
Usai mengajak kedua anaknya berkeliling menggunakan helikopter miliknya, dengan senyum mengembang, Benedict menggendong keduanya disisi kanan kirinya.
Terlihat raut kegembiraan di wajah anak dan bapak itu.
Ketiganya menghampiri Ayudia yang sedang mengobrol dengan bude juga bibinya.
Benedict meminta istrinya untuk mengikutinya, sementara anak-anak bermain diantara orang-orang dewasa itu.
"Ada apa sih mas, kenapa mesti bawa aku kesini?"protes Ayudia pada suaminya karena mengajaknya masuk ke dalam mansion.
"Sudah cukup waktu kamu, untuk dihabiskan bersama mereka, sekarang gantian kamu menghabiskan waktu sama aku,"ujar Benedict sambil menggandeng tangan istrinya menuju kamar mereka dilantai dua.
Ayudia melepaskan tangan suaminya sebelum sampai kamar, "kan dari kemarin aku sama kamu terus, waktu aku sama anak-anak tadi pagi doang, itu juga sebentar, aku pengen bareng mereka,"
"Apa waktu tiga tahun setelah kamu sadar dari koma, tidak cukup kamu selalu bersama anak-anak, aku baru beberapa hari sama kamu, itu nggak adil buat aku,"
Ayudia menghela nafas, "mas, nanti malam kan bisa kita menghabiskan waktu hanya berdua, sekarang aku mau sama anak-anak dulu,"
Benedict memegang kedua tangan istrinya, lalu mencium punggung tangan itu, "istriku, aku cuman minta waktu kamu full sama aku, sisa hari ini dan besok, karena setelahnya aku harus membereskan beberapa masalah yang diperbuat oleh George, jadi aku mohon, aku ingin sama kamu," pintanya dengan tatapan penuh harap.
Ayudia mengangguk tanda mengiyakan, "terus setelah ini dimana aku tinggal?"tanyanya.
"Tentu saja kamu disini atau di penthouse,"jawab lelaki itu.
"Kenapa aku nggak balik ke indo aja, anak-anak kan harus sekolah, dua bulan lagi mereka lulus TK,"
"Mereka bisa belajar disini sayang,"
"Gini deh mas, menurut aku, gimana kalau sampai dua bulan hingga anak-anak lulus TK aku masih tinggal di Indo, nanti saat anak-anak SD mereka bisa sekolah disini,"
"Aku harus pisah lagi gitu sama kamu?"
"Cuman dua bulan masa kamu nggak bisa, empat tahun aja kamu bisa,"
Benedict menghela nafas lelah, "nanti aku pikirkan lagi, sekarang ayo kita ke kamar,"
Ayudia menurut perintah suaminya, keduanya masuk ke dalam kamar yang sudah dihiasi layaknya kamar pengantin,
"Mas ngapain kamarnya pake acara dihias segala sih, kita kan pengantin kadaluarsa, lagian kemarin di rumah kayu, kamu udah buka puasa,"
"Nikmati aja istriku, dulu waktu kita malam pertama Kan nggak ada kamar pengantinnya,"
Benedict membantu istrinya melepas veil juga gaun pengantin itu, namun sebelum itu, ia berbisik, "istriku kamu cantik banget, aku makin sayang sama kamu,"Ayudia hanya tersipu malu,
__ADS_1
Keduanya mandi ala pengantin baru, yang memakan waktu hampir satu jam lamanya.
Usai mandi Benedict mengajak istrinya untuk tidur siang,
Hingga sore menjelang, Ayudia terbangun terlebih dahulu, ia melepaskan lilitan tangan besar suaminya.
Wanita itu berganti baju, lalu berjalan mengendap-endap keluar dari kamar, ia ingin menemui anak-anaknya.
Menurut Maid anak-anaknya sedang bersama neneknya juga bude dan bibi di play ground.
Namun belum sampai play ground wanita itu berpapasan dengan George, keduanya saling sapa, saat Ayudia hendak berlalu, George mengajaknya berbicara sebentar.
George mengajak istri dari sepupunya untuk berjalan-jalan di taman depan mansion, ada kursi taman yang terbuat dari besi tepat menghadap pintu utama bangunan mewah itu.
"Sekitar delapan tahun lalu, saat Benedict pulang dari Indo, dia memaksa aku untuk mengambil alih perusahaan, padahal dia tau kalau aku tidak mampu jika harus menjadi CEO, bahkan dia mengancam akan menarik semua fasilitas yang aku punya,"George membuka pembicaraan.
"Saat itu aku bingung harus apa, aku juga masih kuliah, sulit untuk membagi waktu antara kuliah juga kerja di kantor, sementara Daddy yang masih menjalani pengobatan tak bisa terlalu fokus dengan perusahaan,"
George menghela nafas, "padahal dewan direksi sudah menentangnya untuk mundur sebagai CEO, namun Benedict tetap kekeh untuk mundur, hingga aku terpaksa menjadi CEO, karena aku memang kurang kompeten, ada salah satu dewan direksi menggelapkan pajak cukup besar, yang membuat perusahaan keluarga kami terancam sanksi dari pemerintah negara bagian, saat itu Daddy marah besar, apalagi Benedict sedang tidak ada disini,"
"Aku dari dulu memang payah, aku yang lemah berbeda sekali dengan Benedict yang tegas juga bijaksana,"
"Saat tau perusahaan tidak baik-baik saja, Benedict pulang kembali kesini, dan begitu dia tau masalah ini, Dia langsung menghajar ku habis-habisan, hingga aku masuk rumah sakit,"
"Maaf menyela, apa saat itu mas Ben sempat bertunangan dengan anak dari orang yang menyelewengkan dana perusahaan?" Tanya Ayudia menyela.
"Apa kamu tau soal itu?"tanya balik George, dan Ayudia mengangguk.
"Dan gara-gara hal itu, aku yang baru menikah beberapa bulan, sampai meninggalkan dia, kami terpisah hingga menjelang aku melahirkan,"jawab Ayudia menjelaskan.
"Awalnya Daddy menyuruh aku yang bertunangan, tapi wanita itu maunya dengan Benedict, karena sepupuku itu memang terkenal tampan diantara perempuan disini, sedangkan aku terkenal lemah juga gay, karena sepanjang aku hidup, aku belum pernah berhubungan dengan wanita manapun,"
"Apa aku boleh tau alasannya?"tanya Ayudia penasaran.
"Aku memiliki semacam trauma tentang mommy, kata Daddy dulu mommy menuduh Aunty menggoda Daddy, padahal tidak seperti itu kenyataannya,"
"Setelah aunty mengajak Ben untuk kembali ke Indo, mommy menunjukkan sifat aslinya,"
"Daddy yang sibuk di kantor, jarang memperhatikan mommy, sehingga hampir setiap hari di rumah mommy membawa selingkuhannya, bahkan mereka tak malu melakukan hal menjijikan didepan bocah polos seperti aku,"
George menghela nafas lagi, "melihat dengan mata kepala aku sendiri, kelakuan mommy dengan beberapa pria berbeda, membuat aku muak, membayangkan bagaimana wajah kegirangan mommy, membuatku membenci perempuan,"
"Setiap aku dekat dengan wanita sejenis mommy, aku akan muntah, aku benci mereka, karena itulah, mereka menuduhku gay, termasuk suami kamu,"
__ADS_1
"Lalu mengapa kamu tidak muntah dekat denganku, aku ini wanita asli?" Tanya Ayudia heran.
"Kamu berbeda, tingkah kamu tidak seperti mereka, bahkan aku lihat bukan kamu yang menempel tapi Benedict yang selalu menempeli kamu,"
"Aku bahkan baru lihat senyuman Benedict yang begitu bahagia hari ini, aku berterima kasih pada kamu, karena mau membuat sepupuku bertingkah layaknya manusia ,"
"Memang biasanya dia seperti apa?"tanya Ayudia penasaran.
"Kau tau suamimu bagai robot yang terus bekerja tak kenal lelah, bahkan saat weekend dia tetap bekerja, benar-benar orang yang gila kerja, sama seperti kedua asistennya, Troy juga Richard,"
"Tapi kok pas pulang ke Indo, mas Ben bisa lama,"
"Tidak sepenuhnya dia meninggalkan pekerjaannya, mungkin saat tidak bersama kamu dia akan bekerja, bahkan aku sering dimaki-maki melalui panggilan video,"
"Apa memang mas Ben itu orang yang gampang marah?"
"Sebenernya tidak sepenuhnya, dia hanya marah saat ada yang melakukan kesalahan, mungkin jika kamu benar-benar menetap disini, kamu bisa tau bagaimana sifat asli suamimu, aku sarankan kamu harus lebih bersabar,"ucap George ambigu.
"Apa dia punya kekasih lain selain aku disini?"
"Kenapa kamu bertanya begitu?" Tanya George balik.
"Hanya ingin tau saja,"
"Dia tidak ada waktu hanya untuk sekadar bermain perempuan, waktunya hanya untuk bekerja, mungkin kamu pernah lihat foto-foto dirinya bersama dengan model atau aktris, itu hanya untuk urusan pekerjaan, biasanya para wanita itu adalah brand ambassador dari salah satu produk yang akan perusahaan kami pasarkan, harusnya Troy sudah menjelaskan apa saja yang jadi usaha dari perusahaan Wright,"
Ayudia mengangguk, "maaf sebelumnya, apa kamu tidak berencana untuk menikah?"tanyanya .
"Mungkin suatu saat jika aku bertemu dengan wanita yang tepat, seperti Benedict menemukan kamu,"
"Apa aku boleh bertanya lagi?"tanya Ayudia dan George mengangguk, "perempuan seperti apa yang kamu inginkan? Bukankah Amerika ada banyak wanita cantik, kamu bisa memilih kan?"
"Aku muak melihat tingkah mereka layaknya ******,"
"George, tidak semua wanita seperti yang kamu bayangkan, ada banyak wanita di belahan dunia ini, yang menjaga dirinya, kamu tau George di negara asalku banyak gadis-gadis yang masih menjaga dirinya, kamu bisa sesekali mengunjungi negaraku untuk sekadar liburan,"
"Sebenarnya aku ingin berkunjung ke sana, kamu tau, aku suka tipe perempuan seperti aunty, tapi rasanya untuk sekarang sangat sulit untuk meminta cuti,"
"Kamu bisa liburan setelah masalah di perusahaan teratasi, nanti coba aku bantu bilang pada suamiku, kamu mau?"
"Terima kasih, sepertinya kamu membawa kebahagiaan di keluarga Wright, kamu juga yang melahirkan cucu perempuan setelah lima generasi keluarga Wright hanya memiliki keturunan laki-laki,"
Ayudia tersenyum," aku anggap itu pujian George, aku berdoa mudah-mudahan kamu bisa menemukan perempuan sesuai idaman kamu."
__ADS_1