
"Tuan Malik," panggil salah seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Saya, Sus."
"Silakan masuk, Tuan."
Tuan Malik pun bergegas masuk ke dalam ruangan itu, di mana Nyonya Arniz tengah berjuang antara hidup dan matinya. Napas wanita itu terdengar begitu cepat dan dadanya pun terus bergerak turun naik, seiring dengan napas yang keluar masuk di hidungnya.
"M-Malik!" panggil Nyonya Arniz dengan tatapan sendu menatap Sang Suami yang datang mendekat ke arahnya.
Wanita itu akhirnya sadar. Namun, sayangnya kesadaran Nyonya Arniz saat itu bukanlah pertanda bahwa kondisi wanita itu mulai membaik. Bahkan sebaliknya, kondisinya semakin memburuk dan hal itu membuat Tuan Malik menjadi semakin putus asa.
"A-Arniz! Sayang," sahut Tuan Malik yang kini berdiri tepat di samping tempat tidur Nyonya Arniz. Tuan Malik menggenggam tangan Nyonya Arniz yang sudah mulai terasa dingin sambil menitikkan air matanya.
"A-Angga!" ucap Nyonya Arniz kemudian dengan terbata-bata.
Tuan Malik bingung mendengarnya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya itu.
"A-Angga? Siapa Angga?" tanya Tuan Malik dengan wajah bingung. Lelaki itu melepaskan genggaman tangannya kepada Nyonya Arniz dan sekarang mengelus lembut puncak kepala istrinya itu.
"Angga, lelaki itu lah yang su-sudah merampok kami," jawab Nyonya Arniz dengan terbata-bata.
"Siapa Angga? Tolong, katakan dengan jelas, Sayang." Tuan Malik tersentak kaget dan mulai memasang telinganya dengan benar. Bukan hanya Tuan Malik, Dokter dan para perawat yang masih berada di ruangan itu mendengar apa yang di katakan oleh Nyonya Arniz tersebut.
"Angga, mantan suami Suci, karyawanku," sahut Nyonya Arniz lagi.
Wajah Tuan Malik tampak memerah. Ia benar-benar marah setelah tahu siapa yang tega berbuat itu kepada istrinya. Namun, ia tidak terlalu terkejut sebab sejak dulu Tuan Malik sudah merasakan firasat tidak baik terhadap lelaki itu.
__ADS_1
"Angga!" geram Tuan Malik sambil mengepalkan tangannya dengan sempurna. Tiba-tiba tangan Nyonya Arniz bergerak. Ia meraih tangan Tuan Malik dan menggenggamnya perlahan.
"Arini! To-tolong panggil Arini. A-aku ingin bicara dengannya," lirih Nyonya Arniz sekali lagi.
Tuan Malik pun mengangguk dengan cepat dan salah seorang perawat kembali ke luar untuk memanggil Arini. Arini masih menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas. Mulutnya terus bergumam, mendoakan keselamatan untuk Nyonya Arniz.
"Nyonya Arini?" panggil Perawat masih berdiri di ambang pintu ruangan tersebut.
"Ya, Sus."
Arini pun segera mendekat kemudian masuk ke dalam ruangan itu, setelah perawat memintanya untuk masuk. Tatapan Arniz langsung tertuju pada sosok Nyonya Arniz yang tergolek lemah di atas tempat tidurnya. Sementara Sang Suami kembali terisak di sampingnya.
Nyonya Arniz mengangguk pelan, meminta Arini untuk menghampirinya lebih dekat lagi. Arini pun mengerti. Ia berjalan mendekat dan kini berdiri tak jauh dari Tuan Malik yang masih memegang tangan Nyonya Arniz.
"A-Arini, bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu untuk yang terakhir kalinya?" lirih Nyonya Arniz dengan tersendat-sendat, seiring dengan napasnya yang juga terputus-putus.
"Arini ...." Nyonya Arniz menyunggingkan sebuah senyuman dan tatapan mata wanita itu seolah berkata bahwa itu memang permintaan terakhirnya kepada Arini.
Akhirnya Arini pun mengangguk dengan cepat. Ia berjanji akan menerima apapun permintaan Nyonya Arniz kepadanya. Nyonya Arniz tersenyum lega dan sebelum mengutarakan keinginannya kepada Arini, tatapan wanita itu kini beralih kepada suaminya.
"Sayang." Nyonya Arniz menggerakkan tangannya yang masih berada di dalam genggaman Tuan Malik.
"Ya," lirih Tuan Malik.
"Aku punya permintaan terakhir dan aku ingin kamu melakukannya untukku," ucap Nyonya Arniz dengan wajah yang terlihat semakin memucat. Bahkan tangan wanita itu terasa semakin dingin saja.
"Tolong jangan katakan itu, Arniz! Yakinlah, kamu pasti akan kembali sehat seperti sedia kala. Kita akan tetap bersama-sama seperti dulu." Tuan Malik berbalik dan menatap Dokter yang masih berdiri di belakangnya. "Benar 'kan, Dok?"
__ADS_1
Dokter mengangguk pelan. Walaupun terlihat jelas dari raut wajahnya saat itu, ia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
"Kumohon, Malik. Berjanjilah bahwa kamu akan melaksanakan permintaan terakhirku," ucap Nyonya Arniz lagi sambil menarik napasnya dalam-dalam.
Melihat kondisi istrinya yang semakin memburuk, Tuan Malik pun akhirnya mengangguk. "Baiklah, aku berjanji. Sekarang katakan, apa yang harus aku lakukan untukmu," sahut Tuan Malik.
Wanita itu kembali menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang benar-benar terlihat sangat manis. Entah permintaan apa yang tersembunyi di balik senyuman itu, mereka pun tidak tahu, termasuk Tuan Malik.
"Malik ...."
"Ya?"
"Nikahilah Arini," ucap Nyonya Arniz.
Permintaan yang begitu mengejutkan. Arini dan Tuan Malik bahkan sampai membulatkan mata mereka dan mereka tampak syok mendengar permintaan terakhir wanita itu.
***
Maaf jika Readers kecewa dengan keputusan Author yang menjodohkan Arini dengan Tuan Malik.
Author memang sudah sejak awal mempersiapkan tokoh Tuan Malik untuk Arini. Itulah sebabnya kenapa Author menggambarkan sosok Tuan Malik itu adalah sosok lelaki yang sempurna. Selain sosoknya yang tampan dan rupawan, Tuan Malik adalah sosok lelaki yang begitu setia.
Kenapa Arini tidak berjodoh sama Hendra? Nah, untuk yang satu ini, banyak sekali alasan Author untuk tidak menjodohkan Arini dengan sosok Hendra.
Salah satunya, Bu Ria dan keluarga Dodi sudah seperti keluarga sendiri. Ya, walaupun sering terjadi kesalahpahaman. Namun, rasanya tidak etis aja kalau Arini tiba-tiba menikah sama Hendra.
Lagi pula kasihan juga Dodi jika setelah keluar dari penjara harus disuguhi dengan kemesraan Arini dan Hendra. 🤧🤧🤧
__ADS_1
Nah, Author harap Reader dapat menerima keputusan Author, ya. Walaupun mungkin Keputusan Author membuat kalian kecewa. 😣😣😣