Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tujuh puluh dua


__ADS_3

Ayudia memasuki mobil yang dikemudikan mertuanya, wajahnya terlihat menahan kesal, hal itu membuat Anna mengernyit heran, biasanya menantunya selalu tersenyum ramah padanya.


"Kamu kenapa nduk? Kok manyun?"ucap Anna mulai mengemudikan mobil.


Ayudia menghela nafas, entah mengapa moodnya buruk setelah tak sengaja bertemu dengan mantan kekasih suaminya, apalagi tadi wanita itu membandingkan urusan ranjang,  ada pertanyaan di benaknya, apa dulu suaminya pernah tidur bersama mantan kekasihnya, sehingga wanita itu sampai membahas urusan ranjang,


"Kok ibu nanya nggak dijawab nduk? Ada apa? Apa kamu lelah?"tanya Anna mulai khawatir, karena menantunya hanya diam.


Ayudia yang sedang melihat kearah jalanan, mengalihkan pandangannya pada mertuanya, "maaf Bu, bukan maksud Ayu, diamkan ibu, hanya saja tadi Ayu bertemu sama mantannya mas Ben, ucapannya sedikit mengusik perasaan Ayu," jawabnya jujur.


"Apa itu Lusi?"tanya Anna dan Ayudia mengangguk, "apa yang Lusi bicarakan? Sampai buat kamu bad mood,"


"Mbak Lusi nanya ke Ayu, siapa istri mas Ben, terus mbak Lusi pengen bandingkan servis ranjangnya,"ucapnya cemberut.


Anna menggelengkan kepalanya, ia tau betul sifat dari istri anak tirinya, "nggak usah dipikirin nduk, yang penting sekarang anak ibu kan pilih kamu,"ujarnya mencoba menenangkan menantunya.


"Pengennya nggak dipikirin Bu, tapi kok hati Ayu kayak nggak rela ya! Terus Ayu jadi penasaran, memang waktu mbak Lusi sama mas Ben pacaran, mereka sampai tidur, bukannya dulu mereka masih SMA ya!"akhirnya Ayu mengungkapkan isi hatinya pada mertuanya.


"Sepertinya kamu cemburu nduk,"tebak Anna.


Ayudia menggelengkan kepalanya, "ya nggak lah Bu, itu kan cuman masa lalu,"sangkalnya.


"Lah itu kamu tau, kalau itu cuman masa lalu, jadi nggak usah dipikirkan,"lampu berubah menjadi merah, Anna menghentikan mobilnya, "oh ya nduk, masalah kontrasepsi, mending kamu nanti bahas sama suami mu, bukannya ibu nggak mau nambah cucu, ibu seneng kalau cucunya banyak, cuman masalahnya, biar Ainsley sama Aileen cukup mendapatkan perhatian dari kalian gitu, kayak semacam dikasih jarak gitu,"sarannya.


"Baik Bu, nanti Ayu omongin sama mas Ben,"


Anna kembali melajukan mobilnya ketika lampu berubah menjadi hijau, sepanjang sisa perjalanan pulang, mereka membahas soal barang-barang yang tadi mereka beli.


Disisi lain, Benedict menunggu istrinya di teras depan rumahnya, ada kedua anaknya yang ia tempatkan pada stroller, baru saja keduanya tertidur setelah diajak berkeliling sekitar rumah besar itu.


Tak lama, mobil yang dikemudikan ibunya memasuki halaman rumah.


Terlihat ibu dan istrinya menenteng beberapa tas belanja dari brand ternama.


Senyum terlihat di wajah kedua perempuan beda usia itu, "maaf ya mas, Ayu lama, anak-anak pada rewel nggak?"tanyanya.

__ADS_1


"Maaf ya Ben, kami udah menguras uang kamu,"ujar Anna tertawa.


"Asal kalian senang, nggak masalah, tapi kenapa kamu berpenampilan seperti ini, bukankah tadi kamu pakai Hoodie, dan kenapa kamu sampai pakai make up segala,"ujar Benedict protes, sambil membantu membawa belanjaan ke kamar mereka.


"Ibu yang dandani Ayu, kamu itu keterlaluan, masa istri kamu mau jalan-jalan ke mall bukan mau tidur, masa ke mall pake Hoodie kegedean, udah gitu nggak dandan sama sekali,"


"Aku nggak mau kecantikan istri aku dinikmati pria lain Bu,"


"Iya ibu tau, tapi nggak sampai segitunya Benedict, kamu terlalu posesif, nanti istri kamu kabur lagi dari kamu,"


"Ya nggak akan Bu, Ben nggak akan biarkan itu terjadi, kalau Ayu kabur berarti itu ulah ibu,"


"Makanya jangan kelewat posesif sama istrimu, udah lah, males ibu ngomong sama kamu, kamu nggak ngerti perasaan perempuan, nggak usah dipikirkan omongan suamimu nduk," ujar perempuan paruh baya mendahului anak dan menantunya juga cucunya.


Malam harinya, sesudah Ayudia selesai menyusui kedua anaknya dan mereka sudah tidur, juga mertuanya yang juga tertidur di kamar yang sama, wanita itu mencari keberadaan suaminya.


Ayudia mengetuk pintu ruang kerja suaminya, "boleh Ayu masuk mas?"tanyanya sambil membuka pintu.


"Masuk aja Ay, tanpa kamu ketuk pun, aku nggak keberatan,"jawab Benedict sambil tersenyum.


"Apa kamu lagi sibuk mas?"tanyanya sambil duduk di kursi yang hanya terhalang meja dengan suaminya itu.


"Ada yang mau aku omongin, boleh aku minta waktu kamu sebentar,"


Benedict mengangguk, ia menutup laptop yang ada dihadapannya, ia bangkit dan berjalan menuju istrinya, ia berdiri bersandar di meja.


Ayudia meraih kedua tangan suaminya, lalu menciumnya secara bergantian, lalu mendongak dan menatapnya, "sebelumnya aku minta maaf karena hari ini, pakai uang kamu banyak banget, maaf aku boros banget,"


Benedict menunduk dan menyentuh pundak istrinya, lelaki itu mencium kening wanita itu, lalu menatap sayang padanya, "Ay, aku nggak keberatan kalau kamu ingin menghabiskan uang yang aku punya, aku malah senang, berarti kerja keras aku selama ini tidak sia-sia buat mencoba membahagiakan kamu,"


Ayudia bangkit dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari sana, ia duduk bersandar, ia menghela nafas lelah, "tadi saat aku mau pulang, aku ketemu mbak Lusi sama mba Citra,"


Benedict yang masih bersandar dimeja kerjanya, langsung berdiri tegak, dan berjalan cepat menuju istrinya, terlihat wajahnya yang khawatir, "apa yang dia omongin?"ujarnya sambil duduk di meja yang berada didepan sofa berhadapan dengan istrinya.


"Mbak Lusi masih nanyain kamu, lalu..." Terhenti sejenak, ada rasa sesak ketika ingin melanjutkan ucapannya, wanita itu menghela nafas lagi, "mbak Lusi nanyain istri kamu, pengen kenal dan mau menanyakan, kenapa kamu lebih memilih istri kamu dari pada dia, yang lebih cantik dan seksi juga lebih jago dalam hal ranjang,"

__ADS_1


Mendengar hal itu, bukannya menjawab tapi lelaki itu bangkit, lalu berjalan menjauh dan berdiri membelakangi istrinya, kedua tangannya memegang kepalanya,  sepertinya ia sedang menahan amarah.


Benedict mengambil ponselnya yang ada di meja kerjanya, ia menghubungi Rama dan meminta sahabatnya untuk mengirimkan nomor telpon Arnold, tak lama telpon ditutup, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.


Sejenak ia mengutak-atik ponselnya, lalu terlihat lelaki itu menghubungi seseorang,


"Arnold, ini gue Ben, gue mau ngasih Lo peringatan, bilang ke bini Lo, nggak usah cari tau tentang gue, kalau bini Lo masih banyak tingkah, perusahaan Lo, bakal gue hancurkan,"ucapnya tegas, tak mau menunggu tanggapan dari yang dihubunginya, Benedict menutup telponnya secara sepihak.


Ia berbalik dan menghampiri istrinya, "aku pastikan dia nggak bakal ganggu kamu,"ujarnya memegang kedua tangan istrinya.


"Mas, mbak Lusi nggak tau, kalau aku istri kamu, dengan kamu marah-marah ke suaminya mbak Lusi, itu membuktikan bahwa istri kamu itu aku,"


"Ya emang kamu istri aku, terus apa masalahnya, pokoknya, kalau dia masih macam-macam, aku nggak akan tinggal diam,"


Ayudia menyentuh rahang tegas itu, "kenapa kamu marah? Kan yang dirugikan aku, apa benar kamu dulu pernah tidur sama dia?"


Benedict mencium telapak tangan istrinya, "Ay, sebaiknya masa lalu tidak dibahas Ay, itu sudah berlalu, dan aku pastikan disisa umur aku, cinta aku hanya buat kamu, "


Ayudia menghela nafas, sepertinya, hubungan suaminya dan mantan kekasihnya terlalu jauh dimasa lalu,


"Satu lagi, aku besok mau ijin ke rumah sakit,"


"Apa kamu sakit ay?"tanya Benedict panik.


"Nggak mas, aku sehat, aku mau ketemu Asha, ada yang mau omongin,"


"Aku antar besok,"


Ayudia menggeleng, "Mas, aku ingin makan siang berdua sama sahabat aku,"


"Tapi Ay,"


"Sebentar aja mas, kasih aku buat ngobrol sama Asha, dua jam aja,"


"Kalau gitu suruh dia kesini,"

__ADS_1


"Mas, aku pengen makan siang sama Asha diluar, boleh ya!"


Tak berdaya saat melihat wajah istrinya, Benedict akhirnya mengijinkan istrinya pergi menemui sahabatnya.


__ADS_2