
Weekend ini, Benedict akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, entah berapa lama, lelaki itu hanya memberitahu istrinya kemana dia pergi.
Meski tak ada tanggapan apapun dari Ayudia, Benedict tetap memeluk dan mencium istrinya saat berpamitan, tak lupa kata-kata cinta yang selalu ia bisikan.
Sudah seharian, suaminya pergi meninggalkannya, ponsel pemberian suaminya berbunyi, ada nama Benedict di layar ponsel seharga motor itu, dengan terpaksa dan ogah-ogahan Ayudia mengangkat panggilan video dari suaminya.
Terlihat dari layar, suaminya baru saja selesai mandi, lelaki itu hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuh atletisnya itu, "Ay, kamu lagi apa?"sapanya lembut.
Tak menjawab, Ayudia menunjukan wadah berisi buah-buahan yang sedang ia santap melalui ponselnya.
Terlihat Benedict menghela nafas, "Ay, aku kangen pengen peluk kamu, padahal baru seharian nggak ketemu," setelahnya, Benedict bercerita tentang perjalanan bisnisnya kali ini, ia meminta doa pada istrinya, agar segala urusannya disini segera selesai, dan lelaki itu juga berjanji, sepulangnya nanti ia akan mengajak Ayudia untuk mengunjungi salah satu properti miliknya.
Ayudia hanya mendengarkan, ia tak berkomentar, bahkan ia tetap melanjutkan makannya.
Panggilan video diakhiri, setelah Asisten Benedict menghampiri lelaki itu, dan mengatakan bahwa pertemuan dengan kolega bisnisnya akan dimulai beberapa menit lagi.
Ayudia yang sudah menyelesaikan makannya, bergegas menuju ke ruang kerja suaminya, ia menarik salah satu buku yang pernah ia lihat, sebagai kunci rak disamping meja kerja itu.
Ia memasuki ruangan kecil di sana, ia menemukan tas miliknya, yang berisi barang-barang yang ia cari selama ini, senyum mengembang menghiasi wajah wanita hamil itu.
Ayudia segera keluar dari ruangan itu, ia tak ingin ketahuan oleh orang suruhan suaminya, yang bertugas bersih-bersih di penthouse itu.
Dua hari berlalu, suaminya belum juga kembali, walau hampir setiap saat, ketika lelaki itu menyelesaikan kegiatannya, ia akan menghubungi Ayudia melalui panggilan video.
Wanita hamil itu tau, jam keluar assisten rumah tangga di penthouse milik suaminya, Benedict juga baru saja menyelesaikan panggilan video dengannya.
Ayudia bergegas berganti baju hangat, ia mengenakan sweater yang dilapisi Coat berwarna cokelat seperti yang pernah ia lihat dipakai salah satu aktris drama Korea.
Tak lupa Sling bag miliknya, diluar udara mulai dingin, sepertinya musim gugur sebentar lagi akan berakhir berganti musim dingin.
__ADS_1
Ayudia menarik koper miliknya, ia turun menggunakan privat lift yang baru ia ketahui setelah sekian lama ia tinggal disini, lift yang tersembunyi di penthouse milik suaminya.
Wanita hamil itu menaiki taksi berwarna kuning dan meminta kepada supir untuk mengantarkannya ke bandara.
Agak bingung awalnya saat Ayudia berada di bandara, mengingat setiap menaiki pesawat, ia selalu bersama suaminya, ia juga tak perlu pusing mencari tiket pesawat, namun kali ini ia harus banyak bertanya kepada petugas bandara, beruntung untuknya, petugas itu melayaninya dengan baik.
Sempat menunggu beberapa jam di bandara, akhirnya ia bisa menaiki pesawat dengan tujuan Jakarta, meski harus transit nantinya.
Karena sedang hamil, ia memesan kelas bisnis, agar selama perjalanan jauh itu ia dan bayi dalam perutnya nyaman, ia menggunakan ATM pemberian mertuanya, akhirnya setelah sekian lama ia terpaksa memakai tabungan itu, dalam hati ia berterima kasih pada mertuanya itu.
Meski lebih nyaman saat menaiki pesawat milik suaminya, namun ia bersyukur setidaknya ia bisa tidur selama perjalanan, ia juga bersyukur bayi dalam kandungannya mengerti keadaan dirinya.
Pesawat yang dinaikinya transit di bandara salah satu negara timur tengah yang kaya raya, Ayudia sempat mengelilingi bandara, tak lupa mencoba kuliner di sana, meski lagi-lagi ia menggunakan kartu pemberian mertuanya.
Setelah dua puluh tiga jam perjalanan, akhirnya Ayudia bisa menginjakan kaki di tanah kelahirannya, ia lega akhirnya ia bisa sampai dengan selamat.
Ayudia tak berniat kembali ke rumah orang tuanya, ia tau sahabat suaminya pasti akan menemukannya.
Dari bandara, ia menumpang Bus yang akan mengantarkannya menuju salah satu tempat di timur ibu kota, dari sana ia menyewa mobil, menuju rumah rahasia milik mertuanya.
Selama di New York, ia rutin berkomunikasi dengan ibu mertuanya, mereka membicarakan banyak hal, termasuk rumah rahasia milik perempuan paruh baya yang dulu pernah ia kunjungi.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam, Ayudia sampai di rumah kayu itu.
Wanita hamil itu menghirup udara segar, ia tersenyum bahagia melihat rumah yang rencananya akan menjadi tempat tinggalnya sampai ia melahirkan nanti, jika nanti mertuanya tau, ia berharap semoga beliau tidak memberitahukan keberadaannya kepada Benedict
Ayudia menemui mamang yang biasa bertugas menjaga dan membersihkan rumah itu, ia meminta kunci dan memohon agar mamang Koswara, tidak memberi tahu mengenai keberadaannya pada siapapun.
Selama beberapa hari di rumah itu, Ayudia mempunyai kesibukan baru, ia mulai berkebun, menanam sayuran atau bunga di sekitar rumah, tak lupa memberi makan ikan-ikan yang ada di kolam.
__ADS_1
Rasanya tenang dan tentram, tak lupa ia meminta istri dariĀ mang Kos untuk mengantarkannya ke bidan desa agar kondisi kandungannya diperiksa, ia lega bayinya baik-baik saja, matanya berkaca-kaca mendengar detak jantung bayinya.
Sebulan sudah Ayudia tinggal di rumah itu, ia benar-benar bahagia berada di sana, ia menikmati kesederhanaan di setiap harinya, ia mensyukuri nikmat yang ia dapat sekarang, ia juga lebih dekat dengan sang Pencipta, beberapa kali ia mengikuti pengajian ibu-ibu yang ada di kampung itu, tentunya diajak oleh istri mang Kos yang bernama teh Euis.
Kandungannya yang hampir memasuki usia empat bulan terlihat lebih besar dari ibu hamil pada umumnya, dikarenakan ada dua bayi didalam perutnya, ia bersyukur, ia tidak mengalami morning sick, mengidam pun tidak, ia melalui kehamilannya dengan bahagia.
Siang itu, saat Ayudia baru saja pulang dari rumah tetangganya, ada mobil terparkir di halaman rumah, entah siapa, jantungnya berdetak lebih cepat, ia takut jika suaminya datang, apa yang harus ia lakukan?
Ayudia duduk sejenak di bangku yang terbuat dari semen, ia berusaha menetralkan detak jantungnya, berkali-kali ia menarik nafas dan membuangnya perlahan, beberapa menit berlalu saat ia sudah tenang ia memasuki rumah.
Ia mengucap salam, tak ada jawaban dari dalam rumah, Ayudia memasuki rumah menuju dapur, saat hendak membuka kulkas untuk mengambil air dingin,
"Nduk, kamu disini?"ucap Anna segera menghampiri menantunya dan memeluknya erat, "gimana kabar kamu nduk? Kamu baik-baik saja kan? Cucu ibu bagaimana?" Tanya Anna bertubi-tubi, wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya, ia memegang dagu menantunya lalu mengelus perut buncit dibalik daster batik itu.
Ayudia tersenyum dan meletakan botol minumnya kembali ke kulkas, "Ayu baik-baik aja Bu, seperti yang ibu lihat,"ujarnya.
Wanita hamil itu mengandeng tangan mertuanya untuk duduk di kursi ruang tamu, "ibu mau minum apa? Nanti Ayu buatkan,"tawarnya.
"Nggak usah nduk, ibu sudah minum tadi, jadi bisa kamu ceritakan kenapa kamu bisa sampai disini?"ucap Anna mulai bertanya.
"Ayu lari dari mas Ben, maaf Bu, sepertinya setelah melahirkan, Ayu mau meminta berpisah dari putra ibu,"ungkap Ayudia.
"Tapi kenapa nduk, apa alasannya? Bukankah Benedict mencintai kamu? Apa ada tindakan putra ibu yang membuat kamu memutuskan untuk berpisah? Cerita sama ibu nduk, ibu akan mendengarkan, ibu janji tak akan berpihak pada siapapun," ujar wanita paruh baya itu meyakinkan menantunya.
"Bu, bukankah ibu tau, mengungkap aib suami itu tidak boleh bagi seorang istri, Ayu tidak mau berdosa,"
Anna memegang tangan menantunya, "nduk, kalau kamu nggak cerita bagaimana ibu tau kejadian yang sebenarnya, setidaknya kalau memang putera ibu yang salah, ibu akan membantu kamu, tetap bersembunyi disini, kalau memang harus berpisah, ibu akan terima jika alasan itu masuk akal, pikirkan juga kandungan kamu,"bujuk Anna.
Ayudia menghela nafas, "mas Ben punya tunangan di sana, alasannya karena bisnis, dan selama hampir dua bulan di sana, sedikitpun Ayu tidak boleh keluar dari penthouse, Ayu dikurung, walau semua kebutuhan Ayu dicukupi, tetapi Ayu yang biasa berkeliaran dengan bebas, bekerja ataupun melakukan aktivitas diluar rumah, merasa tidak nyaman, Ayu juga nggak punya teman, ponsel lama Ayu disita, bahkan media sosial Ayu juga ditutup oleh mas Ben, Ayu seperti hidup di sangkar emas, Ayu stres Bu, walau kandungan Ayu baik-baik saja, apa itu menjamin jika suatu saat Bayi Ayu akan baik-baik saja kedepannya? Ayu nggak bisa hidup seperti itu Bu, Ayu lebih senang hidup sederhana seperti sekarang,"ungkapnya panjang lebar.
__ADS_1
Anna memeluk menantunya, ia menepuk punggung wanita hamil itu, "baiklah nduk, ibu akan membantu kamu,"ucapnya menenangkan menantu kesayangannya.