
Tuan Malik kehabisan kata-kata. Permintaan Arniz saat itu benar-benar terasa berat untuknya. Lelaki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya yang tertunduk di samping tempat tidur, berharap wanita itu mengurungkan keinginannya.
Begitu pula Arini. Ia pun sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana ia bisa menikah dengan Tuan Malik, sementara di antara ia dan lelaki itu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun. Bahkan Arini sendiri tahu bahwa cinta Tuan Malik hanya untuk Nyonya Arniz seorang.
Arini masih berharap bahwa apa yang ia dengar itu adalah salah. Dan ia juga berharap bahwa Nyonya Arniz tidak bersungguh-sungguh memintanya menikah dengan Tuan Malik.
"Arini, kumohon! Kamu masih menganggapku sebagai Kakakmu, 'kan? Sekarang turutilah keinginan terakhir Kakakmu ini," lirih Nyonya Arniz.
Arini menganggukkan kepala dengan cepat disertai air mata yang bercucuran di kedua pipinya. "Ya, Nyonya. Baiklah," lirih Arini yang tidak kuasa menolak keinginan terakhir wanita itu.
"Aku yakin kalian akan menjadi pasangan yang saling melengkapi, Arini, Malik. Nanti jika kalian sudah menikah, hiduplah dengan bahagia dan jangan lupa, punya anak yang banyak."
Permintaan yang terdengar sangat aneh. Namun, itu lah keinginan Nyonya Arniz untuk yang terakhir kalinya. Nyonya Arniz kembali tersenyum dan tepat di saat itu ia menghembuskan napas terakhirnya. Matanya perlahan-lahan tertutup dan wanita itu berpulang dengan wajah yang tersenyum.
"Nyonya!" Arini tidak bisa menahan tangisnya. Wanita itu terisak di samping tempat tidur dengan tubuh bergetar hebat.
Apa lagi Tuan Malik. Lelaki itu memukul-mukul dadanya yang terasa sesak dan sangat sakit. Benar-benar sakit, bahkan untuk menarik napas pun rasanya ia tidak mampu.
"Arniz! Kembalilah, kumohon!"
__ADS_1
***
Berbanding terbalik dengan Nyonya Arniz. Pak Kosim yang juga menjadi korban penembakan, kini kondisinya berangsur membaik. Setelah melakukan operasi pengangkatan peluru, Pak Kosim mulai sadar dan bisa di ajak bicara dengan baik.
Mendengar berita kematian Nyonya Arniz dari Sang Istri, Pak Kosim benar-benar merasa menyesal. Ia merasa bersalah karena saat terjadi kejadian penembakan itu, Pak Kosim tidak bisa berbuat apa-apa.
"Seandainya waktu itu aku melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Nyonya Arniz, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mungkin Nyonya Arniz masih hidup. Aku menyesal! Sangat-sangat menyesal," ucap Pak Kosim dengan bibir bergetar.
"Sudahlah, Pak. Tidak boleh berkata seperti itu. Ini sudah menjadi suratan Tuhan dan sekarang yang harus kita lakukan adalah mengikhlaskan kepergian Nyonya Arniz dan mendoakan semoga beliau bahagia di sana." Istri Pak Kosim mencoba menenangkan Sang Suami.
"Ya, kamu benar, Bu. Semoga Nyonya Arniz bahagia di sana," jawab Pak Kosim.
Kabar meninggalnya Nyonya Arniz tersebar dengan begitu cepat. Para pelayat dari berbagai lapisan pun mulai berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Nyonya Arniz yang memang terkenal baik dan suka membantu sesama.
Karangan bunga bertuliskan kata-kata bela sungkawa berjejer di depan pagar rumah Tuan Malik. Karangan bunga tersebut kiriman dari para sahabat Nyonya Arniz dan juga kerabat serta rekan bisnis dari Tuan Malik.
Tuan Malik berdiri menyambut para pelayat yang datang pada hari itu dengan mata membengkak. Walaupun begitu, lelaki itu tetap terlihat tegar. Ia masih bisa menyunggingkan senyuman hangat untuk mereka.
Tidak ketinggalan, Arini dan seluruh karyawan di butik milik Nyonya Arniz juga berkumpul di sana. Mereka tampak sedih, terlebih Arini. Selain merasa sangat kehilangan, Arini terus terpikirkan soal janjinya untuk memenuhi permintaan terakhir Nyonya Arniz, menikah dengan Tuan Malik.
__ADS_1
"Arini, kamu kenapa? Sejak tadi kamu hanya diam saja?" tanya Suci sembari merengkuh pundak Arini.
"Jangan terlalu dipikirkan, Arini. Sebaiknya kita berdoa saja yang terbaik untuk Nyonya Arniz. Lagu pula, apa kamu tidak lihat bagaimana raut wajah Nyonya Arniz? Dia terlihat bahagia bahkan hingga sekarang, senyuman Nyonya Arniz masih terlihat dengan jelas," sambung Suci.
Arini menghembuskan napas berat. "Ya. Beliau terlihat sangat cantik, ya, Suci. Aku yakin, orang sebaik Nyonya Arniz pasti akan mendapatkan tempat yang spesial di sisi-Nya. Tapi ... sebenarnya yang aku pikirkan saat ini bukan masalah itu. Ini masalah lain," sahut Arini. .
Suci menautkan kedua alisnya heran. Ia memang belum tahu soal permintaan terakhir Nyonya Arniz karena yang tahu itu semua hanya Arini, Tuan Malik dan para tim medis yang berada di ruangan itu bersama mereka.
"Masalah apa? Coba ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu," ucap Suci.
"Nanti saja." Arini tersenyum kecut. "Aku pasti akan menceritakannya kepadamu."
Suci terdiam sejenak. Tatapan wanita itu tertuju pada Tuan Malik yang sedang memperhatikan ke arah mereka tanpa berkedip sedikitpun. Melihat Suci yang terdiam, Arini pun segera menoleh ke arah Tuan Malik. Namun, lelaki itu segera memalingkan wajahnya tatkala mata mereka saling bertemu.
"Entah kenapa tatapan Tuan Malik terlihat begitu menakutkan. Apa ada yang salah padaku, Arini?" tanya Suci tampak kebingungan.
Arini memperhatikan penampilan Suci dan menurutnya tidak ada yang aneh. Suci tetap terlihat seperti biasanya, manis dan sedikit menggemaskan. "Aku rasa tidak ada. Mungkin hanya perasaanmu saja, Suci."
"Ya, semoga saja begitu. Karena aku mulai merasa tidak nyaman," jawab Suci.
__ADS_1
...***...