
Hari dimana seluruh crew Cafe akan jalan-jalan ke salah satu Villa milik Benedict akhirnya tiba.
Dengan menyewa satu bus besar, seluruh crew beserta keluarga mereka berangkat Sabtu pagi pukul tujuh dari parkiran cafe, Terlihat senyum lebar di semua wajah-wajah itu.
Ayudia duduk bersama Arya sedangkan Anin duduk bersama Aryo mereka satu Baris bersisian, di belakangnya ada Benedict dan Alex, sedang Oscar duduk dibelakang Anin bersama Dino.
"Mbak Ayu, baru kali ini ya kita bisa jalan-jalan bersama selain pulang kampung, Arya seneng banget mbak,"ucap salah satu adik kembarnya tertawa bahagia, dia sangat antusias.
"Alhamdulillah dek, kita ada kesempatan buat jalan-jalan bareng,"ujar Ayudia.
"Di villa ada kolam renang nggak ya mbak?"tanya Arya.
"Mbak nggak tau dek, kan ini juga pertama kali mbak ke sana,"
"Ada kok Yu, gede malah, kolam air hangat lagi," sahut Alex yang sedari tadi mendengar percakapan dua kakak beradik di depan kursinya.
Arya berdiri di kursi dan menghadap ke belakang, "Abang bosnya mbak Ayu ya?"tanya bocah yang akan memasuki usia tiga belas tahun.
"Bukan, saya temennya bos kakak kamu, kenapa emang dek?"tanyanya sembari melirik sahabatnya yang tengah menatapnya tajam.
"Ya Arya mau ngucapin terima kasih karena udah mau ajak Mbak Ayu, mbak Anin, Arya sama Aryo jalan-jalan, biasanya kita bisa jalan-jalan bareng kalau pas pulang kampung ke rumah si Mbah, selain itu mbak Ayu kerja terus, kalau ada kegiatan jalan-jalan disekolah, Aryo sama Arya diantar sama mbak Anin kalo nggak bibi Atun, kasian mbak Ayu jarang jalan-jalan,"ungkap Arya polos,
Ayudia menyuruh adiknya untuk duduk, "Arya nggak usah ngomong yang enggak-enggak, udah kamu bobo aja,"ujarnya karena tak enak dengan dua lelaki di belakangnya.
"Nggak apa-apa lagi yu, namanya juga anak-anak," ucap Alex.
"Maaf ya bang Alex, adik Ayu emang cerewet,"
Dibelakang Alex berbisik kepada Benedict, "nggak sia-sia Lo ngeluarin duit banyak buat nyenengin Ayu yang jarang jalan-jalan,"
"Apapun bakal gue lakuin buat dia,"bisik Benedict balik.
Disisa perjalanan ada yang karoke, atau sekedar ngobrol atau malah tertidur.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, rombongan tiba di villa.
Ada beberapa villa dalam satu lingkungan itu, Ayudia beserta adiknya mendapat kamar dilantai atas, dengan dua bad berukuran sedang, bersebelahan dengan kamar milik Benedict dan Alex.
__ADS_1
Rombongan beristirahat dan melakukan kegiatan bebas hingga jam makan siang tiba.
Arya dan Aryo memilih langsung berenang bersama anak-anak yang lain, ada tawa bahagia menghiasi wajah-wajah mereka.
Ayudia dan Anin mengawasinya di pinggir kolam, "mbak Ayu, bosnya yang mana?"Tanya Anin penasaran.
Ayudia mengedarkan pandangannya dimana para lelaki tampan itu tengah berkumpul di balkon lantai dua, "tuh yang pake topi biru,"ujarnya menunjuk ke atas. "Namanya mas Rama, kenapa emang?"
"Mereka ganteng-ganteng ya mbak, eh tapi yang lain siapanya bos mbak?"
"Ya temen-temennya lah,"
"Mbak Ayu tiap hari cuci mata terus dong liat yang ganteng-ganteng gitu,"
"Ya nggak semua dek, cuman mas Rama doang, yang lain kalau lagi datang ke cafe aja,"
"Kalau bosnya kayak gitu, Anin semangat kerja mbak, tiap hari cuci mata,"
"Kamu nih, sekolah dulu yang bener baru mikirin cowok,"
"Lah mbak sendiri udah kerja kok aku nggak pernah tau mbak bawa cowok ke rumah,"
Anin memeluk kakaknya dari samping, "makasih ya mbak, udah berjuang buat Anin sama si kembar, tapi Anin minta mbak sesekali pikirin kebahagiaan mbak sendiri, Anin janji kalau Anin udah selesai kuliah terus kerja, biar Anin yang cari uang buat sekolahin si kembar, mbak Ayu harus cari kebahagiaan mbak sendiri,"
"Iya, pokoknya kamu yang semangat nanti ya kuliahnya,"
"Iya mbak,"
Keduanya asik mengobrol sambil mengawasi si kembar.
Dari balkon lantai atas, ditempat kelima laki-laki tampan berkumpul, "Rama entar pas makan siang Lo bagi-bagiin amplop buat uang saku karyawan,"perintah Benedict,
Rama dibantu keempat temannya yang sedang memasukan sepuluh lembar uang merah ke dalam amplop putih tak lupa memberi nama di masing-masing amplop, hanya mengangguk menuruti perintah sahabatnya.
"Ben, adiknya Ayu cantik juga ya?"ujar Oscar.
"Masih SMA tuh,"sahut Rama.
__ADS_1
"Wah daun muda bro, masih perawan tuh,"sahut Alex antusias.
"Jangan macem-macem Lo,"Benedict memperingatkan.
"Apaan sih bro gue cuman muji doang, gue bukan pedofil kaya Oscar," ucap Alex.
"Sialan lo,"umpat Oscar menendang kaki Alex dibawah meja.
"Sakit ogeb,"umpat Alex balik.
"Bro bakal ada game nggak si?"tanya Nando.
"Adalah,"jawab Rama.
"Kok Lo nggak siapin door price?"
"Tiga hari yang lalu gue udah ingetin Rama, Lo lupa?" Ucap Benedict.
Rama memukul pelan jidatnya sendiri, "gue lupa, dari kemarin gue hectic banget, terus gimana dong?"
"Buruan diitung jumlah Amplopnya, terus kalau ada sisa biar jadi ganti door price aja,"saran Nando.
Kelimanya masih sibuk memasukan uang-uang itu ke amplop diselingi obrolan-obrolan ringan.
Hingga jam makan siang tiba, pengelola Villa sudah menyediakan makanan di aula yang masih dalam lingkungan villa, sebelumnya mereka berbaris menerima amplop uang saku dari Rama dibantu sahabat-sahabatnya.
Setelah makan siang mereka kembali memiliki waktu bebas hingga selepas isya, karena nanti malam akan di buatkan api unggun oleh pengelola villa, ada juga nanti pesta barbeque.
Di sore hari, para perempuan baik karyawan ataupun keluarganya, mempersiapkan apa saja untuk acara malam nanti, ada yang menusuk sosis, sate-satean, marshmellow, mengupas jagung untuk di bakar dan lainnya.
Ada juga yang menyiapkan saus, semua perempuan cukup sibuk, "nggak nyangka gue bisa jalan-jalan dan nginep di villa, dua kali gue kerja di cafe baru kali ini gue ngerasain jalan-jalan begini," celetuk Nia di tengah-tengah kesibukan mereka.
"Sama gue juga,"sahut Ica.
"Yang paling gue seneng, gue bisa bawa emak, bapakĀ sama adik gue,"ucap Nia lagi.
"Gue Ampe nyuruh sepupu-sepupu gue buat ikutan, sayang kan kalau jatah kita nggak dipakai,"ucap Ica.
__ADS_1
"Makin betah kan gue kerja di cafe, biarpun kalau lagi rame, capek nya minta ampun, tapi kalau bisa jalan-jalan gratis kayak gini, gue nggak masalah,"
Ayudia hanya diam mendengar pembicaraan temannya itu, ia melihat ke arah kumpulan laki-laki yang sedang menata kayu bakar serta panggangan untuk acara nanti malam, saat tak sengaja ia bertatapan dengan Benedict, gadis itu terdiam cukup lama, namun ia segera mengalihkan pandangannya, ia tau sedari tadi laki-laki itu terus menatapnya.