Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 88


__ADS_3

Hendra tiba di kediamannya. Setelah memarkirkan mobilnya, lelaki itu segera mengecek tempat tinggal Bu Nining. Rumah itu tampak sunyi, seperti tak berpenghuni.


Walaupun ragu, Hendra tetap melangkahkan kakinya menghampiri kediaman Bu Nining dan Dodi. Perlahan Hendra mengetuk pintu rumah tersebut sambil memanggil nama Bu Nining.


Tok tok tok! ... "Bu Nining?"


Cukup lama Hendra berdiri di sana sambil mengintip dari balik kaca. Hingga akhirnya pintunya pun terbuka dan kini tampaklah Bu Nining dengan mata sembab berdiri di hadapannya dengan tubuh yang masih tersembunyi di balik pintu.


"Nak Hendra, ada apa ya, Nak?" tanya Bu Nining dengan suara yang terdengar serak. Sepertinya wanita paruh baya tersebut baru saja habis menangis.


"Ehm, bolehkah saya masuk, Bu Nining?" tanya Hendra yang tampak ragu-ragu.


"Tentu saja, Nak. Masuklah." Bu Nining membuka pintu rumahnya lebih lebar agar Hendra bisa masuk.


Perlahan Hendra pun masuk kemudian mengikuti Bu Nining yang kini menuntunnya menuju sofa yang ada di ruang depan.


"Silakan masuk, Nak Hendra."


Hendra pun duduk kemudian disusul oleh wanita paruh baya tersebut. Hendra memperhatikan wajah murung Bu Nining dengan seksama. Ia tahu apa yang dirasakan oleh Bu Nining saat itu. Sedih dan kecewa pastinya, setelah mengetahui bahwa Azkia yang selama ini sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri, ternyata bukanlah cucunya.

__ADS_1


"Bu ... sebenarnya kedatanganku ke sini untuk menyampaikan pesan Mas Dodi kepada Bu Nining. Namun, aku benar-benar minta maaf jika ucapanku kali ini akan membuat Bu Nining sedih," tutur Hendra dengan sangat hati-hati.


"Dodi? Memangnya Dodi di mana? Katanya dia sedang mencari keberadaan Anissa, tapi sampai sekarang ia belum juga kembali," lirih Bu Nining yang mulai cemas karena merasakan firasat buruk kepada Dodi, anak lelakinya itu.


Hendra terdiam untuk sejenak sambil menundukkan kepalanya. Ia bingung bagaimana cara memberitahukan masalah Dodi kepada Bu Nining. Hendra kembali mengangkat kepalanya kemudian berucap.


"Bu ... sebaiknya Ibu ikut saya ke tempat Mas Dodi. Biar Ibu dapat bicara langsung dengannya," lirih Hendra.


"Me-memangnya Dodi di mana? Apa dia tidak ingin pulang?" ucap Bu Nining dengan terbata-bata.


Hendra tidak menjawab. Ia hanya diam sambil menatap Bu Nining dengan tatapan sendu. Melihat ekspresi Hendra yang seperti itu, Bu Nining pun semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi pada anak lelakinya itu.


"Baiklah, sekarang ajak Ibu ke tempat Dodi! Ibu ingin bertemu dengannya," kata Bu Nining lagi. Bu Nining bangkit dari posisinya kemudian mengajak Hendra agar segera mengantarkannya ke tempat Dodi.


Bu Nining bingung ketika Hendra memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah kantor polisi. Ia mulai menduga-duga apa yang terjadi pada anak lelakinya itu.


"Kenapa kamu membawa Ibu ke sini, Nak Hendra?" tanya Bu Nining dengan wajah cemas.


"Ikuti saya, Bu Nining."

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu, Hendra malah mengajak Bu Nining agar mengikutinya. Bu Nining pun menurut saja, walaupun sebenarnya ia sangat penasaran. Bu Nining mengikuti langkah Hendra dari belakang sambil memperhatikan sekeliling tempat itu. Tempat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Hendra menghampiri seorang petugas yang sedang berjaga di tempat itu dan meminta izin untuk menemui Dodi. Setelah berbincang serius untuk beberapa saat, akhirnya Petugas itu pun mengizinkannya.


Hendra dan Bu Nining duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan kemudian tidak berselang lama, Petugas itu datang bersama Dodi di sampingnya.


"Ibu," lirih Dodi dengan mata berkaca-kaca menatap Bu Nining.


"Ya ampun, Nak! Kamu kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?!" pekik Bu Nining sembari menghampiri Dodi dengan tergopoh-gopoh.


Tubuh tua itu bergetar dan kedua kakinya seolah tidak mampu menahan beban tubuhnya kala itu. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya Bu Nining sekali lagi.


"Sebaiknya Ibu duduk dulu," ucap Hendra yang khawatir akan kondisi Bu Nining.


Dodi segera menuntun Bu Nining untuk kembali duduk di tempat semula. Setelah itu ia pun segera menyusul duduk di sana bersama Hendra.


"Ceritanya panjang, Bu. Dan kuharap Ibu sanggup mendengarkan ceritaku," lirih Dodi.


Bu Nining mengangguk pelan dan Dodi pun segera menceritakan semua kejadian naas yang sudah menimpanya. "... begitulah ceritanya, Bu. Maafkan aku," lirih Dodi sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


Tubuh Bu Nining semakin melemah. Wanita paruh baya itu kehilangan kata-katanya. Cerita Dodi barusan membuat Bu Nining benar-benar syok. Beberapa detik berikutnya, Bu Nining pun akhirnya jatuh pingsan.


...***...


__ADS_2