
"Ja-jadi, itu benar, Mas? Apa yang dikatakan oleh Anissa barusan itu benar?" lirih Arini dengan mata berkaca-kaca menatap Dodi yang kini hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani membalas tatapannya.
Dodi hanya diam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Perasaan bersalah yang kini mendominasi hatinya, membuat Dodi tak sanggup walaupun hanya sekedar untuk mengangkat kepalanya.
"Kamu benar-benar jahat, Mas!" pekik Arini sambil menitikkan air matanya. "Ternyata di balik sikap manismu kepadaku, kamu sudah bermain di belakangku!" lanjut Arini.
Setelah mendengar pengakuan Anissa, Polisi pun memutuskan untuk membawa serta Dodi untuk dimintai keterangan.
"Sebaiknya Pak Dodi ikut kami!" titah Pak Polisi sembari meraih tangan Dodi dan membawanya ke mobil mereka.
Bu Nining tidak terima ketika Dodi ikut serta ke kantor Polisi. Wanita paruh baya itu mengikuti langkah Pak Polisi dari belakang sambil memohon-mohon agar Dodi tidak dibawa serta.
"Lepaskan Dodi, Pak! Dodi tidak bersalah," tutur Bu Nining dengan mata berkaca-kaca.
Namun, Pak Polisi tetap bersikeras membawa Dodi dan Anissa bersama-sama ke kantor untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Setelah Dodi dan Anissa masuk ke dalam mobil, mereka pun segera melaju bersama para lelaki bertubuh besar itu meninggalkan Bu Nining dan Arini di halaman rumah.
"Arini! Arini! Bagaimana ini? Bagaimana nasib suamimu?" tanya Bu Nining dengan wajah cemas menatap Arini yang kini mematung dengan tatapan kosong menerawang.
"Arini! Kamu jangan diam saja! Saat ini suamimu dalam masalah dan kamu malah bengong di sini!" kesal Bu Nining karena Arini tidak juga menanggapi pertanyaannya.
Arini masih tidak menjawab. Ia melangkah ke depan tanpa tahu arah dan tujuan. Rasa sakit yang amat sangat di hatinya, membuat Arini tidak dapat berpikir dengan jernih. Melihat Arini yang kini berjalan meninggalkannya, Bu Nining pun kembali memanggil menantunya itu.
"Arini, berhenti! Kamu mau kemana, ha?!"
__ADS_1
Arini masih tidak menjawab. Namun, kakinya terus melangkah meninggalkan rumah itu dengan mulut terkunci rapat. Tatapannya bahkan tampak kosong menerawang menatap jalan.
"Ya, Tuhan! Ada apa lagi dengan wanita itu!" gerutu Bu Nining sembari mencoba menenangkan Azkia yang kini menangis dalam pelukannya.
Sementara Bu Nining kerepotan mengurus si kecil Azkia, Arini terus melangkahkan kakinya tanpa arah dan tujuan hingga akhirnya ia keluar dari komplek perumahan tersebut. Sekarang Arini berada di jalan raya yang padat merayap. Banyak kendaraan bermotor lalu lalang di hadapannya.
Sementara itu, sebuah mobil mewah tengah melaju di jalan raya. Sepasang suami-istri sedang berbincang hangat sambil sesekali bercanda ria di dalam sana.
Bahkan pak sopir yang sedang asik mengemudikan mobil tersebut, ikut tertawa renyah mendengar ocehan suami-istri tersebut. Namun, tiba-tiba Pak Sopir berteriak histeris sambil menekan klakson serta menginjak rem mobil secara mendadak dan membuat pasangan suami-istri itu terkejut.
Tiinnn ...!
"Awass!" pekik Pak Sopir.
"Pak Kosim, apa yang terjadi?!" pekik wanita itu dengan wajah memucat.
"Sepertinya saya baru saja menabrak seseorang, Bu!" jawab Pak Sopir dengan gemetar.
"Apa?!" pekik pasangan suami-istri tersebut.
Ketiga orang itu pun segera keluar dari dalam mobil dan mengecek bagian depan mobil, di mana seorang wanita cantik tengah tergolek lemah dengan beberapa luka di bagian tubuhnya. Bahkan darah segar masih keluar dari luka wanita yang tidak lain adalah Arini.
Arini yang masih dalam kondisi linglung, tiba-tiba saja menyeberang jalan tanpa melihat kanan dan kiri hingga akhirnya tertabrak oleh mobil mewah yang ditumpangi oleh pasangan suami-istri tersebut.
__ADS_1
"Mas Dodi ...." ucap Arini di saat-saat terakhirnya. Sebelum matanya terpejam dan akhirnya tak sadarkan diri.
"Pak Kosim, cepat kita bawa saja dia ke Rumah Sakit!" titah wanita itu dengan wajah cemas.
"Baik, Bu." Pak Kosim pun segera mengangkat tubuh Arini bersama suami dari wanita itu.
Para warga yang menyaksikan kejadian itu secara langsung tidak berani main hakim sendiri karena mereka tahu yang salah saat itu adalah Arini. Ya, karena Arini tidak melihat ke kanan dan ke kiri saat ingin menyeberangi jalan raya yang memang sedang padat dengan kendaraan bermotor.
Dengan dibantu oleh warga, tubuh Arini yang sudah tidak berdaya di bawa masuk ke dalam mobil mewah tersebut dan segera dibawa ke Rumah Sakit.
Sementara Arini sedang di perjalanan menuju Rumah Sakit, Bu Nining terlihat panik karena Azkia tidak juga menghentikan tangisnya. Bayi mungil itu merindukan sosok Arini yang hampir seharian tidak bermain bersamanya.
Karena merasa kewalahan, Bu Nining pun akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan Bu Ria. Wanita paruh baya itu segera menuju kediaman Bu Ria bersama Azkia yang masih menangis di dalam pelukannya.
"Bu Ria! Bisakah Bu Ria membantu saya menenangkan bayi ini? Sejak tadi ia tidak mau diam," tutur Bu Nining dengan wajah panik.
Tentu saja Bu Ria bersedia karena selama ini Bu Ria pun sayang kepada bayi mungil nan cantik itu. "Baiklah. Sini, Bu Nining, biar saya yang gendong," jawab Bu Ria sembari meraih Azkia dari pelukan Bu Nining.
Tidak butuh waktu lama, bayi mungil itu pun kembali tenang setelah berada di pelukan Bu Ria. "Memangnya Arini kemana, Bu?" tanya Bu Ria.
Baik Bu Ria maupun Hendra, sama sekali tidak mengetahui kejadian yang baru saja terjadi di halaman depan kediaman Bu Nining tersebut.
"Entahlah, Bu. Aku juga tidak tahu," jawab Bu Nining.
__ADS_1
...***...