
"Loh! Bukannya Arini sudah pulang? Tadi dia pamit loh sama saya, Bu Nining. Masa dia belum kembali?" tanya Bu Ria dengan alis yang saling bertaut.
Karena sibuk membereskan rumahnya yang masih berantakan, Bu Ria dan Hendra bahkan tidak menyadari adanya keributan di halaman depan Bu Nining barusan.
Bu Nining tertunduk lesu. Dia malu menceritakan masalah yang baru saja terjadi pada keluarganya. Sebuah aib besar yang tidak pantas untuk diceritakan kepada siapapun. Apa lagi saat ini Dodi dan Anissa masih berada di Kantor Polisi.
"Sebenarnya keluarga kami sedang dilanda masalah, Bu Ria. Arini pergi begitu saja, meninggalkan Azkia bersamaku. Sementara Dodi dan Anissa--" Bu Nining menghentikan ucapannya. Ia tidak ingin menceritakan lebih jauh lagi soal kejadian memalukan itu kepada Bu Ria.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Bu Nining? Dodi dan Anissa kenapa? Dan kenapa Arini bisa pergi dari rumah?" tanya Bu Ria. Namun, karena Bu Nining tampak enggan menceritakan soal itu kepadanya, Bu Ria pun tidak ingin memaksa wanita paruh baya tersebut untuk menceritakannya.
Hendra yang baru saja selesai dengan pekerjaannya, datang menghampiri Bu Ria dan Bu Nining yang masih mengobrol di ruang depan.
"Nak Hendra, bisakah kamu bantu Ibu? Tolong cariin Arini. Kasihan Azkia, dia sangat membutuhkan Arini," tutur Bu Nining kepada Hendra yang datang mendekat ke arahnya.
Hendra memperhatikan langit yang semakin menggelap dari balik kaca jendela rumahnya. Meskipun begitu ia tetap bersedia mencari keberadaan Arini saat ini.
"Baiklah, Bu Nining."
Tanpa berpikir panjang, Hendra pun bergegas mengambil kunci mobil kemudian segera melajukan benda tersebut menelusuri jalan di sekitaran komplek hingga ke depan jalan raya. Sementara Bu Nining dan Bu Ria menunggu di rumahnya dengan wajah cemas dan berdoa agar Hendra segera menemukan Arini.
__ADS_1
Setibanya di depan komplek, Hendra memperlambat laju mobilnya sambil memperhatikan sekeliling tempat itu. Ia melihat beberapa orang laki-laki sedang membersihkan sisa darah Arini yang membekas di aspal.
Tiba-tiba saja Hendra merasakan firasat buruk soal kejadian itu. Ia menepikan mobilnya kemudian mencoba bertanya kepada salah seorang Ibu-ibu yang masih berkumpul di pinggir jalan sambil memperbincangkan kecelakaan yang menimpa Arini barusan.
"Maaf, Bu. Ini ada kejadian apa, ya?" tanya Hendra.
"Barusan ada yang ketabrak mobil, Mas. Dan korbannya sudah dibawa ke Rumah Sakit sama yang menabrak," jawab wanita itu.
Deg! Entah kenapa ia merasa yakin bahwa yang tertabrak itu adalah Arini.
"Korbannya pria atau wanita, Bu? Dan bagaimana kondisinya, apa dia baik-baik saja?" tanya Hendra dengan wajah cemas.
"Wanita, Mas. Usianya mungkin sekitar 25 tahunan dan dia cantik. Sepertinya dia tinggal di komplek perumahan ini," sahut wanita itu sembari menunjuk ke arah komplek perumahan tersebut. "Dan soal kondisinya, saya tidak tahu pastinya. Yang pasti dia pingsan dan yang menabrak sudah bertanggung jawab dengan membawanya ke Rumah Sakit," lanjut wanita itu.
Hendra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menelusuri jalanan dan ia masih berharap bahwa korban kecelakaan yang terjadi barusan bukanlah Arini. Sementara itu hujan pun mulai turun. Dari yang hanya rintik-rintik, kini menjadi butiran-butiran besar.
Bukan hanya hujan yang turun dengan lebatnya, bahkan suara gemuruh yang memekakkan telinga itu terdengar saling bersahutan. Karena faktor cuaca yang sama sekali tidak mendukung, Hendra pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediamannya dan ia pulang dengan tangan kosong.
Setibanya di kediamannya, kedatangan lelaki itu segera di sambut oleh Bu Ria dengan beberapa pertanyaan. "Bagaimana, Nak? Apa kamu berhasil menemukan Arini?"
__ADS_1
Hendra menggelengkan kepalanya dengan wajah lemas. "Aku tidak menemukannya, Bu. Tapi ... barusan terjadi kecelakaan tepat di depan komplek. Dan entah kenapa aku merasa bahwa yang menjadi korbannya adalah Arini," tutur Hendra.
"Hush! Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Hendra!" kesal Bu Ria sambil melototkan matanya. "Sudah, sebaiknya kamu diam dulu dan jangan kasih tahu Bu Nining soal itu. Takutnya itu tidak benar," lanjut Bu Ria.
"Ya, Bu," jawab Hendra.
Sementara itu di Rumah Sakit.
Arini yang sudah mendapatkan penanganan dari tim medis pun, akhirnya mulai sadar. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu sambil memijit kepalanya yang masih terasa sakit.
"Daddy! Dia sudah sadar!" pekik wanita itu sembari berlari kecil menuju pintu ruangan, di mana suaminya memilih menunggu di luar. Lelaki itu segera bangkit kemudian menghampiri Sang Istri.
"Syukurlah," jawabnya.
Pasangan itu segera menghampiri Arini dan memperhatikan dirinya dengan seksama. "Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya wanita itu.
Arini tidak menjawab karena ia masih bingung dengan kondisinya saat ini. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi sebelumnya. Hingga akhirnya Arini ingat semuanya, mulai dari kejadian penangkapan Anissa hingga terbongkarnya pengkhianatan yang dilakukan oleh Dodi.
Tak terasa air mata Arini kembali jatuh dari sudut matanya. Ia terisak sambil sesekali menahan rasa sakit di tubuhnya akibat luka-luka yang kini menghiasi beberapa bagian tubuhnya.
__ADS_1
Pasangan suami-istri tersebut saling tatap dengan wajah heran. Mereka bingung kenapa Arini tiba-tiba saja menangis seperti itu.
...***...