
Ujian semester telah usai, diakhir pekan, keluarga kecil itu mengunjungi rumah mendiang Anna yang berada di desa.
Benedict baru mengetahui tentang peninggalan ibunya, sesampainya di sana, seperti biasa mang kos dan istrinya menyambut mereka.
"Jadi ini tempat kamu melarikan diri?"tanya Benedict begitu masuk ke rumah kayu itu. Ayudia hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
Benedict melihat keadaan dalam rumah, yang didominasi material kayu, Anna memang bukan seorang arsitek seperti dirinya, tapi design rumah sederhana itu membuatnya bangga dengan mendiang ibunya.
Dalam hati ia berterima kasih pada ibunya, tak lupa mendoakannya.
Setelah meletakan koper di kamar masing-masing, Ainsley dan Aileen meminta ijin untuk keluar rumah menemui teman-teman mereka, kebetulan waktu masih menunjukkan jam tiga sore.
Ayudia merapihkan baju-baju untuk dimasukkan ke dalam lemari, sedangkan Benedict duduk di ranjang mengamati kegiatan yang dilakukan istrinya.
"Jadi selama kamu hamil anak kembar itu, kamu melarikan diri ke sini?"tanyanya.
"Iya, disini aku betah banget, enak banget hawanya, adem, tetangganya juga ramah-ramah,"jawab wanita hamil itu.
"Bukankah rumah ini terlalu kecil?"
"Walau kecil, tapi ini lebih dari cukup untuk aku,"
Benedict bangkit dan memeluk istrinya dari belakang, "sayang, apa kamu lapar?"
Ayudia berbalik, ia membalas pelukan suaminya, tak lupa mengecup bibir seksi itu, "bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling desa, naik motor, sepertinya motor dari A Nando masih ada,"
"Nando pernah kasih kamu motor?"
"Iya, setelah aku bangun dari koma dan aku di talak oleh suami aku,"sindirnya.
"Sayang jangan diingat lagi, aku putus asa saat itu, tapi kok bisa segitu sayang ya Nando sama kamu,"ada nada kesal terselip dari ucapan lelaki itu.
"Kata A Nando gini, Ayu ini gue beliin motor buat putri kesayangan gue, gue nggak ngasih buat Lo ya, jadi Lo harus terima,"ucapnya menirukan gaya bicara Nando.
"Oh jadi Nando kasih buat Aileen, berarti aman,"
"Ya udah yuk kita keliling desa naik motor,"
Tadi Mang kos bilang bahwa motor itu ada dirumahnya, katanya takut dicuri oleh maling.
Rasanya sudah lama sekali Benedict tidak mengendarai motor, "aku jadi teringat dulu saat aku masih antar jemput kamu saat aku lagu pedekate,"ungkapnya mengingat masa lalu.
"Ia ya mas, kadang kangen pengen begini,"ucapnya sambil memeluk pinggang suaminya erat.
Ayudia menyapa setiap orang yang dikenalnya, bahkan meminta suaminya menghentikan motornya untuk sekadar berjabat tangan dengan tetangganya.
"Kamu terkenal juga ya disini?"
"Kan aku lumayan lama tinggal disini, bahkan aku sempat ikut arisan ibu-ibu,"
Benedict menghentikan motornya di tepi jalan dekat lapangan, dimana putranya sedang bermain bola dengan anak-anak seusianya, sedangkan putrinya duduk-duduk dengan segerombolan anak-anak perempuan.
Ayudia menghampiri mereka, "siapa yang mau di traktir bakso mang Ujang?"teriaknya pada anak-anak.
Anak-anak itu menoleh, melihat siapa yang berteriak, "Mau," ucap mereka kompak hampir bersamaan.
__ADS_1
Semuanya mengikuti perempuan hamil itu sedangkan Benedict menaiki motor dan mengikutinya dari belakang segerombolan anak-anak desa itu.
Bakso mang Ujang mendadak Ramai dengan segerombolan anak-anak itu.
Terlihat wajah ceria dari anak-anak polos itu, membuat suasana berisik di warung itu.
"Apa dulu kamu sering seperti ini?"tanya Benedict sambil menikmati bakso.
"Terkadang sih, tapi lebih sering bagikan kue-kue sih, ibu yang bikin, aku cuman bantu,"
"Jadi Ainsley dan Aileen seperti ini saat berada disini?"Benedict sedikit terkejut dengan perubahan anak-anaknya.
"Disini anak-anak tumbuh sesuai usianya, mereka lebih sering bermain di luar, berbaur, Tanpa membeda-bedakan latar belakang, disini juga Ainsley dan Aileen mempunyai teman-teman yang tulus,"
"Sepertinya aku baru lihat, Ainsley tertawa lepas tanpa beban disini, tapi sudah jadi takdirnya harus mewarisi perusahaan kan"
"Kamu tau nggak, reaksi yang diperlihatkan Ainsley ketika tau aku hamil lagi, dia itu seneng banget, katanya dia berharap adiknya itu laki-laki, supaya beban yang harus dipikulnya, bisa beralih ke adiknya,"
"Ainsley bilang begitu?"
Ayudia mengangguk, "dia itu pengen hidup layaknya orang biasa seperti teman-temannya disini,"
Mang Ujang mendadak sibuk, oleh sebagian anak-anak juga beberapa remaja, mereka berisik sekali, saat memesan bakso yang mereka inginkan,
Benedict sampai heran sendiri, sepertinya semasa ia baru pindah ke Indo, ia tidak seantusias anak-anak itu, bahkan ia hanya berteman dengan Rama juga beberapa tetangga yang dikenalkan oleh sahabatnya.
Ayudia juga Benedict mendapatkan giliran terakhir saat bakso disajikan oleh mang Ujang.
Ada beberapa obrolan antara Ayudia dan penjual bakso itu, tak lupa ibu hamil itu memperkenalkan suaminya kepada mang Ujang.
Benedict mengeluarkan beberapa uang merah dari dompetnya, senyum mengembang dan ucapan terima kasih dari mang Ujang, menerima bayaran berlebih dari lelaki asing itu.
Anak-anak ijin untuk mandi di sungai, Ayudia mengangguk serta memperingatkannya agar berhati-hati.
Pasangan suami istri itu menaiki motor yang berjalan perlahan mengikuti anak-anak itu menuju sungai.
"Dulu aku juga, berfikir aku akan jadi orang biasa, karena aku sudah terbiasa hidup disini bersama Rama dan teman-temannya, tapi aku tak menyangka, sebelum lulus SMA, uncle datang ke Jakarta dan meminta aku, untuk kuliah di Amerika sambil mengurus perusahaan, saat itu aku berat sekali berpisah dengan Rama, tapi karena kasihan dengan Uncle yang sedang sakit, sehingga selepas lulus, aku langsung berangkat ke sana,"
"Bukannya kamu sakit hati karena Mbak Lusi menikah dengan pak Arnold?"
"Itu tidak ada hubungannya, kan aku bilang, aku tidak pernah mencintai Lusi, saat itu aku memang sengaja seolah-olah aku tersakiti, kan teman-teman seangkatan jadi bersimpati padaku dan menghujat mereka,"
"Ih kamu licik,"
"Baru tau kamu, oh ya aku lupa, aku dapat kabar dari Rama katanya Cleo mau nikah, pekan depan,"
"Apa kita diundang?"tanya Ayudia.
"Apa kamu mau hadir?"tanya Benedict balik,
"Kalau di undang aku datang, lagian mbak Lusi nggak mungkin berbuat aneh-aneh di pesta putrinya sendiri,"
"Baiklah jika diundang kita hadir,"
Dengan mata kepalanya sendiri, Benedict melihat kedua anaknya bermain lumpur di sawah sebelum mandi di sungai, ia tak menyangka anaknya bisa seperti itu, pantas saja putranya ngotot ingin berada di negara asal ibu dan neneknya, tawa mereka lepas seolah tak ada beban.
__ADS_1
Walaupun kedua anaknya berbeda secara fisik, semua berbaur bermain bersama dan tak ada batasan sama sekali.
Ayudia seperti biasa, menjalani hidup sederhana seperti kebanyakan tetangganya, bangun sebelum subuh, membangunkan anak dan suaminya untuk melaksanakan ibadah subuh di mushola tak jauh dari rumah,
Benedict yang memang tidak membawa baju Koko, hanya mengenakan kaos putih polos, dan sarung yang di pinjam dari mang kos.
Pengalaman pertamanya shalat subuh bersama putranya di mushola sederhana.
Sedangkan Ayudia dan Aileen menunaikan ibadah di rumah secara berjamaah.
Pulang dari mushola setelah mengobrol dengan bapak-bapak, Benedict mendengar istrinya tengah mengaji, ini pertama kalinya, ia mendengar suara merdu istrinya.
"Ainsley, apa bunda selalu seperti ini setiap harinya?"tanya Benedict pada putranya.
"Bukankah, ayah sudah lama bersama bunda, kenapa ayah tidak tau kebiasaan bunda?"tanya balik Ainsley.
Benedict menyadari jika dirinya tidak sepenuhnya tau kebiasaan istrinya.
Usai mengaji, Ayudia bergegas menuju dapur untuk membuatkan sarapan, kali ini ia akan menggoreng pisang, yang ia dapat dari tetangga sebelah rumahnya kemarin sore.
Aileen membantu bundanya membuatkan kopi, teh juga susu hamil untuk bundanya.
Setelah matang, Ayudia membawa sajian itu menuju gazebo yang ada didekat kolam ikan, di sana ada suaminya, Ainsley dan Mang kos sedang mengobrol.
Benedict menawarkan diri ingin merenovasi mushola, dan mang Kos menawarkan untuk menemui pak RT sekaligus pengurus mushola siang nanti.
Namun saat mereka berbicara, kebetulan sekali pak RT lewat tepat didepan rumah itu, mang kos memanggil lelaki Pak RT untuk membicarakan tentang rencana dari suami Ayudia itu.
Bukan hanya memberikan uang, Benedict juga yang mendesign nya sendiri, tentu rencana itu akan segera dilaksanakan, mengingat waktu yang dimiliki lelaki itu terbatas.
Sepeninggal pak RT dan mang Kos, Benedict mencari keberadaan istrinya, ia mendapati wanita itu, sedang berjongkok untuk mencuci baju,
"Kamu kenapa sampai mencuci segala sih, kita pakai laundry saja, kamu lagi hamil, kalau kecapekan bagaimana?"ucap Benedict mengkhawatirkan istrinya.
"Nggak apa-apa mas, cuma sedikit kok,"kilahnya.
"Aku aja yang ngerjain,"
"Emang kamu bisa?"tanya wanita hamil itu tak yakin.
Dengan gugup Benedict menjawab, "bisa kok, di rumah aku juga mencuci,"
"Mas, udah kamu diam saja, nggak usah merecoki aku,"ucapnya tegas, Benedict hanya bisa pasrah sembari mengawasi istrinya.
Usai mencuci dan menjemur pakaian, Ayudia pergi ke pasar diantar suaminya, sedangkan anak-anaknya sudah pergi main usai sarapan dan mandi.
Pulang dari pasar Ayudia memasak dibantu suaminya, hanya sayur asem, ikan asin, tempe dan tahu goreng juga sambal terasi.
"Mas, kalau anak-anak udah gede, dan perusahaan sudah diurus mereka, bagaimana kalau kita menghabiskan masa tua disini?"ujarnya
"Kita lihat nanti sayang,"ucap Benedict sambil memeluk istrinya.
Rencana awal keluarga kecil itu akan berada di desa hanya tiga hari dua malam, tapi anak kembar itu meminta ayahnya untuk lebih lama berada di sana, tentu saja Benedict meminta ijin kepada wali kelas mereka untuk tidak masuk sekolah.
Benedict juga langsung menjalankan rencananya untuk merenovasi musholla.
__ADS_1
Hanya enam hari keluarga kecil itu berada di desa itu, dengan berat hati si kembar harus kembali ke ibu kota, menjalani hari-harinya yang menurut mereka membosankan.