Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 127


__ADS_3

Keesokan paginya.


Tuan Malik terbangun dari tidurnya. Ia merasakan ada sesuatu yang lembut sedang melingkar di atas perut six pack-nya. Tuan Malik menoleh dan ternyata tangan Arini lah yang berada di sana.


Arini bahkan tidak sadar bahwa saat itu ia sedang memeluk tubuh Tuan Malik dan menggunakan lengan kekar lelaki itu sebagai penahan kepalanya.


Tuan Malik tersenyum tipis. Walaupun ini pertama kalinya, tetapi ia sama sekali tidak merasa risih. Bahkan ia merasa sangat nyaman ketika Arini memeluknya seperti itu.


Perlahan Tuan Malik mengubah posisinya sami mengangkat tangan Arini. Ia berbaring miring dan menghadap ke arah Arini, kemudian meletakkan tangan wanita itu kembali ke pinggangnya.


Cukup lama Tuan Malik mempertahankan posisinya. Entah kenapa ia begitu senang melihat wajah Arini yang begitu tenang saat tidur. Tuan Malik bahkan sampai lupa bahwa hari ini ia ada janji dengan sahabatnya, Hasan.


Di tengah momen indah itu, tiba-tiba saja alarm di ponsel milik Arini berbunyi. Alarm yang dulu sengaja ia setel untuk membangunnya agar tidak terlambat pergi bekerja.


Arini pun terkejut dan segera membuka matanya. Bukan hanya alarm itu yang membuatnya terkejut, tetapi pemandangan yang ada di depan mata nya pun tidak kalah mengagetkannya.


Wajah tampan Tuan Malik yang masih memejamkan matanya. Lelaki itu takut ketangkap basah oleh Arini dan terpaksa ia pun berpura-pura seolah masih tidur.


"Mas Malik?" gumam Arini pelan sambil memperhatikan posisinya dan lelaki itu. "Oh, astaga! Apa yang sudah aku lakukan?"

__ADS_1


Perlahan Arini menarik tangannya dari tubuh Tuan Malik. "Dasar tangan nakal! Bagaimana jika Mas Malik melihat ini? Bisa malu seumur hidup aku," gumamnya lagi dengan wajah panik.


Arini melepaskan dirinya dari lelaki itu dengan sangat pelan kemudian bangkit dari tempat tidur. Setelah mematikan alarm di ponselnya, Arini berjalan dengan sangat pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya di ruangan itu.


Sepeninggal Arini, Tuan Malik segera bangkit dan duduk di tepian tempat tidur sambil tersenyum. Ia melirik ponsel milik Arini yang tergeletak di atas nakas kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


Selesai melakukan ritual mandinya, Arini tidak lupa mempersiapkan air hangat serta peralatan mandi untuk Tuan Malik. Setelah semuanya siap, ia pun segera keluar dari ruangan itu dengan hanya menggunakan handuk yang melilit dari batas dada hingga atas lutut.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka dan tatapan Tuan Malik langsung tertuju pada Arini. Namun, itu hanya sebentar, Tuan Malik segera mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tampilan Arini yang cukup terbuka.


"Mas sudah bangun? Apa Mas mau mandi? Kalau ya, aku sudah mempersiapkan air hangat untuk Mas," ucap Arini sambil tersenyum hangat.


"Ehm, ya. Terima kasih." Tuan Malik membalas senyuman Arini kemudian melenggang menuju kamar mandi. Ketika melewati Arini, tidak sengaja Tuan Malik melihat ada sehelai bulu mata yang menempel di pipi wanita itu.


Awalnya Tuan Malik merasa itu bukanlah hal penting dan ingin mengacuhkannya. Namun, di dalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal jika ia membiarkan hal itu. Padahal Arini bisa menghilangkannya sendiri saat ia berhias nanti di depan cermin.


Tuan Malik menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Arini.

__ADS_1


"Ada sehelai bulu mata di pipimu," ucap Tuan Malik.


"Hah? Di mana, Mas? Di sini?"


Arini menepuk-nepuk pelan pipinya agar helaian bulu mata itu menghilang dari pipinya. Namun, sayangnya Arini menepuk sisi yang salah dan hal itu membuat Tuan Malik menjadi gatal. Gatal ingin membantunya membuang helaian bulu mata tersebut.


Tuan Malik berjalan ke arah Arini dan kini ia berdiri tepat di hadapannya. "Sini, biar aku bantu."


Perlahan Tuan Malik meraih bulu mata tersebut kemudian membuangnya. Ia kembali tersenyum kepada Arini setelah berhasil menyingkirkannya.


"Sudah."


"Terima kasih, Mas."


"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku rasa helaian bulu mata itu terlihat sangat mengganggu. Mengganggu wajah cantikmu," sambungnya sembari melenggang kembali menuju kamar mandi.


Arini tersenyum lebar. Hatinya berbunga-bunga karena perhatian kecil yang diberikan oleh Tuan Malik kepadanya.


"Ya ampun, mata Mas Malik tajam sekali! Sampai sedetail itu dia memperhatikanku. Dan dia bilang apa tadi? Wajah cantikku, oh!"

__ADS_1


Arini mesem-mesem sendiri. Ia bahkan sampai lupa akan niatnya yang ingin mempersiapkan pakaian untuk Tuan Malik.


...***...


__ADS_2