
Bukan hanya Dodi yang begitu syok dengan kenyataan itu. Ternyata Bu Nining pun tidak kalah syok. Bagaimana tidak, ternyata selama ini ia sudah membesarkan cucu orang lain dengan penuh kasih sayang.
Tubuh Bu Nining hampir saja jatuh ke lantai jika saja saat itu Bu Ria tidak menahannya. Bu Ria menuntun Bu Nining dan mendudukkannya ke lantai ruangan itu dengan bersandar di dinding ruangan.
"Bu Nining, minumlah dulu." Bu Ria menyerahkan sebotol air mineral kepada Bu Nining. Wanita paruh baya itu segera menyambut botol tersebut dari tangan Bu Ria kemudian meminumnya.
Setelah wanita paruh baya itu sedikit tenang, Bu Ria pun mencoba membantu menenangkan Dodi yang masih histeris di lantai ruangan tersebut. Perlahan Bu Ria menghampiri Dodi dan meraih tubuh lelaki itu agar mengubah posisinya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Bu Ria? Aku sudah terlanjur melepaskan Arini dan menerima Anissa karena kehadiran Azkia di kehidupanku. Tapi, sekarang? Semuanya hancur! Azkia bukanlah anakku dan bodohnya lagi, aku tidak tahu kemana wanita jal*ng itu pergi!" kesalnya dengan air mata yang bercucuran.
Bu Ria mengelus lembut pundak Dodi. "Menurutku, sebaiknya kamu bicarakan semua ini kepada Anissa dengan kepala dingin. Setelah semuanya jelas, baru kamu putuskan semuanya," ucap Bu Ria.
Walaupun Bu Ria pernah kesal kepada Dodi karena pernah memukul Hendra tanpa alasan yang jelas. Namun, ketika ia melihat betapa banyaknya masalah yang menimpa keluarga Dodi, ia pun tidak tega untuk tidak membantu mereka.
"Ya, Bu Ria benar. Aku harus menemui Anissa!" Dodi bangkit dari posisinya kemudian merogoh saku celana yang sedang ia kenakan. Dodi kembali melangkah ke luar ruangan itu sambil menenteng ponselnya.
__ADS_1
"Dodi, kamu mau ke mana lagi?" tanya Bu Nining yang masih bersandar di dinding kamar dengan wajah lemas.
Namun, Dodi tidak menjawab. Lelaki itu terus saja melangkah dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Bu Ria. Kalau benar Azkia bukanlah cucuku, jadi buat apa kita menunggunya di sini. Sebaiknya kita pulang saja dan biarkan Azkia di sini." Bu Nining mencoba bangkit dan ingin segera menyusul Dodi, pergi dari tempat itu dan meninggalkan Azkia sendirian.
"Ya Tuhan, Bu Nining. Jangan seperti itu! Walaupun benar Azkia bukanlah cucu Ibu, tidak sepatutnya kita meninggalkan bayi ini sendirian di sini. Bayi ini tidak berdosa, Bu. Yang salah itu Ibunya, bukan bayi ini. Setidaknya kita tetap di sini hingga Anissa datang," tutur Bu Ria.
"Terserah kamu saja, Bu Ria. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan anak penipu ini!" ucap Bu Nining dengan raut wajah kecewa. Bu Nining yang sudah terlanjur kecewa berat dengan kenyataan pahit tersebut, segera meninggalkan ruangan itu.
Namun, wanita paruh baya itu tidak peduli. Ia terus melangkah pergi dan berniat menyusul Dodi. Sementara Bu Ria masih terdiam di dalam ruangan itu sambil menatap sedih ke arah Azkia. Ia tampak ragu meninggalkan bayi mungil itu sendirian.
Tepat di saat itu, Perawat yang tadi menuntun Dodi melakukan cek, datang lagi ke ruangan bayi Azkia. Perawat itu heran ketika mendapati ruangan tersebut terlihat sepi. Hanya Bu Ria yang masih termangu di samping tempat tidur pasien.
"Bu, Neneknya bayi ini ke mana, ya?" tanya Perawat tersebut.
__ADS_1
"Neneknya sedang keluar dan sebelum keluarganya kembali, bayi ini adalah tanggung jawab saya," jawab Bu Ria mantap.
"Oh, baiklah. Sekarang saya ingin menanyakan soal donor darah untuk bayi ini? Bayi ini membutuhkan donor darah secepatnya, Bu. Karena golongan darah Pak Dodi tidak cocok untuk bayi ini, jadi saya sarankan untuk mencari pendonor lain," ucap Perawat itu.
"Ehm, Suster. Golongan darah saya O positif, bolehkah saya mendonorkan darah saya untuk bayi ini? Suster tidak usah khawatir, saya sehat dan tidak memiliki keluhan apapun," tutur Bu Ria.
"Tentu saja, Bu. Kenapa tidak. Kalau Ibu ingin menjadi pendonor untuk bayi Azkia, mari ikuti saya," ajak Perawat.
"Tapi, bagaimana dengan bayi ini? Masa dia ditinggal sendirian, Sus?" tanya Bu Ria yang tidak tega meninggalkan Azkia sendirian.
"Ibu tenang saja, nanti saya minta salah satu teman saya untuk menjaganya sementara Ibu tidak ada," jawab Perawat.
"Oh, baiklah kalau begitu."
Bu Ria pun terpaksa meninggalkan Azkia di ruangan itu dan mengikuti Perawat menuju ruangan di mana darahnya akan segera diambil kemudian diberikan untuk Azkia.
__ADS_1
...***...