
Arini baru saja keluar dari kontrakannya dan secara tak sengaja ia bertemu Suci, teman kerjanya. Ia dan Suci sama-sama terkejut ketika mereka saling bersitatap saat itu.
"Loh, Arini! Kamu sekarang tinggal di sini, ya?" tanya Suci sambil tersenyum lebar menatap Arini.
"Ya, aku baru saja pindah. Di bantu sama Nyonya Arniz dan Tuan Malik. Ngomong-ngomong, kamu tinggal di sekitar sini juga?" tanya Arini balik sembari membalas senyuman temannya itu.
"Ya, kontrakanku ada di samping. Ehm, pantas saja tadi pagi aku melihat Tuan Malik dan Nyonya Arniz lewat di depan kontrakanku. Aku sempat bingung, ngapain mereka pagi-pagi sudah ada di sini. Eh, ternyata bantuin kamu, ya. Tapi bagus, deh. Jadi kita bisa barengan terus kalo mau ke butik, benar 'kan," kata Suci kemudian.
"Ya, kamu benar. Eh, ngomong-ngomong aku mau berangkat, nih! Mau pergi bareng?"
"Ya, aku juga. Yuk lah!"
Suci menggandeng tangan Arini kemudian mereka pun melangkah bersama menuju butik milik Nyonya Arniz yang hanya berjarak kurang lebih seratus meter dari kontrakan Arini serta Suci.
***
Hari ini Arini bekerja dengan penuh semangat. Nyonya Arniz pun terlihat sangat puas dengan hasil pekerjaannya. Selain cekatan, ternyata Arini juga cepat tanggap. Padahal ia belum terlalu lama bekerja di butik tersebut, tetapi Arini sudah tahu bagaimana membaca keinginan para pengunjung di butik milik Nyonya Arniz.
Tak terasa siang pun menjelang. Matahari sudah meninggi dan kini saatnya Arini beristirahat dan menikmati makan siangnya. Namun, baru saja ia ingin bersiap-siap menuju warung makan yang berada tak jauh dari butik tersebut, tiba-tiba salah seorang penjaga keamanan menghampirinya.
"Mbak Arini, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap Penjaga keamanan tersebut.
Arini menautkan kedua alisnya heran. Selain itu ia juga merasa was-was, takut seseorang yang sedang menunggunya di luar sana adalah suaminya, Dodi.
"Si-siapa, Pak?" tanya Arini dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Dia bilang bahwa dia adalah tetangga Mbak Arini sebelumnya," jawab Petugas keamanan itu lagi.
Dengan ragu-ragu, Arini melangkah menghampiri kaca dan mengintip dari tempat itu. Ia memperhatikan sekelilingnya dan akhirnya mata indah milik Arini menangkap sosok lelaki baik yang selama ini selalu membantunya.
"Mas Hendra!" pekik Arini sembari mengelus dadanya karena merasa lega.
Ternyata ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Dengan langkah cepat, Arini menghampiri Hendra yang kini sedang berdiri di depan mobilnya. Lelaki itu tersenyum manis tatkala melihat Arini yang datang mendekat ke arahnya.
"Arini ... ah, syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Hendra ketika Arini sudah berdiri di hadapannya.
"Ya, Mas Hendra. Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik," jawab Arini.
"Ehm, Arini, boleh kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Hendra menyunggingkan sebuah senyuman tipis dan saat itu tatapan Arini langsung tertuju pada luka lebam yang terlihat jelas di bibir Hendra akibat pukulan Dodi.
Sebenarnya saat itu Arini sangat penasaran. Ia ingin sekali bertanya perihal luka lebam di wajah Hendra, tetapi ia takut lelaki itu tersinggung.
"Tapi kali ini aku yang bayar. Aku tidak ingin kamu yang traktir aku seperti dulu, bagaimana?"
Arini tertawa renyah. "Oke, baiklah. Lagi pula saat ini keuanganku memang sudah menipis dan tanggal gajianku masih lama."
"Deal."
Hendra mengikuti langkah Arini menuju warung makan pinggir jalan yang terletak tak jauh dari butik milik Nyonya Arniz. Setibanya di warung tersebut, Hendra dan Arini segera memesan makanan untuk mereka. Kemudian duduk di salah satu kursi kosong sambil menunggu makanan yang sudah mereka pesan.
"Ehm ... Arini." Hendra membuka suaranya. Namun, ia masih tampak ragu-ragu mengatakannya. Takut Arini tersinggung setelah mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
"Ya, kenapa, Mas?"
"Tadi pagi Mas Dodi mengamuk. Dia bilang kamu kabur dari rumah dan ia menuduhku membawamu lari," kata Hendra sambil tersenyum kecut.
"Apa? Jangan bilang kalau luka lebam yang ada di wajah Mas Hendra ini akibat ulah Mas Dodi," pekik Arini dengan wajah cemas menatap Hendra yang kini sedang tersenyum kepadanya.
Hendra tidak menjawab. Lelaki itu terus tersenyum dan wajahnya tampak sangat tenang.
"Astaga, jadi itu benar! Atas nama Mas Dodi, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, Mas Hendra. Aku benar-benar malu," ucap Arini kemudian dengan kepala tertunduk malu.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Mas Dodi melakukan hal itu karena ia memang sedang kacau. Begitu banyak masalah yang sedang ia hadapi saat ini dan membuatnya tidak dapat mengontrol emosinya dengan baik," jawab Hendra.
"Ya, ditambah lagi dengan demosi kerja yang dilakukan oleh atasannya karena berita perselingkuhan Mas Dodi bersama Anissa tersebar di perusahaan. Saat ini kondisi rumah sangat kacau, Mas. Aku tahu itu dari Bi Surti yang saat ini sudah pulang kampung karena Mas Dodi sudah tidak sanggup membayar gajinya. Beruntung aku sudah pergi dari rumah itu karena jujur, aku tidak sanggup bertahan satu atap bersama Anissa," lirih Arini dengan wajah sedih.
"Astaga, berarti berita yang aku dengar dari tetangga sebelah itu benar. Mas Dodi sudah turun jabatan." Hendra menggelengkan kepalanya pelan karena tidak menyangka dengan apa yang sudah menimpa Dodi.
"Ya. Ehm, Mas Hendra. Aku mohon dengan sangat, jangan pernah beritahu soal aku kepada Mas Dodi. Saat ini aku benar-benar ingin sendiri. Aku ingin bebas dari lelaki itu dan juga keluarganya. Sudah cukup pengabdianku selama ini pada keluarga mereka. Pengabdian yang hanya di pandang sebelah mata," tutur Arini.
"Tidak akan, Arini. Walaupun Mas Dodi mengancamku, aku tidak akan pernah memberitahukan soal kamu kepadanya. Ehm, ngomong-ngomong, apa kamu tidak ingin menuntun cerai kepada Mas Dodi? Maaf, jika pertanyaanku ini terdengar sangat tidak sopan." Hendra menatap lekat Arini dan ia benar-benar penasaran bagaimana perasaan Arini saat ini kepada lelaki itu.
Arini menghela napas berat. "Sebenarnya aku memang memikirkan hal itu, Mas. Tapi untuk saat ini uangku masih belum cukup untuk melakukan gugatan cerai ke pengadilan. Nanti jika uangku sudah cukup, aku akan segera melakukan gugatan cerai, agar aku bisa bebas dan pergi dari kehidupan mereka," jawab Arini yakin.
Hendra tersenyum. Entah mengapa ia senang mendengar jawaban Arini saat itu.
...***...
__ADS_1