
"Arini, kamu mau kemana?" tanya Hendra kepada Arini yang berjalan dengan langkah cepat keluar dari halaman rumahnya.
Arini menghentikan langkahnya kemudian menghampiri Hendra yang kini berdiri di depan pagar rumahnya. "Sebenarnya aku ingin membuat surat lamaran kerja, Mas. Aku ingin mencari pekerjaan, tapi ...." Arini menghentikan ucapannya dan wajahnya terlihat sendu.
"Kenapa, Arini?" Dodi menatap lekat wajah Arini yang terlihat kusut.
"Sebenarnya aku ragu bisa mendapatkan pekerjaan secara aku hanya lulusan SMP. Siapa yang mau menerima lulusan SMP sepertiku, Mas?" lirih Arini.
Hendra terdiam sejenak. Apa yang dikatakan oleh Arini memang benar. Zaman sekarang, jangankan hanya lulusan SMP, lulusan SMA saja sangat sulit mendapatkan pekerjaan.
"Ehm, maafkan aku, Arini. Kalau boleh aku tahu, sebenarnya kamu ingin mencari pekerjaan yang seperti apa?" tanya Hendra dengan hati-hati, ia tidak ingin Arini tersinggung dengan pertanyaannya.
"Apa saja! Yang penting bekerja, selama itu halal dan menghasilkan," jawab Arini dengan penuh keyakinan.
"Kalau misal bekerja di kantin sekolah, kamu mau? Soalnya aku dengar-dengar, mereka butuh satu orang lagi untuk membantu mereka di sana," tutur Hendra.
"Mas, serius?" tanya Arini dengan sangat antusias.
"Ya, aku serius," jawab Hendra.
"Ya, Mas. Aku mau!"
"Baiklah. Hari ini akan kutanyakan, semoga saja masih ada rejekimu di sana," ucap Hendra kemudian.
"Amin!" sahut Arini. "Ehm, Mas Hendra, bolehkah aku numpang ke depan?"
"Tentu saja, kenapa tidak. Kebetulan aku juga ingin berangkat," sahut Hendra dengan wajah semringah.
__ADS_1
Lelaki itu bergegas memasuki mobilnya kemudian mengeluarkan mobil tersebut dari halaman rumah. Ia membuka pintu mobil dan mempersilakan Arini untuk masuk.
"Masuklah, Arini. Biar aku anterin kamu ke depan," ucap Hendra sambil tersenyum hangat.
Arini pun segera masuk dan duduk di samping Hendra yang kini melajukan mobilnya. Tanpa di sadari oleh mereka, ternyata Dodi memperlihatkan kebersamaan Arini dan Hendra barusan. Lelaki itu benar-benar kesal, tetapi sayangnya ia tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini.
Sementara itu di dalam mobil.
Beberapa kali Hendra melirik Arini sambil tersenyum hangat. Sementara wanita itu tetap fokus pada arah depan.
"Arini, bagaimana lukamu?" tanya Hendra.
"Sudah agak mendingan. Ya, setidaknya aku sudah tidak merasakan perihnya lagi." Arini terdiam sejenak sambil menarik napas dalam. "Sebenarnya bukan karena luka ini mulai membaik, tetapi karena rasa perih di hatiku melebihi rasa perih yang aku rasakan pada luka di tubuhku," lirih Arini dengan tatapan kosong menerawang.
Hendra mengelus pundak Arini dengan lembut. "Yang sabar ya, Arini."
"Apa? Mas Dodi akan menikah?! Ya Tuhan, sungguh berat cobaanmu, Arini," ucap Hendra sambil menggelengkan kepalanya. Namun, di balik itu, ia begitu takjub melihat sosok Arini yang begitu tegar dengan semua ujian yang menghampirinya.
"Ya, mau bagaimana lagi. Semua ini sudah terjadi, mau tidak mau, sudi tidak sudi, aku harus menghadapinya," jawab Arini.
Tepat di saat itu, mobil yang Arini tumpangi sudah dekat dengan tempat yang ingin ia tuju. Arini menepuk pelan lengan Hendra kemudian meminta lelaki itu untuk menepikan mobilnya.
"Berhenti di sini, Mas."
"Baiklah," ucap Hendra sembari menepikan mobilnya.
Arini bergegas keluar dari mobil tersebut kemudian berterima kasih kepada lelaki itu. "Terima kasih banyak ya, Mas."
__ADS_1
"Ya, sama-sama. Bener nih, cuma di sini?" tanya Hendra memastikan.
"Ya, Mas. Di sini saja," sahut Arini sambil melemparkan senyuman hangatnya.
Hendra pun mengangguk kemudian kembali melajukan mobilnya setelah berpamitan kepada Arini. Setelah mobil yang dikemudikan oleh Hendra menghilang dari pandangannya, Arini pun bergegas menghampiri tempat itu. Sebuah toko yang melayani jual beli ponsel baru dan second, serta berbagai aksesorisnya.
Perlahan Arini menghampiri pemilik toko yang sedang duduk santai di dalam toko tersebut. Lelaki itu tersenyum ramah kemudian menyapa Arini yang kini berdiri di hadapannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya lelaki itu dengan sangat ramah.
Arini mengeluarkan ponselnya kemudian meletakkan benda pipih tersebut ke atas etalase ponsel yang menjadi pembatas antara dirinya dan lelaki pemilik ponsel tersebut.
"Sebenarnya aku ingin menawarkan ponselku ini. Kira-kira laku berapa ya, Mas?" tanya Arini dengan ragu-ragu. Ia ragu karena ponsel miliknya itu sudah butut dan ketinggalan jaman. Namun, benda itu masih berfungsi dengan normal serta tidak pernah sekalipun diservis.
"Sebentar ya, Mbak. Biar aku lihat dulu," jawab lelaki itu sembari meraih ponsel milik Arini dan memeriksanya dengan seksama.
Cukup lama lelaki itu mengotak-atik ponsel butut milik Arini, hingga akhirnya lelaki itu pun kembali tersenyum kepadanya.
"Ponsel ini modelnya sudah ketinggalan benget, Mbak. Saya beraninya cuma 750 ribu saja, bagaimana?" ucap lelaki itu kemudian.
"750 ribu? Tidak bisa digenapin jadi sejuta gitu, Mas? Soalnya dulu suami saya belinya mahal loh ini," tutur Arini dengan wajah kusut.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya pelan, dengan senyuman yang masih menempel di wajahnya. "Maaf, Mbak. Saya beraninya cuma segitu."
Arini menghembuskan napas berat. Tidak ada pilihan lain lagi bagi Arini. Saat ini ia benar-benar membutuhkan uang itu. "Baiklah, aku setuju."
...***...
__ADS_1