Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
dua puluh lima


__ADS_3

Rama heran setelah memasuki ruangan miliknya, ia heran, sahabatnya duduk di sofa sambil menutup matanya dengan lengannya.


"Ben Lo kenapa?"tanya Rama, ia juga melihat kemeja hitam yang dikenakan laki-laki itu kusut.


Tanpa melepaskan lengannya, Benedict berkata, "Ram, gue bagi Vodka dong,"


"Mau mabok Lo? Gila, masih siang bro,"ucap Rama namun tetap mengambil minuman yang ia simpan di salah satu sudut lemari kaca miliknya.


Begitu Rama menuang dalam gelas kecil, Benedict langsung meminumnya dalam sekali teguk, "Lo gila ya! Kenapa si? Abis ketemu Ayu malah begini," tanyanya heran.


Bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, Benedict terus meminum minuman itu langsung dari botolnya, hingga tinggal seperempat botol, namun dia tak kunjung mabuk, ia mengumpat pada dirinya sendiri, kenapa disaat ingin melupakan gadisnya sejenak, ia tak kunjung mabuk.


Ia meminta kembali botol Vodka kepada sahabatnya, namun tentu saja Rama tak akan menurutinya,  ia tak ingin sahabatnya hilang kendali, "Lo kenapa sih Ben? Lo cerita sama gue, kenapa setelah ketemu Ayu, Lo malah jadi begini?"tanya Rama bingung.


"Gue bodoh banget Rama, gue nunjukin sisi kasar gue ke dia, dia marah, dia nggak suka, bahkan di mau batalin pernikahan kami," jawabnya memukul-mukul kepalanya sendiri, "gue cemburu Rama, gue cemburu, gue nggak bisa mikir karena rasa cemburu gue, gue kasar sama dia Rama, gue nyesel, dia marah besar sama gue, lebih dari yang kemarin, gue takut dia ninggalin gue, gue mesti gimana? Gue udah minta maaf tapi dia diem aja, gue bingung, gue pusing, gue mesti gimana?"ungkapnya frustasi.


Rama semakin bingung dibuatnya, ini pertama kalinya sahabatnya yang sudah delapan belas tahun dikenalnya bisa frustrasi seperti ini.


Rama menepuk pundak sahabatnya, "Ben, mungkin Ayu nggak serius ngomong kayak gitu, mungkin dia lagi emosi sesaat, mending Lo kasih waktu Ayu sendiri dulu, kalau udah nggak pada emosi, kalian bisa bertemu dan ngomong baik-baik," ujarnya menasehati.


Benedict mengangguk dan mendengarkan kata-kata sahabatnya, ia berusaha bersabar kali ini, ia berharap Ayudia tidak membatalkan pernikahan mereka.


Sudah lebih dari tiga hari Ayudia mendiamkan Benedict, tentu saja hal itu membuat lelaki itu semakin frustrasi, namun tidak menunjukkannya didepan orang lain.

__ADS_1


Sejak kemarahan gadisnya, Benedict sengaja membantu barista di cafe itu, hal itu tentu mudah baginya, dulu saat baru pindah ke Amerika, selain kuliah, membantu perusahaan keluarga, lelaki itu juga belajar banyak hal tentang kopi dan wine disela-sela kesibukannya.


Diam-diam ia selalu memperhatikan gadisnya, ia heran dengan gadis bernama Ayudia, mengapa seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara ia dan gadis itu, karena beberapa kali saat gadis itu mengambil pesan kopi, ia disapa oleh gadis itu, namun jika waktu jam pulang saat Benedict menawarkan untuk mengantar pulang, gadis itu menolak mentah-mentah.


"Cewek emang gitu Ben, Lo mesti sabar menghadapinya," ucap Satria disela kesibukan keduanya.


"Jadi gue mesti gimana bang?"Tanya Benedict,


Laki-laki yang sudah memasuki usia tiga puluh lima tahun, yang lima belas tahun lalu, menjadi penjual kopi disalah satu warkop tempat nongkrong Benedict dan teman-temannya, sedikit paham dengan tabiat bos besarnya itu, "diemin dulu Ben, cewek juga nggak terlalu suka cowok yang ngejar-ngejar dia banget, sama kayak cowok juga, Lo juga nggak suka kan sama cewek yang terlalu ngejar-ngejar Lo?"ujarnya.


Benedict mengangguk paham, "tapi bang, rasanya gue mau gila, kepala gue mau pecah didiemin gini sama dia, apa beneran gue udah gila ya?"tanyanya bingung.


"Itu namanya Lo beneran cinta sama dia, baru pertama ya Lo ngerasain? Seingat gue Dulu sama Lusi Lo nggak segitunya, jangan bilang Lo nggak beneran suka sama pacar pertama Lo dulu," tebaknya.


"Lucu juga ya! Tapi kok dulu Lo seolah-olah tersakiti banget, bahkan Ampe kabur ke Amrik,"


"Kaga bang, itu mah cuman acting, biar mereka merasa bersalah, masalah gue ke Amrik, karena paman gue yang suruh bantuin bisnis keluarga, ya udah gue mau lah,"


"Gila Lo, acting Lo meyakinkan banget, sampai hebohkan di warkop gue dulu, gara-gara Lo baku hantam sama saudara tiri Lo,"


"Harga diri bang, buat nunjukin kalau gue jagoan, ya kali demi cewek ****** kek dia, rugi kali bang, sebenarnya gue udah tau kelakuan Lusi dibelakang gue, cuman gue pura-pura bego aja,"


"Nggak nyangka Lo licik juga ya Ben?"

__ADS_1


"Bukan licik bang, tapi pinter memanfaatkan situasi, biar mereka semua nyalahin tuh penghianat selamanya, kan gara-gara kejadian itu sampai sekarang temen-temen SMA nggak ada yang mau temenan sama mereka, cuman satu dua orang aja, dan kalau gue nggak pinter, nggak mungkin perusahaan Wright berkembang pesat kayak sekarang,"ujarnya jumawa.


"Bener juga sih, eh tapi tuh perusahaan nggak apa-apa Lo tinggalin lama-lama?"


"Nggak sepenuhnya ditinggalkan sih, tiap malam gue meeting, kan gue kesini ada tujuan mulia bang, buat nyari ibu negara, eh malah dia ngambek begini, kan gue makin lama ketahan disini,"


"Mau gue kasih tau caranya?"


"Mau bang, apaan? Lo kan lebih pengalaman,"


Satria yang memang sudah berumah tangga selama hampir sepuluh tahun itu dan memiliki dua orang anak, tentu banyak pengalaman soal menghadapi ngambeknya perempuan , karena karakter istri satria hampir sama dengan Ayudia, keras kepala, pekerja keras, mandiri dan sederhana.


"Biasanya orang macam cewek Lo itu, nggak tegaan orangnya, gampang sebenarnya sih, Lo pura-pura sakit, entar juga dia bakal luluh sama Lo, seperti yang Lo ceritain waktu dia ngambek, terus Nando ngarang kalau Lo mau minum bayg*n, terus dia langsung panik dan mau balikan sama Lo kan?"saran Satria.


"Kenapa gue bisa ogeb gini sih bang, gue nggak kepikiran," ujarnya sambil menepuk jidatnya.


"Ya gue maklum Lo tuh lagi jatuh cinta sekaligus frustrasi, jadi logika dan kepintaran lo nggak bakal jalan,"


"Bener bang," Benedict mengambil ponselnya disaku celananya dan sejenak mengutak-atik ponsel berlogo apel digigit itu, "udah masuk bang, coba dicek," ujarnya berlalu menuju ruangan Rama.


Satria mengambil ponselnya, dan benar saja, ada notifikasi masuk ada tambahan saldo di rekeningnya, senyum mengembang di bibir ayah dua anak itu, "Alhamdulillah bisa jalan-jalan ngajak anak-anak ke Dufan,".


Benedict berjalan menuju ruangan Rama, sepertinya ide dari Satria akan ia bicarakan pada sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2