu.

__ADS_1


Lelaki itu memilih untuk mandi terlebih dahulu, agar saat ia bertemu dengan istrinya, ia terlihat segar.


Usai mandi, ia mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana Chino selutut berwarna senada, tak lupa menggunakan parfumnya yang dulu pernah di pilihkan oleh istrinya.


Tidak sampai dua puluh menit, lelaki itu sudah turun kembali, ia berjalan menuju dapur, ada dua perempuan berhijab dan satu balita perempuan yang sedang berbicara sambil menunggu kue matang.


Benedict diam sejenak mendengar pembicaraan dua perempuan yang sepertinya berbeda usia, tapi lelaki itu tak ingat itu siapa, bukan bude Marini atau bibi Atun, ataupun ibu dari Rama.


"Makasih banyak loh Tante, udah mau ajarin Ayu sampai bisa bikin kue ini, Ayu seneng deh,"ujar perempuan dengan jilbab instan berwarna maroon.


"Tante yang harusnya berterima kasih, walaupun kamu nggak jadi mantu Tante tapi kita masih bisa dekat, dan kamu juga mau main dengan cucu Tante," sahut perempuan paruh baya berhijab cokelat muda.


"Oh ya Ayudia kecil nggak bisa main sama Shaka jadinya, soalnya lagi ikut papinya kerja di luar kota,"


"Tante lega, sekarang rumah tangga dokter Natasha baik-baik aja, semua berkat bantuan kamu Ayu,"


"Tante Arini bisa aja, Kan mereka yang memang masih mau berumah tangga, aku cuman kasih jalan aja,"


"Coba anak Tante bisa move on, kadang-kadang Tante suka sedih, Dikta masih gitu, ya walau dia udah kasih cucu buat Tante, tapi maksud tante itu, dia bisa bawa mantu ke rumah, yang bisa nemenin Tante urus anaknya, tapi apa mau dikata, sifat keras kepalanya itu yang bikin Tante mesti lebih sabar,"


"Ayu berharap suatu saat Dikta bakal ketemu jodohnya, bukan sekarang mungkin nanti,"


"Kadang Tante tuh masih berharap kamu yang jadi mantu Tante, kamu itu dari dulu bawa kebahagiaan di keluarga kami, tapi takdir berkata lain, kamu malah jadi istri orang,"


Perempuan berhijab maroon itu sampai mengucek matanya, juga menajamkan matanya, benar itu suaminya yang telah kembali, ada rasa takut menyelinap di hatinya, apa lelaki itu mendengar obrolannya dengan Tante Arini soal Dikta?


Ayudia menghampiri lelaki berkaos hitam itu, ia menyalaminya juga mencium tangannya.


Ada senyum yang sedikit di paksakan "kamu pulang kok nggak kasih tau, aku kan bisa jemput di bandara,"


Benedict diam tak menanggapi, ia memandang tajam istrinya,


Ayudia yang ditatap tajam oleh suaminya berusaha menyembunyikan rasa gugupnya,


"Oh ya mas, kenalkan ini Tante Arini, beliau yang ngajari aku buat kue, kesukaan anak-anak, kamu apa mau coba?"ujarnya sambil menunjukan kue cokelat yang ada di toples bening.


Benedict hanya melirik sekilas,


Melihat keadaan yang tidak memungkinkan, Arini menuntun Ayudia kecil dan memohon pamit, namun dicegah oleh Ayudia.


"Biar supir antar ya Tante? Maaf Ayu nggak tau malah jadi begini," bisiknya tak enak.


Ayudia mengantarkan Arini dan cucunya hingga teras depan, ia meminta supir untuk mengantarkan ibu dari Pradikta.

__ADS_1


Usai memastikan mobil meninggalkan halaman rumah itu, Ayudia berniat masuk kedalam, tapi ia terkejut ternyata suaminya mengikutinya.


"Jadi apa itu mantan calon ibu mertua kamu? Bahkan lelaki itu memberikan nama yang sama dengan nama kamu, apa yang terjadi selama aku nggak ada?"


Ayudia diam menunduk.


Benedict mengernyit, memperhatikan bentuk tubuh istrinya, perutnya terlihat membuncit,


"Kenapa perut kamu terlihat besar istriku? Apa yang terjadi? Bisa kamu jelaskan?"tanyanya menyelidik.


Ayudia yang tau akan ada perdebatan diantara dirinya dan suaminya, lebih memilih, berlalu dari hadapan lelaki itu, ia berpesan pada salah satu maid, untuk memberitahu ke supir jika sudah kembali maka, supir itu harus menjemput Ainsley dan Aileen.


Setelahnya, Ayudia menaiki lift dengan suaminya yang masih mengikutinya.


Sesampainya di kamar, Ayudia melepas jilbabnya, dan memasuki kamar mandi, sekitar lima menit ada di kamar mandi, perempuan hamil itu keluar, dengan handuk yang melilit tubuhnya.


Benedict bisa melihat jelas perut buncit itu dibalik handuk yang dikenakan istrinya, ia mengepalkan tangannya.


Tak lama, Ayudia sudah mengenakan dress tanpa lengan dengan panjang hingga selutut berwarna putih.


Wanita itu duduk di tepi kasur berhadapan dengan suaminya yang duduk di sofa.


"Apa kabar mas? Apa kamu terkejut dengan keadaan istri kamu sekarang?"tanyanya sambil tersenyum.


"Oh ya aku lupa, welcome to our home my husband, I Miss you so bad," ucapnya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


"Jadi kenapa kamu bisa hamil, siapa bapak dari anak dikandungan kamu?"tanya Benedict menatap istrinya tajam.


Bukannya menjawab Ayudia malah tertawa, hal itu membuat Benedict semakin emosi, lelaki itu bangkit, dan mencengkeram kedua lengan istrinya.


"Kamu masih bisa tertawa di situasi seperti ini? Katakan padaku, siapa ayah dari bayi ini? Apa Pradikta? Bahkan kamu akrab sekali dengan ibunya, kamu berselingkuh selama suami kamu sedang bekerja? Jawab Ayudia, bukankah kamu punya mulut?"bentak Benedict pada istrinya.


Ayudia mendorong suaminya, "kenapa sih kamu selalu kasar? Yang aku temui itu Tante Arini bukan Dikta, bahkan selama aku disini, aku belum pernah bertemu langsung dengan Dikta,"


"Lalu kamu hamil anak siapa Ayudia?"teriak lelaki itu.


"Mas, menurut kamu apa istri kamu segampang itu bisa tidur dengan lelaki selain suaminya?"tanya Ayudia tak mau kalah.


Benedict bangkit, ia meninju tembok tak jauh dari ranjang.


"Tapi aku udah nggak mungkin bisa hamilin kamu Ayudia,"teriak lelaki itu.


Perempuan hamil itu terkejut akan tindakan suaminya, lelaki itu masih saja temperamen.

__ADS_1


"Kalau kamu nggak mau mengakui anak dalam kandungan aku, nggak masalah, aku bisa besarkan dia sendiri," Ayudia bangkit menuju walk in closet, ia hendak berganti baju, dan mengambil dompetnya.


__ADS_2