
"Loh Ayu, ngapain lo disini?"Tanya Rama terkejut melihat calon istri sahabatnya datang bekerja, lelaki itu baru datang, memasuki cafe pukul sembilan pagi.
"Kerja Lah mas, ngapain lagi," jawab Ayu yang sedang membersihkan meja.
"Tapi kan Lo cuti,"
"Bosen mas, di rumah terus,"
"Ben tau Lo ke cafe hari ini?"
"Nggak,"
Mendadak Rama memegangi kepalanya, "balik sekarang yu,"perintahnya.
"Emang kenapa sih mas? Orang Ayu pengen kerja, masa nggak boleh,"
"Ben bisa ngamuk sama gue," ucapnya memelas.
"Ya nggak usah bilang mas Ben kalau Ayu kerja, nggak susah kan?"ucapnya santai.
"Serah Lo deh," ujar Rama pasrah berlalu menuju ruangannya.
Ayudia melanjutkan pekerjaannya, sampai salah satu rekannya meminta tolong padanya untuk mengantarkan kue ke ruangan Bos mereka.
lima belas menit sebelumnya Di dalam ruangan Rama, laki-laki itu kedatangan perempuan paruh baya, "jadi apa benar Ben akan menikah?" Tanya Anna yang tak lain adalah ibu kandung Benedict.
"Tante Anna tau dari mana?"tanya Rama balik.
"Kemarin nggak sengaja saya ketemu ibu kamu di mall, beliau sedang membeli keperluan seserahan buat calon istrinya Ben,"jawabnya.
"Lalu apa yang akan Tante lakukan? Tante tau kan anak Tante seperti apa kalau marah?" Tanyanya lagi.
"Saya hanya ingin berkenalan dengan calon menantu saya, apa itu salah?"
"Ini bukan masalah salah nggak salah tante, Rama nggak mau ambil resiko Tante, tolong biarkan Ben bahagia,"
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu terisak, "Rama, saya mohon, ini permohonan saya yang terakhir, kamu bisa rahasiakan ini dari Ben,"mohonnya.
Rama yang sedikit paham akan sifat dari Ayudia tentu tak akan membiarkan ibu dari sahabatnya menemui calon istri Benedict.
Sampai pintu diketuk, Rama mengijinkannya masuk, dan alangkah terkejutnya Rama, bahkan matanya sampai melotot melihat kedatangan calon istri sahabatnya yang membawakan minuman untuknya.
"Kok belum pulang?" Tanya Rama ketika Ayudia meletakan salah satu kue kesukaannya.
"Entar mas jam dua,"jawabnya santai.
"Pokoknya kalau sampai dia ngamuk, bantuin gue," ucap Rama khawatir melirik perempuan paruh baya yang memperhatikan interaksi dirinya dan salah satu karyawannya.
"Tenang mas, asal nggak ada yang ngadu, dijamin mas Ben nggak bakal ngamuk," ucap Ayudia santai, tanpa wanita itu sadari Rama melotot begitu nama sahabatnya keluar dari mulut karyawannya.
"Keluar lo," bentak Rama, Ayudia tentu kaget, untuk pertama kalinya bosnya membentak dirinya.
"Biasa aja dong mas, ini Ayu juga mau keluar," ucap wanita itu kesal.
Sepeninggal Ayudia, perempuan paruh baya itu menatap Rama dan berkata, "apa wanita tadi calon istrinya Ben?"
"Oke, kalau gitu saya permisi," pamitnya meninggalkan ruangan dari sahabat putranya.
Rama yang tak mau kecolongan lagi dan sengaja mengantarkan Tante Anna hingga membukakan pintu mobil dari perempuan paruh baya itu, ia benar-benar memastikan mobil itu menghilang dari pandangannya.
Kali ini Rama benar-benar akan memaksa Ayudia untuk segera pulang, ia tidak ingin mengambil resiko, bahkan lelaki itu sampai menyeret wanita itu hingga ke ruang ganti, agar wanita itu mengambil tasnya, "ini beneran Ayu diusir mas?" Ujarnya memastikan lagi.
"Iya gue ngusir Lo, bahkan gue bakal mecat Lo kalau Lo tetap keras kepala, walaupun Lo calon bini big bos gue sekalipun, udah gue pesenin ojol, Lo balik sana, diem di rumah, luluran atau ngapain ke, harusnya Lo tuh dipingit bukan malah keluyuran," ujarnya kesal.
"Mas Rama ngomongnya kasar sama Ayu, males Ayu,"
"Serah elo Ayu, gue lebih milih Lo ngambek dari pada di amuk sama Ben, tuh ojol udah Dateng," dengan terpaksa Ayudia menaiki ojol yang dipesan Rama, sekali lagi Rama memastikan bahwa calon istri sahabatnya tak terlihat lagi dari pandangannya.
Namun sepertinya Rama lupa, bahwa seorang Perempuan paruh baya memperhatikan interaksi antara Rama dan wanita yang diyakini menjadi calon menantunya.
Saat ojol yang dinaiki Ayudia berhenti di lampu merah, perempuan paruh baya yang sedari tadi mengikutinya dengan menumpang ojek pangkalan, meminta Ayudia untuk berhenti.
__ADS_1
Ayudia yang mengenali perempuan paruh baya itu sebagai tamu Rama, tentu tidak keberatan ketika diberhentikan.
Setelah memberikan satu lembar uang merah kepada ojol dan memerintahkannya untuk melanjutkan menuju tempat tujuan, tak lupa wanita paruh baya itu membayar ojek pangkalan dengan uang yang sama.
Kebetulan tak jauh dari lampu merah ada taman, sehingga Ayudia diajak duduk-duduk mengobrol di sana.
"Boleh saya tau nama kamu?" Tanyanya ragu.
"Nama saya Ayudia putri Tante,"jawabnya ramah.
"Saya Anna, apa benar kamu calon istri dari Benedict Johnson Wright?"tanyanya lagi.
"Betul Tante, lalu Tante ini?" Ucapnya balik bertanya.
"Saya ibu kandung dari calon suami kamu,"jawab perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik.
Ayudia kaget mendengar pengakuan perempuan di hadapannya, seingatnya ia tidak pernah mendengar Benedict menceritakan soal ibunya.
"mungkin kamu bingung, kenapa Ben tidak pernah menyebutkan ibunya sendiri, tapi saya memakluminya, Benedict membenci saya," ucapnya menghela nafas.
"Saat Ben kelas dua SMA saya menikah kembali dengan mantan pacar saya, dia mantan pacar saya saat SMA, akhirnya kami putus karena ditentang oleh orang tuanya, saya yang patah hati memilih merantau ke Amerika, dua tahun saya bekerja di restauran, luka hati saya terobati oleh lelaki bernama Johnson Wright, Daddy dari Ben, kami menikah dan dikaruniai seorang putra setahun setelahnya, kami menjalani hidup bahagia, hingga saat Ben berumur sepuluh tahun, Johnson meninggal, saya bisa bertahan di sana hanya dua tahun, dikarenakan kecemburuan istri dari paman Ben, saya terpaksa kembali ke sini,"
Anna menghela nafas kembali, "kehidupan disini awalnya sangat berat untuk Ben, dia biasa hidup bergelimang harta bersama daddy-nya, disini ia harus rela tinggal di kontrakan tiga petak, hingga Ben lulus SMP, saya bertemu kembali dengan mantan pacar saya, diam-diam saya menjalin hubungan dengan lelaki itu, hingga kami memutuskan menikah saat Ben kelas dua SMA, Ben tidak terima dan marah besar, Ben menuduh saya mengkhianati daddy-nya, saya tidak ada pilihan lain,"
Lagi-lagi Anna menghela nafas, "setahun kemudian kebencian Ben semakin menjadi saat pacar pertama Ben, dihamili oleh anak dari suami saya, saat itu Ben mengamuk, sampai membuat anak tiri saya koma selama seminggu, dan sejak saat itu ia memutuskan hubungannya dengan saya," ucapnya sambil terisak.
Anna menyeka air matanya, "ujian saya tak berhenti sampai disitu, Ben memutuskan kembali ke Amerika, hati saya hancur, saya benar-benar kehilangannya, saya sempat depresi,"
Anna menggenggam tangan Ayudia, "saya tau kamu perempuan baik-baik, saya sebagai calon ibu mertua kamu memohon, tolong bahagiakan Benedict, dia sudah melalui banyak hal sulit," ucapnya masih dengan air mata yang mengalir di pipi.
"Boleh saya peluk anda?"tanya Ayudia.
Dengan senang hati Anna memeluk calon menantunya erat, "saya tau kamu orang yang tepat untuk Ben, terima kasih sudah mau menerima putra saya,"keduanya menangis terharu.
Anna lebih dulu melepaskan pelukannya, "ada yang ingin saya kasih ke kamu, tapi sekarang saya tidak membawanya, bisa besok temui saya lagi disini, atau kalau boleh, saya minta nomor ponsel kamu,"
__ADS_1
Ayudia menyebutkan beberapa digit nomor ponselnya.