Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 64


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan, Dodi! Apa kamu tidak malu menyerang si Hendra hanya gara-gara Arini kabur dari rumah ini? Bukan kah Ibu sudah bilang, sebaiknya kamu tidak usah terlalu mengkhawatirkan Arini! Wanita itu pasti akan kembali dengan sendirinya, tanpa harus dicari," kesal Bu Nining ketika mereka sudah berada di rumah mereka.


"Tapi aku sangat yakin, Bu! Hendra pasti ada sangkut pautnya dengan kepergian Arini. Aku tahu bahwa selama ini Hendra memang menyukai istriku," sahut Dodi tak mau kalah.


Bu Nining hanya bisa menggelengkan kepala sambil mendengus kesal. "Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari Arini, Dodi? Dia itu mandul dan tidak bisa memberikanmu anak! Lagi pula kamu harus ingat bagaimana kondisi keuangan kita saat ini. Bukankah saat ini kita sedang mengalami kesulitan ekonomi dan dengan perginya Arini dari rumah ini, setidaknya bebanmu akan sedikit berkurang," tutur Bu Nining.


Wajah Dodi masih terlihat kusut. Penuturan Bu Nining bahkan sama sekali tidak ia dengarkan. Yang ada di pikiran lelaki itu hanya Arini dan Arini. "Aku akan mencarinya," gumam Dodi tiba-tiba.


Bu Nining memijit pelipisnya setelah mendengar ucapan Dodi barusan. "Memang susah bicara denganmu! Ya, sudah! Cari saja sana sampai dapat. Kalau kamu tidak berhasil menemukannya, sebaiknya kamu tidak usah pulang sekalian!" kesal Bu Nining kemudian.


Lagi-lagi Dodi tidak menggubris ucapan Bu Nining. Lelaki itu segera beranjak menuju halaman depan, di mana mobilnya masih terparkir di sana.


Sepeninggal Dodi, Bu Nining melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia ingin tahu bagaimana kondisi tempat itu setelah Anissa menguasainya. Namun, baru saja ia tiba di ruangan tersebut, Bu Nining langsung memekik karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Anissa! Apa-apaan ini? Kenapa ruangan ini berantakan sekali?" pekik Bu Nining dengan mata membulat menatap Anissa yang masih terlihat kesal.


Ruangan itu terlihat berantakan sekali. Tampak sisa-sisa kulit bawang merah dan bawang putih bertebaran di mana-mana. Belum lagi wajan serta beberapa piring dan mangkok yang tergeletak sembarang.


Anissa memasang wajah malas dan sama sekali tidak berkeinginan menjawab pertanyaan wanita paruh baya tersebut. Bu Nining menghampiri meja makan, di mana ada sebuah piring berisi telur dadar dan sebuah mangkok berukuran besar berisi nasi goreng.


Wanita paruh baya itu mulai memperhatikan telur dadar yang terlihat agak kehitaman serta nasi goreng yang sama sekali tidak menggugah selera. Ia membolak-balikkan telur dadar buatan Anissa dengan wajah masam. Kemudian mencicipi nasi goreng buatan menantu barunya itu.


Baru saja nasi goreng tersebut masuk ke dalam mulutnya, Bu Nining segera memuntahkannya kembali sambil berdecih sebal.


Anissa yang tidak tahan mendengar ucapan Bu Nining segera melemparkan spatula yang sejak tadi ada di tangannya ke lantai.


Prank!

__ADS_1


"Ya! Aku memang tidak bisa memasak. Dan jika makanan ini tidak enak, Ibu buang saja! Beres 'kan? Tidak usah heboh begitu, kenapa!" balas Anissa yang tidak mau kalah.


Setelah mengucapkan hal itu, Anissa segera pergi meninggalkan Bu Nining yang kini terdiam untuk sejenak dengan mata membulat sempurna. Bu Nining tidak menyangka bahwa Anissa yang selama ini ia kenal baik dan begitu sopan kepadanya, ternyata bisa berlaku kasar seperti itu.


"Anissa, tunggu! Jangan pergi, bereskan kekacauan yang kau buat di ruangan ini!" panggil Bu Nining kemudian.


Namun, jangankan peduli. Wanita itu bahkan tidak ingin menoleh kepada Bu Nining walaupun sebenarnya ia bisa mendengar dengan jelas panggilan Ibu mertuanya tersebut.


"Ck ck ck, seumur-umur Arini tinggal di sini, tidak pernah sekalipun ia berani berucap kasar seperti itu kepadaku," gumam Bu Nining sambil menggelengkan kepalanya.


Dengan terpaksa, Bu Nining pun akhirnya turun tangan untuk membereskan ruangan itu agar kembali rapi seperti sedia kala.


"Ya Tuhan! Kenapa nasibku jadi seperti ini? Selama ini aku tidak pernah mengerjakan hal ini dengan tanganku sendiri. Semuanya Surti yang mengerjakan! Tapi lihatlah sekarang, aku harus melakukan semuanya sendiri. Sementara menantu baruku, wanita itu benar-benar tidak berguna!" gumamnya dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


...***...


__ADS_2