Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 99


__ADS_3

Arini kembali ke Rumah Sakit dengan membawa sebuah kotak bekal berisi makanan yang rencananya akan ia berikan untuk Tuan Malik. Arini yakin bahwa lelaki itu belum makan apapun sejak kejadian naas itu terjadi. Walaupun sebenarnya Arini ragu Tuan Malik mau menerimanya. Namun, setidaknya ia sudah berusaha membujuk lelaki itu.


Setibanya di Rumah Sakit, Arini melihat lelaki itu masih duduk di luar ruangan dengan kepala tertunduk menghadap lantai. Mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, Tuan Malik pun segera menoleh.


"Arini? Ternyata dia benar-benar kembali," gumam Tuan Malik.


Tuan Malik pun bergegas bangkit dan menunggu Arini datang menghampirinya. Setibanya di hadapan lelaki itu, Arini pun tersenyum kemudian membungkukkan sedikit badannya untuk menghormati lelaki itu.


"Arini, kamu sendirian saja?" Tuan Malik memperhatikan sekeliling ruangan, tidak ada sesiapapun di sana, hanya Arini seorang.


"Ya, Tuan. Saya sendirian," jawab Arini.


"Silakan duduk, Arini," ajak Tuan Malik sembari menunjuk ke arah kursi.


"Bagaimana kondisi Nyonya? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Arini sembari duduk di kursi kemudian di susul oleh Tuan Malik.


Tuan Malik menggelengkan kepalanya pelan. "Masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada perkembangan berarti."


Arini menghembuskan napas berat dan terdiam sejenak, begitu pula Tuan Malik. Raga lelaki itu memang sedang duduk bersama Arini. Namun, jiwa dan pikirannya tetap tertuju pada Sang Istri yang sedang tergolek lemah di dalam ruangan tersebut. Ruangan yang dijaga ketat oleh seorang perawat, yang memang di tugaskan khusus untuk memantau kondisi Nyonya Arniz.

__ADS_1


"Oh ya, Tuan. Saya membawakan ini untuk Anda. Mungkin tidak seenak makanan yang biasa Anda dan Nyonya nikmati. Tapi setidaknya makanan ini bisa mengganjal perut yang sedang lapar."


Tiba-tiba Arini teringat akan kotak bekal berisi makanan yang sengaja ia bawa untuk diberikan kepada Tuan Malik. Perlahan Arini menyerahkan kotak bekal tersebut kepada Tuan Malik dan segera di sambut oleh lelaki itu.


"Untukku?" tanya Tuan Malik heran.


Arini mengangguk pelan. "Ya. Saya pikir Tuan pasti belum makan," jawab Arini.


Tersungging sebuah senyuman tipis di wajah lelaki itu. Ya, walaupun wajahnya masih terlihat kusut, sama seperti sebelumnya. "Terima kasih banyak."


Tuan Malik baru sadar bahwa tadi pagi adalah terakhir kali ia menyentuh makanan dan minuman. Akibat kejadian naas itu, ia bahkan tidak merasakan lapar dan haus. Namun, ia sadar bahwa tubuhnya membutuhkan asupan. Terbukti bahwa saat itu perutnya terasa sakit, begitu pula tenggorokannya.


Perlahan Tuan Malik membuka kotak bekal yang diberikan oleh Arini. Kedua alis lelaki itu sempat naik karena terkejut dengan isinya. Ada nasi dengan ukuran penuh, ikan goreng, telur dadar, tumisan kangkung serta sedikit sambel. Tidak ketinggalan irisan tahu dan tempe goreng.


Tuan Malik kembali tersenyum. "Aku juga berasal dari kampung. Makanan ini lah yang menemani masa mudaku dan aku sangat merindukannya. Sudah lama sekali aku tidak makan, makanan seperti ini. Terima kasih," jawabnya.


"Sama-sama, Tuan."


Arini sedikit lega. Ia senang ternyata Tuan Malik tidak sulit untuk dibujuk. Setelah menyerahkan sebotol air mineral kepada Tuan Malik, Arini pamit. Ia ingin melihat Nyonya Arniz di dalam ruangan itu. Ya, walaupun hanya melihatnya melalui kaca ruangan saja. Sementara Tuan Malik menikmati makanan yang tadi diberikan oleh Arini kepadanya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, makanan sederhana ala Arini pun habis dilahap oleh Tuan Malik yang baru saja sadar bahwa dirinya tengah kelaparan. Ia menyerahkan kotak bekal milik Arini, ketika wanita itu kembali menghampirinya.


"Siapa yang memasak masakan ini?" tanya Tuan Malik.


"Saya, Tuan. Kenapa? Apa makanannya tidak enak?" Wajah Arini tampak cemas. Ia takut makanan itu tidak sesuai dengan selera Tuan Malik.


"Enak. Dan yang paling enak di antara semuanya adalah sambel dan tumis kangkungnya. Benar-benar enak," jawab Tuan Malik.


"Terima kasih, Tuan." Arini memperhatikan kotak bekal tersebut dan ternyata benar. Lelaki itu menyukai masakannya. Buktinya makanan itu ludes tak bersisa.


"Bukan, seharusnya aku lah yang berterima kasih padamu."


Tiba-tiba Perawat yang berjaga di dalam ruangan Nyonya Arniz, terlihat panik. Perawat itu menekan tombol emergency beberapa kali untuk memanggil rekannya agar segara datang ke ruangan itu.


Arini dan Tuan Malik yang menyadari hal itu pun ikut panik. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di dalam sana.


"Ada apa dengan Nyonya, Tuan?" tanya Arini sembari mengintip dari balik kaca.


"Entahlah! Ya, Tuhan! Tolong selamatkan Istriku," gumam lelaki itu.

__ADS_1


Tidak berselang lama, tim medis pun berbondong-bondong datang ke ruangan itu. Namun, sayangnya Tuan Malik tidak diperbolehkan untuk ikut masuk. Lelaki itu tampak frustrasi dan beberapa kali terlihat ia memukul dinding ruangan.


...***...


__ADS_2