
Tuan Malik berjalan menghampiri Arini yang masih berdiri di samping ranjang sambil memeluk selimut. Lelaki itu terus menyunggingkan senyumnya dan itu benar-benar membuat Arini grogi.
"Kenapa harus meminta maaf?" Tuan Malik merapikan rambut Arini yang sedikit berantakan kemudian menyelipkannya ke samping telinga istrinya itu.
"A-aku takut Mas Marah karena aku mengenakan lingerie ini," jawab Arini dengan terbata-bata. Ia benar-benar gugup, apalagi jaraknya dengan lelaki itu sangat-sangat dekat. Bahkan ia bisa merasakan hembusan napas Tuan Malik yang saat ini mengenai bagian pundaknya.
"Kenapa aku harus marah? Kecuali kamu mengenakan pakaian itu kemudian menari di halaman rumah, baru aku akan marah."
Arini terkekeh pelan mendengar penuturan Tuan Malik barusan. "Tidak akan, Mas. Karena aku tahu, tubuh seorang istri hanya untuk suaminya. Itu artinya tubuhku hanya Mas Malik yang boleh melihatnya," jawab Arini sambil tersipu malu.
"Bahkan memilikinya?" tanya Tuan Malik sembari menatap lekat kedua bola mata Arini.
Arini mengangguk pelan. "Ya, Mas. Tentu saja."
Tuan Malik kembali menyunggingkan senyuman hangat kemudian mundur beberapa langkah ke belakang. Ia melepaskan kancing kemeja yang ia kenakan, satu-persatu hingga terlepas semua.
"Tunggulah sebentar," ucap Tuan Malik sembari mengelus lembut pipi Arini kemudian melenggang menuju kamar mandi.
Arini membulatkan matanya. "Tunggu sebentar? A-apa maksud Mas Malik, ya? A-apa Mas Malik menginginkan aku malam ini?" pekik Arini sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Kalau benar ia menginginkan aku, aku harus bagaimana? Bersikap liar, normal atau gaya polos saja? Ya, ampun! Otakku sudah mulai ngeres ini," celetuk Arini dengan tangan gemetar.
Ia merapikan tempat tidurnya sekali lagi sembari menunggu Tuan Malik menyelesaikan ritualnya di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Eh, tapi ...." Arini menghentikan aksinya. Ia duduk di tepian tempat tidur sembari berpikir kembali.
"Aku sudah terlalu bersemangat. Jika nanti apa yang aku pikirkan tidak sama seperti yang dipikirkan oleh Mas Malik, aku 'kan jadi malu sekaligus kecewa juga. Ah, sudahlah." Arini bangkit kemudian berdiri tepat di depan cermin riasnya.
"Apa aku lepaskan saja, ya?" gumamnya sambil memperhatikan penampilannya.
Sementara itu, di dalam kamar mandi.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Tuan Malik segera meraih handuk yang menggantung di dinding. Ia melilitkan handuk tersebut ke pinggulnya sama seperti biasa.
Untuk sejenak ia terdiam di sana sambil memperhatikan bayangannya di cermin yang menempel di dinding ruangan itu, tepatnya di atas westafel. Wajahnya terlihat bimbang dan saat itu ia tengah berpikir dengan sangat keras.
Memikirkan ucapan sahabatnya ketika mereka bertemu tadi siang. Tuan Malik mengeluarkan keluh kesah yang ia rasakan saat ini kepada Hasan dan lelaki itu akhirnya memberikan saran serta nasehat untuknya.
"Benar kata Hasan, jika aku terus mengabaikan Arini dan membiarkan hidupku selalu berada di dalam bayang-bayang Arniz, itu artinya aku sudah gagal menjadi seorang suami untuk Arini. Walaupun pernikahan kami terjadi hanya karena keterpaksaan, tetapi pernikahan ini bukanlah sebuah permainan," gumam Tuan Malik dalam hati.
Tuan Malik menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Setelah berpikir keras, akhirnya Tuan Malik pun memutuskan langkah apa yang akan ia ambil setelah ini.
"Maafkan aku, Arniz. Tapi, percayalah, kamu akan tetap menjadi bagian dariku yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku," gumam Tuan Malik.
Lelaki itu melenggang keluar dari kamar mandi. Ketika ia membuka pintu, netra elangnya langsung tertuju pada Arini yang sedang mencoba melepaskan lingerie seksi yang ia kenakan saat ini. Arini berniat mengganti lingerie tersebut dengan piyama tidur yang sudah ia persiapkan di atas tempat tidur.
Perlahan, tapi pasti. Tuan Malik menghampiri Arini kemudian meraih piyama tidur milik Arini dan mengembalikannya ke dalam lemari pakaian. Arini yang kebingungan, hanya bisa terpelongo dan membiarkan Tuan Malik melakukan hal itu.
__ADS_1
"Kenapa diambil, Mas?"
Tuan Malik menghampiri tempat tidur lalu mendaratkan bokongnya di sana dengan posisi menghadap Arini yang masih tampak malu dengan penampilannya saat itu.
"Kamu sudah menggodaku dengan pakaian itu. Lalu, kamu ingin menggantinya begitu saja tanpa ingin bertanggung jawab kepadaku?" ucap Tuan Malik sambil terus menatap kedua bola mata Arini dengan sorotan tajam.
Arini merasa salut, walaupun saat ini tubuh mulusnya terekspos sempurna di hadapan Tuan Malik. Namun, lelaki itu masih bisa menahan pandangannya untuk tidak jelalatan ke bagian lainnya.
"Bertanggung jawab? Mas ingin aku melakukan apa?" tanya Arini yang masih mematung. Berdiri tepat di hadapan Tuan Malik sambil menggulung-gulung ujung lingerie seksinya.
"Menurutmu?" Tuan Malik menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum tipis.
"Mas inginkan aku malam ini?" Mata Arini refleks membulat. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari bibirnya tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
"Ehm, bu-bukan itu maksudku--"
"Ya, Arini. Malam ini aku ingin menjadi suamimu yang seutuhnya. Itu pun kalau kamu bersedia. Jika kamu masih belum siap, kita bisa menundanya dan melakukannya setelah kamu benar-benar sudah siap menerimaku."
Mata Arini berkaca-kaca. Ucapan Tuan Malik tersebut memang terdengar sangat sederhana, tetapi sangat berkesan untuknya.
Arini mengangguk pelan sambil tersenyum. "Ya, Mas. Aku sudah siap."
...*** ...
__ADS_1