
Setelah wanita yang menjadi kasir di toko Tuan Malik menyerahkan barang pesanan Nyonya Lily kepada Dodi, Dodi pun berniat untuk segera pulang. Namun, Tuan Malik menahannya dan memintanya untuk berbincang sejenak di toko miliknya tersebut.
Dodi sempat menolak karena ia merasa sungkan. Selain karena Arini adalah mantan istrinya, ia juga merasa minder karena dirinya adalah seorang mantan narapidana.
"Saya tidak enak, Tuan Malik."
"Tidak apa-apa, Dodi. Tidak perlu sungkan begitu. Mari, duduklah!" ajak Tuan Malik seraya menuntun Dodi ke sebuah kursi yang ada di salah satu sudut ruangan itu.
Dengan malu-malu, Dodi pun duduk di kursi tersebut bersama Arini dan Tuan Malik.
"Sekarang kamu kerja di mana, Dod?" tanya Tuan Malik sembari memperhatikan penampilan Dodi yang begitu rapi dengan kemeja serta celana formal yang dikenakannya.
"Saya bekerja di sebuah rumah makan. Rumah Makan Idaman, milik Nyonya Lily," sahut Dodi.
Tuan Malik mengerutkan alisnya dan dari raut wajahnya saat itu, tampak jelas bahwa saat itu ia sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu. Setelah beberapa detik berikutnya, Tuan Malik pun menyunggingkan sebuah senyuman.
"Ah, ya. Aku tahu di mana itu. Nyonya Lily mantan istrinya Tuan Bram Pramudja, 'kan?" tanya Tuan Malik balik.
Dodi mengangguk pelan dan terbesit berbagai perasaan saat itu yang menghampiri hatinya. Rasa menyesal, bersalah, kecewa, dan marah bercampur menjadi satu. Tuan Bram, lelaki yang pernah menjadi selingkuhan mendiang Anissa.
Peristiwa naas itu tiba-tiba kembali melintas di pikirannya dengan sangat jelas. Di mana ia menyaksikan Anissa dan pria tua itu bercinta di depan mata kepalanya. Di mana Anissa jatuh dari kamar hotel dan meninggal hanya dalam beberapa detik saja, tepat di depan mata kepalanya pula.
"Ya, Tuan Malik. Rumah makan milik Nyonya Lily, mantan istri dari Tuan Bram Pramudja."
Arini menarik tangan kemeja milik Tuan Malik sembari menatap lelaki itu. "Nyonya Lily siapa, Mas? Kok, aku tidak pernah dengar?" ucap Arini dengan alis yang saling bertaut.
__ADS_1
Tuan Malik menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan tampak senyuman getir tersungging di wajah tampan lelaki itu.
"Ehm ... Dulu aku dan mendiang Arniz sering mampir ke rumah makan milik Tuan Bram, sebelum tempat itu jatuh ke tangan Nyonya Lily, mantan istri Tuan Bram. Perceraian mereka ditangani oleh Hasan, sahabatku. Jadi, aku tahu semua cerita tentang mereka," sahut Tuan Malik.
"Oh," sahut Arini sambil manggut-manggut.
Tiba-tiba salah seorang karyawan Tuan Malik menghampiri mereka dan menyampaikan bahwa si kembar Ghani dan Ghina sudah bangun dari tidurnya.
"Ya, ampun! Kenapa tidurnya sebentar sekali," keluh Arini sembari mencoba bangkit dari posisi duduknya.
Namun, Tuan Malik menahannya. "Kamu tunggu di sini saja. Biar aku menjemput mereka,"
"Tapi, Mas."
Tuan Malik kekeh dan melenggang pergi ke ruang pribadinya untuk menjemput Ghina dan Ghani yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Sudah berapa bulan usia putra dan putrimu, Arini?" tanya Dodi sambil tersenyum hangat.
"Sudah 7 bulan, Mas," sahut Arini.
"Wah, mereka pasti lucu-lucu, ya."
"Ya, Mas. Itu benar," sahut Arini lagi. "Oh, ya. Kapan Mas akan menyusul? Jangan lupa undangan buat kami ya, Mas."
Dodi tersenyum kecut kemudian menundukkan kepalanya. Jari telunjuk lelaki itu seolah sedang menulis-nulis di atas meja.
__ADS_1
"Sebenarnya ...." Dodi menghela napas berat kemudian kembali mengangkat kepalanya dan menatap Arini dengan wajah sendu.
"Aku sudah tidak ada niat untuk kembali menikah, Rin. Setelah mendengar kabar bahwa kamu tengah hamil, tiba-tiba saja aku tersadar dan mencoba memeriksakan kembali kondisiku ke dokter."
Arini menautkan kedua alisnya. "Lho! Tapi kenapa, Mas?"
Dodi kembali menyunggingkan sebuah senyuman yang tampak menyedihkan. "Aku mandul, Arini."
Arini terperanjat dan matanya seketika membulat. "Mas bicara apa, sih?"
"Serius, Rin. Ternyata selama ini aku lah yang bermasalah. Aku mandul dan tidak dapat memiliki keturunan," jawab Dodi dengan raut wajah penuh penyesalan.
Menyesal karena selama ini ia dan Bu Nining sempat percaya bahwa Arini lah yang bermasalah pada rahimnya. Namun, di samping itu ia juga merasa bersyukur.
Bersyukur karena Arini sudah melepaskan diri darinya. Setidaknya kini Arini sudah bahagia dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik bersama Tuan Malik. Apa lagi ditambah dengan kehadiran bayi-bayi mungil mereka. Lengkaplah sudah kebahagiaan Arini.
"Bagaimana bisa begitu, Mas? Bukan kah dulu Mas pernah bilang bahwa Mas baik-baik saja?" pekik Arini dengan wajah heran.
"Ya, itu menurutku dan bukan menurut dokter." Lagi-lagi Dodi tersenyum kecut. "Dan setelah mengetahui kebenaran itu, aku memutuskan untuk sendiri saja dan fokus pada hidupku serta Ibuku."
Arini pun turut bersedih. Tepat di saat itu, Tuan Malik kembali di tempat itu bersama kedua bayi-bayi mungilnya. Dodi tampak antusias menyambut kedatangan Ghina dan Ghani yang memiliki wajah yang cantik dan rupawan. Persis seperti Ayah dan Ibunya.
"Ya, Tuhan! Mereka benar-benar menggemaskan," pekik Dodi sembari memperhatikan kedua wajah cantik dan tampannya Ghina dan Ghani.
"Terima kasih, Om!" sahut Arini dengan suara anak-anak, mewakili kedua bayi kembarnya.
__ADS_1
...***...