
Setelah peluru yang bersarang di kaki Angga berhasil dikeluarkan, ia pun segera digiring kembali ke Kantor Polisi untuk dimintai keterangan.
Bukan hanya Angga, lelaki yang dulu membantunya melakukan perampokan terhadap mendiang Nyonya Arniz juga berhasil dibekuk di kediamannya.
Kini kedua lelaki itu tengah duduk di depan seorang polisi yang akan menginterogasi mereka. Berbagai pertanyaan seputar kejadian perampokan itu terus meluncur dari bibir Pak Polisi. Angga dan lelaki itu sempat berkilah dan mengatakan bahwa semua tuduhan yang ditujukan kepada mereka tersebut tidaklah benar.
Namun, tidak semudah itu bagi Polisi untuk mempercayai kata-kata mereka. Apa lagi bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa mereka lah pelaku perampokan sekaligus penembakan terhadap Nyonya Arniz tersebut.
Setelah didesak, akhirnya Angga pun mengakui semua perbuatannya kepada Polisi yang sedang menginterogasinya tersebut.
"Mengaku, tidak! Kami punya saksi utama di kejadian itu, sekarang apa kamu masih ingin mengelaknya, ha?!" kesal Pak Polisi sambil menepuk-nepuk pipi Angga dengan kasar.
Angga yang sejak tadi menundukkan kepalanya, akhirnya mengangguk. "Ya, Pak. Itu benar. Kami lah yang sudah melakukan perampokan terhadap Nyonya Arniz."
"Huahhh! Sejak tadi kek, mengaku. Kan tidak perlu buang-buang waktu begini!" celetuk para anggota Polisi yang berkumpul di ruangan itu dengan wajah kesal.
Setelah Angga mengakui semua perbuatannya terhadap Nyonya Arniz, interogasi pun selesai dan Angga di bawa ke ruang tahanan.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah Cafe.
"Malik, kedua pelaku perampokan sudah berhasil dibekuk dan katanya mereka sudah mengakui semua perbuatan mereka," ucap Tuan Hasan, Pengacara sekaligus sahabat dari lelaki itu.
"Baguslah. Aku ingin melihat wajah mereka yang sudah tega menghabisi nyawa istriku. Terutama Angga, lelaki yang sudah melakukan penembakan itu," jawab Tuan Malik.
"Aku bisa menemanimu ke sana, jika kamu mau," jawab Tuan Hasan.
"Ya. Tentu saja, dengan senang hati."
Setelah selesai menikmati waktu mereka di Cafe tersebut Tuan Malik dan sahabatnya itu segera melaju menuju kantor Polisi di mana Angga dan temannya ditahan. Setibanya di tempat itu, Tuan Malik segera meminta izin kepada penjaga di sana agar bisa menemui kedua pelaku tersebut.
Kini Tuan Malik dan Tuan Hasan sudah berdiri tepat di hadapan ruangan itu. Tuan Hasan memperhatikan ekspresi wajah Tuan Malik saat itu. Tampak jelas bahwa lelaki itu tengah menahan amarahnya. Wajahnya memerah dsn rahangnya terlihat menegas.
"Kenapa kamu tega melakukan itu kepada istriku, Angga?!" tanya Tuan Malik dengan tegas.
Angga mengangkat kepalanya kemudian menatap Tuan Malik dengan wajah sendu. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Angga.
__ADS_1
"Tidak sengaja katamu?" Tuan Malik tersenyum sinis. "Aku tahu kamu menyimpan rasa dendam terhadap mendiang istriku, karena dia pernah ikut campur dengan urusan rumah tanggamu, benar kan? Mengaku saja!"
Angga tidak menjawab. Lelaki itu kembali menundukkan kepalanya menghadap lantai ruangan.
"Sebagai seorang laki-laki sejati, tidakkah kamu malu melakukan hal itu terhadap seorang wanita. Dasar bajing*n!"
Tuan Malik tidak dapat menahan emosinya lagi. Ia menggoyang-goyangkan jeruji besi yang menghalangi lelaki itu. Saking marahnya, ia bahkan memukul jeruji besi tersebut hingga kepalan tangannya memerah.
"Seharusnya jika kamu memang seorang gentleman, lawan aku! Kita duel satu lawan satu!" teriak Tuan Malik dengan mata tajam menatap Angga yang masih tertunduk.
Tuan Hasan yang sejak tadi berdiri di samping Tuan Malik, menepuk pundak lelaki itu dan mencoba menenangkannya.
"Sudahlah, Malik. Jangan kotori tanganmu dengan menyentuh bajing*n seperti dia. Dan kamu tidak usah cemas, aku bisa pastikan bahwa dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Setidaknya dia akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara," tutur Tuan Hasan.
"Aku ingin dia dihukum mati, Hasan! Dia sudah melakukan pembunuhan berencana kepada istriku!" kesal Tuan Malik, masih mencengkram erat jeruji besi yang menghalangi mereka. "Jika aku tidak mendapatkan keadilan atas kematian Istriku, aku bisa pastikan akan mencari keadilan itu sendiri, Angga! Ingat itu," lanjutnya.
Angga dan CS-nya hanya diam dengan kepala tertunduk. Tak sedikitpun mereka berani mengangkat kepala mereka. Terutama Angga, rasa sakit akibat timah panas yang bersarang di kakinya, membuat nyali lelaki itu benar-benar menciut.
__ADS_1
...***...