
"Maafkan aku, Lily! Maafkan aku," ucap Tuan Bram sembari menahan rasa sakit akibat pukulan dari istri sahnya itu.
"Tidak ada maaf untukmu, Bandot Tua! Semoga setelah ini kamu dapat karma karena sudah mengkhianati aku yang berjuang dari nol bersamamu!" kesal Nyonya Lily yang terus memukulkan tas mahalnya ke kepala dan tubuh polos Tuan Bram.
"Sabar, Bu." Petugas hotel dan Security mencoba menenangkan Nyonya Lily, tetapi wanita itu tidak ingin menghentikan aksinya. Ia terus memukul dan memukul lelaki tua itu tanpa peduli tas mahalnya akan menjadi rusak.
"Biarkan! Aku sudah tidak bisa bersabar lagi! Lelaki ini memang harus dikasih pelajaran biar dia jera! Kalau perlu, potong saja juniornya itu biar dia tidak bisa main celup di sembarang lubang!" sahut Nyonya Lily.
Sementara itu.
Dodi menghampiri Anissa yang kini tengah ketakutan. Tubuh wanita itu bergetar dan wajahnya pun terlihat memucat.
"Ma-maafkan aku, Mas Dodi. Ja-jangan hukum aku, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Demi Tuhan," lirihnya sambil melangkah mundur karena Dodi terus berjalan mendekatinya.
Dodi tersenyum sinis. Wajah Dodi yang biasanya selalu tampak tenang, kini terlihat begitu menakutkan. Anissa bahkan tidak pernah melihat ekspresi Dodi yang seperti itu sebelumnya. Kedua tangan lelaki itu mengepal dengan sempurna dan membuat urat-uratnya menyembul ke luar.
"Setelah melakukan hal menjijikkan itu, kamu masih percaya diri menyebutkan nama Tuhan dengan mulutmu yang busuk itu, Anissa?! Benar-benar hebat!"
Kini Dodi berdiri tepat di hadapan Anissa. Ia yang sudah tidak dapat menahan emosinya, meluncurkan sebuah tamparan keras ke pipi sebelah kiri wanita itu.
Plakkk!
"Akhhh!" jerit Anissa.
__ADS_1
Saking kerasnya pukulan Dodi saat itu, tubuh Anissa terhuyung dan akhirnya jatuh ke lantai. Wanita itu meringis kesakitan sambil mengelus lembut sudut bibirnya yang tampak mengeluarkan darah.
"Sakit, Mas!" Anissa kembali menghiba, berharap Dodi memaafkan dirinya.
"Lebih sakit mana dengan aku yang saat ini kamu bohongi, Anissa! Bukan hanya tentang perselingkuhanmu dengan lelaki tua itu!" Dodi meradang dan berteriak sambil menunjuk ke arah Tuan Bram.
Lelaki tua itu sempat melirik kepada Dodi dan Anissa untuk beberapa saat. Namun, beberapa detik berikutnya, ia pun kembali menundukkan kepalanya sambil menahan sakit akibat pukulan Nyonya Lily yang terus meluncur ke tubuh tuanya.
"... tetapi juga tentang Azkia yang ternyata bukanlah anak kandungku!" lanjut Dodi dengan mata memerah.
"A-apa?! Ti-tidak mungkin, Mas. Azkia adalah anak kandung kita. Anak kandungnya Mas," lirih Anissa mencoba meyakinkan Dodi.
"Arrghhhh!" Dodi menggeram dan suara erangannya terdengar hingga ke langit-langit ruangan tersebut. "Anak kandungku, kamu bilang?! Bagaimana bisa kamu menyebutkan bahwa Azkia adalah anakku, jika golongan darah kami saja berbeda, Anissa! Bagaimana bisa!" teriak Dodi.
"Kurang ajar! Kamu masih berani berbohong padahal kamu sudah ketahuan bohong, Anissa! Wanita macam apa kamu ini?!" kesal Dodi yang kini melangkah semakin mendekat dan mendekat kepada Anissa.
Dengan tertatih-tatih, Anissa bangkit dari posisinya. Kini ia berdiri tepat di hadapan Dodi yang terus mendekat ke arahnya. Sementara Dodi melangkah maju, Anissa malah melangkah mundur dan tak terasa wanita itu sudah berada di balkon kamar.
"Maafkan aku, Mas," lirih Anissa sambil menangkupkan tangannya ke hadapan Dodi. Namun, sepertinya lelaki itu enggan memaafkan dirinya.
"Baiklah, aku akui bahwa Azkia memang bukanlah anakmu, Mas. Aku memang sengaja menjebakmu agar kamu bersedia menikahiku. Tapi untuk kali ini saja, maafkan aku, Mas. Aku berjanji akan pergi darimu dengan membawa Azkia bersamaku," lanjut Anissa sambil menitikkan air matanya.
Dodi tersenyum sinis dan pengakuan Anissa barusan tetap tidak membuat langkahnya terhenti. "Maaf katamu? Setelah kamu menghancurkan rumah tanggaku hingga tak bersisa?"
__ADS_1
"Ehm, Mas bisa kembali bersama Mbak Arini jika Mas Dodi mau. Dan aku akan membantu menjelaskan kepada Mbak Arini bahwa Mas tidak bersalah. Tetapi aku lah yang bersalah," lanjutnya.
Kini tubuh Anissa tertahan di pagar balkon. Wanita itu terjebak dan tidak bisa ke mana-mana lagi. Tubuh Anissa semakin bergetar dan keringat dingin terus keluar dari pori-pori kulit tubuhnya.
"Mas, maafkan aku!"
"Tidak ada kata maaf untuk wanita sepertimu, Anissa!"
Dodi menghampiri Anissa dan tiba-tiba kedua tangan kekarnya mencengkram erat leher wanita itu. Dengan sekuat tenaga, Anissa mencoba melepaskan cekikan Dodi. Namun, kekuatannya tidak sebanding dengan lelaki bertubuh besar itu.
Tubuh mungilnya terdorong oleh Dodi dan kini separuh tubuh Anissa menggantung di pagar balkon. "M-Mas, lepaskan aku!" ucap Anissa dengan tersendat-sendat.
Dodi yang sudah seperti orang kesurupan, tidak lagi menyadari bagaimana posisi Anissa saat itu. Padahal Petugas Hotel serta Security sudah berteriak mengingatkan Dodi soal Anissa yang hampir saja terjatuh.
"Pak Dodi, jangan lakukan itu! Anda bisa membunuhnya dan membuatnya terjatuh!" teriak Petugas Hotel dan Security.
Hingga akhirnya Dodi pun tersadar. Ia melihat Anissa sudah mulai lemas karena hampir kehabisan napas. Sontak saja Dodi melepaskan cengkeramannya. Baru saja Dodi mundur satu langkah dari posisi awalnya, tubuh Anissa yang melemah, akhirnya jatuh dari balkon tersebut dan meluncur cepat ke halaman depan hotel.
"Aaakkhh!"
"Anissa!!!" teriak Dodi.
...***...
__ADS_1