
Dokter berbalik dan menghadap ke arah Dodi. "Bapak, Ayahnya bayi Azkia?"
"Ya, Dok. Saya Ayahnya dan saya bersedia mendonorkan darah saya untuk Azkia," jawab Dodi dengan mantap.
"Baiklah kalau begitu, Pak." Dokter pun tersenyum lega kemudian memanggil salah satu Perawat yang tadi datang bersamanya.
"Suster, tolong bantu Bapak ini. Bapak ini ingin mendonorkan darahnya untuk bayi ini," titah Dokter kepada Perawat yang datang mendekat.
"Baik, Dok." Suster mengangguk. "Mari, Pak. Ikuti saya," ucap Perawat itu kepada Dodi.
Dodi pun segera mengikuti Perawat tersebut. Sementara Dokter masih berbincang bersama Bu Nining dan Bu Ria tentang kondisi Azkia saat ini.
Akhirnya Dodi tiba di ruang laboratorium, di mana ia harus melakukan cek terlebih dahulu sebelum menjadi pendonor untuk si kecil Azkia.
"Mari, Pak. Silakan duduk," ucap Sang Perawat mempersilakan Dodi duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Terima kasih." Dodi pun duduk dan kini Perawat pun mulai melakukan tugasnya.
Sebelum melakukan donor darah, Perawat mulai memeriksa berat badan Dodi, suhu tubuh, serta tekanan darahnya.
__ADS_1
"Golongan darah Bapak apa ya, Pak?" tanya Perawat kepada Dodi.
"Saya A positif," jawab Dodi yakin.
Suster menautkan kedua alisnya, heran menatap Dodi. "Pak Dodi serius? Apa bapak tidak salah sebut? Kalau Pak Dodi belum yakin, kita bisa cek golongan darah Bapak terlebih dahulu," ucap Perawat tersebut, masih dengan alis yang saling bertaut.
Dodi terkejut mendengar ucapan Perawat tersebut yang seolah-olah tidak mempercayai kata-katanya. Detak jantung lelaki itu mendadak cepat dan berdebar dengan kencang.
"Kenapa Suster berkata seperti itu? Saya tidak salah sebut, kok, Suster. Golongan darah saya memang A posistif, memangnya kenapa, Sus?" tanya Dodi sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
Wajah Perawat itu tampak cemas. Ia takut salah bicara. Namun, hasil pemeriksaan golongan darah Azkia dan Dodi berbeda.
Dodi tersentak kaget. Matanya membesar dan mulutnya bahkan sampai terbuka lebar. "Suster jangan main-main, ya! Tidak mungkin golongan darah kami berbeda! Dia anakku, darah dagingku! Jangan-jangan hasil pemeriksaan kalian lah yang salah," elak Dodi, yang tidak terima jika golongan darah Azkia berbeda dengannya.
Perawat itu menggeleng pelan. "Maafkan kami, Pak Dodi! Tapi, hasil pemeriksaan kami tidak pernah salah sebelumnya."
Dodi mengacak rambutnya kasar. Lelaki itu benar-benar frustrasi setelah mendengar jawaban dari Perawat tersebut. "Apa itu artinya Azkia bukan anak saya, Suster?" lirih Dodi dengan mata berkaca-kaca menatap Sang Perawat.
Perawat itu menggeleng pelan. "Untuk hal yang satu itu, sebaiknya Anda melakukan test DNA untuk memastikannya," jawab Perawat.
__ADS_1
Dodi yang sudah tidak bisa menahan emosinya, segera pergi dari ruangan itu tanpa permisi kepada Perawat. Sementara Perawat itu hanya bisa menatap punggung Dodi hingga lelaki itu menghilang dari balik pintu ruangan.
Dodi melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju ruangan Azkia sambil sesekali mengerang kesal. "Aarrrghhh! Dasar wanita jal*ng! Ternyata aku hanya kamu jadikan sebagai kambing hitam! Awas saja kamu, Anissa! Aku akan beri kamu pelajaran yang tidak pernah terbayangkan olehmu sebelumnya!" gerutu Dodi.
Orang-orang yang menyaksikan kemarahannya, tampak bingung dan bertanya-tanya. Ketika memasuki ruangan Azkia, Bu Nining dan Bu Ria pun tidak kalah bingung. Kenapa tiba-tiba Dodi marah-marah tidak jelas saat memasuki ruangan itu.
Bu Nining segera menghampiri Dodi dan mencoba menanyakan apa gerangan yang terjadi pada anak lelakinya itu. "Dodi, apa yang terjadi padamu, Nak? Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Bu Nining sambil menatap lekat kedua bola mata Dodi yang kini sudah mulai basah.
Sementara Bu Ria memilih berdiri di samping Azkia dan mencoba melindungi bayi malang tersebut. Karena pada saat itu Dodi terus menatap Azkia dengan tatapan penuh kebencian.
"Bayi ini! Bayi ini bukanlah anakku, Bu! Anissa sudah menjadikan aku sebagai kambing hitam! Dan bodohnya aku, aku bahkan rela membiarkan Arini pergi dari hidupku dan memilih menerima kehadiran Anissa dan Azkia yang ternyata bukanlah anakku!" kesal Dodi dengan setengah berteriak dan wajahnya pun tampak merah padam.
"Dodi!" pekik Bu Nining yang tidak dapat mempercayai kata-kata Dodi saat itu. "Kenapa kamu bilang seperti itu, ha? Dari mana kamu tahu bahwa Azkia bukanlah anakmu? Sementara dulu kamu begitu yakin bahwa kamu adalah Ayah biologis dari Azkia! Jadi, mana yang benar?" kesal Bu Nining kemudian.
Bu Ria pun tidak kalah terkejutnya dan wanita itu hanya bisa diam sambil memperhatikan perdebatan yang terjadi antara Bu Nining dan Dodi di ruangan itu.
"Aku tidak bisa mendonorkan darahku untuk Azkia, Bu. Karena golongan darah kami berbeda! Jika golongan darahku A, sementara golongan darah Anissa O, lalu bagaimana bisa golongan darah Azkia B positif, Bu! Bagaimana bisa!" teriak Dodi. Tubuh Dodi jatuh ke lantai, tepat di samping tempat tidur Azkia dan menangis di sana. Tubuh lelaki itu bahkan sampai bergetar. Kejadian ini benar-benar membuat Dodi terpukul.
...***...
__ADS_1