Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 12


__ADS_3

Karena tidak berhasil membujuk Arini, pasangan itu pun segera pulang dengan penuh kekecewaan. Bukan hanya pasangan itu, tetapi sudah beberapa pasangan yang datang kepada Arini dengan maksud yang sama, meminta bayi mungil tersebut untuk diadopsi.


"Heh, memangnya kamu mampu merawat anak itu? Kamu saja tidak punya pengalaman dalam merawat bayi. Sekarang malah sok-sokkan jadi Ibu dadakan. Kamu harus ingat satu hal ya, Arini. Jika sesuatu terjadi pada bayi itu, jangan pernah minta bantuan ku karena aku tidak akan sudi membantumu," kesalnya, setelah para tamu pergi.


Arini yang masih duduk di sofa ruang tamu sambil menggendong bayi mungil tersebut, menghembuskan napas berat. Ia menoleh pada Bu Nining yang sedang duduk di sofa yang sama, tetapi dengan jarak yang lumayan jauh.


"Do'akan saja agar Arini selalu diberikan kesehatan dan bisa merawat bayi ini dengan baik, begitu pula bayi ini. Dengan begitu, Ibu tidak perlu cemas karena setidaknya kami tidak akan menyusahkan Ibu," sahut Arini sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat.


Arini bangkit dari sofa tersebut, masih bersama bayi cantik itu yang kini tertidur nyenyak di pelukannya. "Arini ke kamar dulu ya, Bu. Permisi," lanjut Arini sembari melangkah menuju kamarnya.


Sementara Bu Nining tampak kesal. Jawaban Arini yang terdengar sangat manis, ternyata dapat menyinggung perasaannya yang memang terlalu sensitif. Wanita paruh baya itu terus mengomel walaupun Arini sudah pergi dari ruangan tersebut.


Sesampainya di kamar, Arini segera menidurkan bayi mungil itu di atas tempat tidurnya. Ia pun sempat berbaring sejenak di samping bayi itu sambil memperhatikan wajahnya yang terlihat begitu menggemaskan.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Dodi pun tiba. Arini bergegas menuju depan rumahnya dan menyambut kedatangan suaminya itu.


"Bagaimana, Mas? Sudah selesai," tanya Arini sembari menghampiri Dodi yang baru saja tiba. Lelaki itu tampak kelelahan setelah mengurus penemuan bayi tersebut. Ia juga dijadikan sebagai saksi mata atas penemuan bayi tersebut.


Arini berjalan di samping Dodi hingga memasuki rumah sederhana mereka.


"Belum, Sayang. Para pihak berwajib sedang melakukan penyelidikan termasuk melihat hasil rekaman CCTV jalan yang ada di sekitar sini. Ya, semoga saja semuanya cepat terungkap. Biar yang membuang bayi ini cepat ditemukan," jawab Dodi sembari menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa ruang tamu.


Dodi tersenyum tipis kemudian mengelus puncak kepala Arini. "Tentu saja, Sayang. Biar bagaimana pun bayi ini masih hak mereka. Kecuali mereka memang tidak menginginkannya. Baru kita urus semuanya,"


Arini menundukkan kepalanya menghadap lantai. Ia sangat sedih setelah mendengar penjelasan dari Dodi. Namun, apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar dan mereka tidak berhak menolak jika pihak wali dari bayi tersebut ingin mengambilnya kembali.


"Sayang ...." Dodi meraih wajah Arini yang tertunduk kemudian menatapnya lekat. "Jika bayi ini memang ditakdirkan untuk kita, dia pasti akan menjadi milik kita. Tapi jika Tuhan memang tidak menakdirkan bayi ini untuk tinggal bersama kita, biar bagaimana pun kita menginginkannya, ia akan tetap pergi dari kita, Sayang," jelas Dodi.

__ADS_1


"Kamu benar, Mas. Tapi jujur, aku masih sangat berharap bisa merawat bayi ini. Dan aku berjanji akan merawatnya seperti bayiku sendiri," jawab Arini sambil tersenyum kecut.


"Aku mencintaimu, Arini." Dodi melabuhkan ciumannya di kening Arini kemudian segera bangkit dari posisi duduknya. "Sebaiknya aku mandi dulu, Sayang. Badanku sudah bau," lanjutnya sambil terkekeh pelan.


"Ya, kamu bau keringat, Mas," lanjut Arini yang ikut tertawa pelan kemudian mengikuti langkah Dodi menuju kamar mereka.


"Oh ya, Mas sampai lupa menanyakan soal bayi cantik itu. Di mana dia? Sedang tidur, ya?" tanya Dodi lagi.


"Ya, Mas. Ia sedang tidur di kamar," jawab Arini. "Mas, kita akan kasih nama dia siapa? Sejak tadi malam kita cuma memanggilnya 'bayi ini, bayi itu', kasihan 'kan, Mas." Arini tampak protes karena Dodi belum juga memberikan nama untuk bayi mungil tersebut.


Dodi tergelak apalagi saat itu wajah Arini terlihat sangat menggemaskan ketika ia menekuk wajahnya. "Iya, ya. Mas sampai lupa. Baiklah, nanti setelah mandi, kita bicarakan lagi."


...***...

__ADS_1


__ADS_2