Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 134


__ADS_3

Perdebatan demi perdebatan terjadi di ruangan itu. Jika Tia kekeh ingin mendapatkan jatahnya, begitu pula Tuan Malik. Lelaki itu kekeh mempertahankannya dan tidak akan memberikannya kepada Tia.


"Baiklah kalau begitu, Ayah. Aku tidak akan sungkan-sungkan untuk menuntut Ayah kali ini," ucap Tia sembari bangkit dari posisinya.


"Lakukan saja, aku sama sekali tidak takut dengan ancaman mu."


Tia merasa kalah telak dan akhirnya memilih pergi dari tempat itu. Ia melenggang dengan cepat dan kini menuju mobilnya. Di mana Toni masih menunggu kehadiran Tia dengan tidak sabar.


"Bagaimana, Tia? Apa Tuan Malik bersedia membaginya?" tanya Toni dengan sangat antusias ketika Tia datang mendekat ke arahnya.


Tia menggelengkan kepalanya perlahan. "Ayah kekeh tidak ingin membaginya denganku, Mas."


"Apa?! Apa kamu tidak bisa memaksanya?" pekik Toni dengan wajah kesal menatap Tia yang masih berdiri di depan mobilnya.


"Maaf, Mas. Ayah tetap kekeuh pada pendiriannya. Aku bahkan sudah mengancamnya, tetapi ia sama sekali tidak takut. Ayah malah tanpa gentar menantangku," sahut Tia dengan kepala tertunduk.


"Ah! Kamu memang bodoh!" kesal Toni.

__ADS_1


Toni menghidupkan mobilnya kemudian segera melaju dan meninggalkan Tia di tempat itu sendirian. Tia begitu terkejut. Ia baru saja ingin meraih gagang pintu, tiba-tiba Toni sudah meluncur meninggalkan dirinya.


"Mas! Mas Toni, tunggu!" teriak Tia sembari berlari mengejar Toni yang sudah melaju meninggalkan dirinya.


"Sialan, dasar wanita bodoh! Begitu saja ia tidak bisa, benar-benar payah!" gerutu Toni yang kini sudah melaju memecah jalan raya.


Sementara itu di kediaman Tuan Malik.


"Kamu baik-baik saja, Mas?" tanya Arini kepada Tuan Malik yang termenung setelah kepergian Tia.


Tuan Malik melirik Arini kemudian tersenyum tipis, sama seperti biasanya. "Aku tidak apa-apa. Kamu tenang saja," sahut Tuan Malik sembari mengelus rambut Arini yang terurai di punggungnya dengan lembut.


"Ya. Sebaiknya jangan, Mas. Kasihan nanti Putri."


Tuan Malik kembali melirik Arini dan kini tatapannya terlihat sangat serius. "Bagaimana jika rumah ini diambil oleh Tia dan mau tidak mau kita harus pergi dari sini. Jujur, aku tidak sanggup membeli rumah semegah ini, Arini. Aku hanya sanggup membeli yang sederhana saja," ucapnya tiba-tiba.


Arini tersebut kemudian menggenggam tangan Tuan Malik dengan erat. "Jujur, Mas. Aku tidak pernah peduli dengan harta yang kamu miliki saat ini. Jika kita harus keluar dari rumah ini, maka aku akan mengikuti ke manapun kamu pergi."

__ADS_1


"Walaupun aku mengontrak di kontrakan kecil dan jelek?" tanya Tuan Malik lagi.


"Ya, walaupun kita harus mengontrak di kontrakan kecil, jelek, kumuh, berdebu dan apa lagi?" Arini tertawa pelan menatap Tuan Malik. "Kontrakan tanpa kamar mandi sekalipun," lanjutnya.


Tuan Malik menautkan kedua alisnya. "Memang ada kontrakan yang seperti itu? Lalu bagaimana jika kita mau mandi dan buang air, apa kah kita harus berlari ke hutan dulu, begitu?"


Arini tergelak. "Ya, tidak lah, Mas. Kita tinggal cari kamar mandi atau wc umum."


Tuan Malik menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia menarik tubuh Arini ke dalam pelukannya dan menyandarkan kepala Arini ke dada bidangnya.


"Maafkan aku, Arini. Aku hanya mengetesmu saja. Kamu tidak usah khawatir, kita akan tetap tinggal di sini hingga kita menjadi kakek dan nenek. Rumah ini akan menjadi milik kita seutuhnya," tutur Tuan Malik.


"Ih, Mas ternyata nakal juga." Arini mencubit pelan perut six pack lelaki itu. "Tapi aku serius dengan jawabanku tadi, Mas. Aku akan mengikuti ke manapun kamu pergi, sebab aku hanya punya kamu, Mas. Hanya kamu," lanjut Arini dengan mata berkaca-kaca menatap Tuan Malik.


Tuan Malik mengangguk pelan. "Ini lah alasan Arniz menyatukan kita. Aku hidup sebatang kara dan kamu pun begitu. Kita sama-sama saling membutuhkan dan aku berdoa semoga kita bisa selalu bersama-sama hingga maut memisahkan kita."


Tuan Malik mengulurkan tangannya ke hadapan Arini dan Arini bergegas menyambutnya. Ia menggenggam tangan Tuan Malik dengan erat lalu menciumnya.

__ADS_1


"Ya, Mas. Aku pun berjanji padamu. Aku akan selalu bersamamu walau apapun yang terjadi."


...***...


__ADS_2