Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 87


__ADS_3

"Anissa!" teriak Dodi yang refleks menengok ke bawah. Dari atas, ia melihat sosok Anissa yang sudah tergeletak di halaman depan hotel.


Orang-orang mulai berkerumun di bawah sana sambil memperhatikan kondisi Anissa yang sudah tidak bernyawa. Darah segar terus keluar dari hidung, mulut dan luka menganga yang terdapat di kepala wanita itu.


Mereka mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga wanita berparas cantik itu bisa jatuh dan tewas secara mengenaskan di bawah sana.


Sementara itu.


Di kamar VIP itu pun terjadi kepanikan. Tuan Bram bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Sementara Nyonya Lily datang menghampiri Dodi yang masih syok dengan kejadian mendadak tersebut.


"Ke-kenapa ini bisa terjadi, Pak Dodi?" tanya Nyonya Lily dengan wajah cemas menatap Dodi yang kini menitikkan air matanya.


"Aku tidak sengaja melakukannya, Nyonya. Semua itu terjadi begitu saja," ucap Dodi dengan suara bergetar.


Tiba-tiba Petugas Hotel serta Security yang sejak tadi berada di ruangan itu segera menghampiri Dodi dan berniat mengamankannya.


"Sebaiknya Anda ikut kami, Pak. Sebelum para Polisi tiba di sini," ucap Security.


Sebelum mengikuti kedua lelaki itu, Dodi sempat menoleh ke arah Nyonya Lily dengan wajah sendu. Nyonya Lily mengelus lembut pundak Dodi kemudian mengangguk pelan.


"Aku akan terus mendukungmu, Pak Dodi. Pak Dodi tenang saja," ucap Nyonya Lily.

__ADS_1


Dodi pun dibawa ke sebuah ruangan bersama Nyonya Lily dan Tuan Bram yang akan menjadi saksi kejadian itu.


Tidak berselang lama, pihak kepolisian pun datang berbondong-bondong ke hotel tersebut. Bukan hanya pihak kepolisian, para wartawan dari berbagai penjuru pun mulai berdatangan untuk menggali informasi yang terjadi di tempat itu.


Para pihak kepolisian mulai melakukan tugas mereka, melakukan pemeriksaan di kamar hotel, halaman depan dan juga jasad Anissa yang masih terkapar di halaman depan hotel berbintang tersebut. Setelah pemeriksaan selesai, jasad Anissa segera dibawa ke Rumah Sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Begitu pula Dodi, lelaki itu sudah di bawa ke Kantor Polisi untuk diinterogasi lebih jauh lagi. Berbagai pertanyaan meluncur dari bibir salah satu Polisi yang sedang bertugas menginterogasinya.


Dodi pun tidak mengelak. Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Polisi tersebut dari A hingga Z. Tidak ada sedikit pun yang ia sembunyikan. Termasuk tentang penggerebekan tersebut, di mana ia menemukan Anissa yang tengah bercinta dengan liarnya di depan mata kepala mereka.


Di saat giliran Tuan Bram, lelaki tua itu pun mengakui semua cerita tentang perselingkuhannya dengan wanita muda yang bernama Anissa tersebut. Wanita muda yang selama ini menjadi pemuas nafsunya.


***


Hendra berlari kecil melewati lorong demi lorong di Rumah Sakit. Di mana Azkia masih di rawat. Wajah lelaki itu tampak panik dan ia sudah tidak sabar ingin menemui Ibunya yang sedang menjaga Azkia.


"Bu, di mana Bu Nining?" tanya Hendra yang baru saja tiba di ruangan tersebut.


Melihat ekspresi Hendra yang tampak panik, Bu Ria pun segera menghampirinya. "Ada apa, Hendra? Kenapa kamu panik seperti itu? Bu Nining sudah pulang dan mungkin beliau sudah berada di rumahnya," tutur Bu Ria.


"Ya Tuhan!" pekik Hendra yang tidak menyangka ternyata wanita paruh baya itu sudah pulang.

__ADS_1


"Memangnya ada apa sih, Hen? Kenapa kamu tampak panik seperti ini?" Bu Ria meraih wajah Hendra kemudian menatapnya lekat.


"Mas Dodi, Bu! Mas Dodi ditahan atas kasus pembunuhan!" pekik Hendra lagi dengan wajah serius menatap Bu Ria.


"Apa!? Jangan main-main kamu, Hendra! Tidak baik," kesal Bu Ria. Ia pikir saat itu Hendra hanya bercanda.


"Ya ampun, Ibu! Aku tidak sedang main-main! Mas Dodi ditahan oleh pihak berwajib setelah dinyatakan sebagai tersangka tunggal atas pembunuhan Anissa di sebuah hotel," pekiknya.


"A-apa? A-Anissa meninggal? Tapi, bagaimana ceritanya, Hendra? Coba ceritakan dengan jelas. Jangan buat Ibu penasaran," sahut Bu Ria yang kini makin penasaran.


Bu Ria mengajak Hendra duduk di sebuah kursi panjang yang ada di luar ruangan dan meminta anak lelakinya itu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Menurut yang saya dengar ...."


Hendra pun mulai bercerita kepada Bu Ria soal kejadian itu. Cerita yang ia ketahui dari Dodi sendiri. Ya, Dodi sempat menghubungi nomor ponsel Hendra sebelumnya, kemudian menceritakan semua kejadian itu.


Selain itu, Ia juga ingin minta tolong kepada Hendra untuk memberitahukan kepada Bu Nining bahwa dirinya tidak bisa kembali ke rumah mereka untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Ya, Tuhan!" Bu Ria tampak sedih setelah mendengar cerita tragis yang menimpa keluarga besar Dodi. Ia menoleh ke arah tempat tidur, di mana Azkia masih terbaring lemah.


"Jika Anissa meninggal, lalu bagaimana dengan nasib bayi ini, Hendra? Bu Nining tidak ingin merawatnya karena Azkia bukanlah anak kandung Dodi. Jika tidak ada yang sudi merawatnya, bolehkah Ibu merawatnya, Hendra?" tutur Bu Ria sambil menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Tentu saja, Bu. Kenapa tidak. Aku tidak keberatan merawatnya, lagi pula Azkia tidak berdosa," jawab Hendra yakin.


...***...


__ADS_2